In Memoriam Basyuni Suriamiharja: 28 Tahun Memimpin PGRI Demi Pendidikan & Nasib Guru

0
722
In Memoriam Basyuni Suriamiharja/Ist

JAKARTASATU.COM – H. BASYUNI Suriamiharja, nama yang melegenda. Pejuang dalam barisan guru, yang tak kenal lelah. Tokoh Jawa Barat kelahiran Tasikmalaya, 16 Juli 1929 itu telah tiada. Wafat dalam usia 90 tahun, pada 09 Desember pekan lalu. Dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Nama Basyuni identik dengan perjuangan guru dan organisasi profesi PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Maestro guru, maestro PGRI. Perhatian dan kepeduliannya itu, almarhum memimpin PGRI selama enam periode jabatan. Sebuah rekor Ketua Umum PGRI selama kurun 28 tahun (1970 – 1998) lewat kongres ke-12 hingga 17, sejak kelahirannya 1945 yang dipimpin Amin Singgih. Jabatan hampir tiga dasawarsa almarhum digantikan Prof. Dr. Moh. Surya pada kongres 1998 di Lembang.

Dalam periodisasi jabatan Ketua Umum PGRI, almarhum juga kental memperjuangkan nasib guru di parlemen. Sebagai anggota DPR RI dan MPR RI. Sederet bintang jasa dan penghargaan diterimanya dari pemerintah. Antara lain Bintang Gerilya, Jasa Pratama dan Jasa Angkatan ’45. Selanjutnya sejumlah Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, Aksi Militer II, Gerakan Aksi Militer (GOM) II, Bhakti GOM V, Penegak, dan Wirakarya. Juga Medali Perjuangan Angkatan ’45, Penghargaan DPR RI dan Lencana Melati (Gerakan Pramuka). Layak bagi almarhum, (kelak) beroleh gelar Pahlawan Nasional.

Catatan bersejarah yang dilakukan almarhum Ketua Umum PGRI. Adalah menyelamatkan PGRI dari ancaman pembubaran bagi organisasi serikat pekerja oleh pemerintah (orba). Lewat tangan dingin almarhum, PGRI merubah jati diri dari serikat pekerja menjadi organisasi profesi. Selanjutnya memberlakukan Kode Etik Guru dan lambang baru. PGRI sebagai organisasi profesi yang berkomitmen memajukan pendidikan bagi seluruh warga dan nasib guru.

Almarhum H. Basyuni Suriamiharja yang mengawali karier dari bawah sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) “Parki” Bandung (1952-1954) ini dalam kariernya kelak sebagai Ketum PGRI — pernah menghadiri konferensi guru di berbagai kota benua Eropa, Amerika, Asia, Afrika dan Australia. Selanjutnya ketua panpel (OC) Konferensi IFFTU Asia-Pasifik di Bandung 1972, Kongres Guru se-Dunia ke-27 di Jakarta 1978, dan Asean Council of Teacher (ACT) III di Jakarta serta ACT IX juga di Jakarta 1987 dan ACT XIII di Bali 1992. Tak pelak lagi, almarhum juga anggota pengurus eksekutif Persatuan Guru se-Dunia (WCOTP) 1978-1980.

Pernah bergiat di organisasi ekstra universitas, Daya Mahasiswa Sunda (Damas) 1957-1960 — almarhum menjabat Dewan Penyantun IKIP Bandung dan Jakarta (1970-1998), Dewan Penasihat Partai Golkar (sejak 1999), Ketua-I PB Paguyuban Pasundan (1965-1990) hingga anggota dewan pembina (1990-2000). Berikutnya antara lain anggota Dewan Pers (1983-1999), Manggala BP-7 (1984-1999), Badan Sensor Film (BSF) 1972-1979, Penasihat Ahli Menteri P&K (1970-1974), Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1989-1998) dan anggota DPR/MPR RI selama empat periode 1977-1992.

Sungguh besar jasamu bagi bangsa dan negara. Bagimu negeri jiwa raga almarhum H. Basyuni. Jasa seorang tokoh guru dan ayah tercinta dari sahabat kami, MQ Iswara — aktivis muda Jabar.  Selamat jalan, sang Legenda. |Imam Wahyudi