Jaksa Agung Pastikan Ada Korupsi di Jiwasraya

0
665
Jaksa Agung ST Burhanuddin menilai PT Jiwasraya telah melanggar prinsip kehati-hatian/IST

JAKARTASATU.COM – Setelah bola salju kasus Jiwasraya menggelinding kemana-mana, akhirnya Kejaksaan Agung (Kejagung) pun memastikan akan adanya praktik korupsi di perusahaan asuransi pelat merah tersebut. Bahkan dalam penyidikan awal yang dilakukan, kejaksaan sudah bisa menaksir angka kerugian negara pada kasus korupsi ini bisa mencapai sekitar Rp 13,7 triliun.

Jaksa Agung ST Burhanuddin menilai PT Jiwasraya telah melanggar prinsip kehati-hatian dalam hal berinvestasi. Pasalnya PT Jiwasraya sebenarnya telah menempatkan 95 persen dana di saham yang berkinerja buruk.

“Terkait tertuang dalam laporan hasil pemeriksaan dengan tujuan khusus atas asuransi bisnis, investasi, keuangan, dan biaya operasional. Hal ini terlihat pada persetujuan prinsip kehati-hatian dengan investasi yang dilakukan oleh PT Asuransi Jiwasraya yang telah melakukan investasi pada aset-aset dengan tingkat tinggi untuk tingkat tinggi atau tingkat tinggi antara lain yang pertama adalah sebesar 22,4 persen dari total Rp5,7 triliun dari aset finansial dan jumlah tersebut sebesar 5 persen saham yang berkinerja buruk, “ucap ST Burhanuddin saat jumpa pers di Kejagung, Jakarta Selatan, Rabu (18/12/2019).

Indikasi pelanggaran prinsip kehati-hatian tersebut bisa dilihat dari penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp 5,7 triliun dari aset finansial.

“Dari jumlah tersebut, 5 persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, dan sebanyak 95 persen dana ditempatkan di saham perusahaan yang berkinerja buruk,” ujar Burhanuddin di Gedung Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Ternyata dari penempatan 59,1 persen reksadana senilai Rp 14,9 triliun dari aset finansial, 98 persennya dikelola manajer investasi berkinerja buruk. Dus PT Asuransi Jiwasraya (Persero)  pun dinilai melanggar prinsip tata kelola yang baik dalam pengelolaan dana yang berhasil dihimpun melalui program asuransi, sehingga mengalami gagal bayar.

“Sebagai akibat transaksi tersebut, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sampai dengan Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp 13,7 triliun. Hal ini merupakan perkiraan awal. Jadi Rp 13,7 triliun hanya perkiraan awal dan diduga ini akan lebih dari itu,” ujarnya.

Ingin bergerak cepat untuk mengungkap kasus ini, Kejaksaan Agung telah membentuk tim berisi 16 jaksa dengan 12 anggota dan empat orang pimpinan tim, untuk menangani dugaan kasus tindak pidana korupsi dalam PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Sebagai kerja awal mereka telah memeriksa sebanyak 89 saksi telah diperiksa, meskipun belum ada yang ditetapkan tersangka dalam kasus ini. |WAW