CATATAN AKHIR TAHUN DUNIA MEDIA SOSIAL: Perusahaan Adi Kuasa di Dunia Maya, Berbahaya bagi Dunia Nyata

0
517
Presiden Joko Widodo dalam pertemuannya dengan Mark Zuckerberg, pendiri dan sekaligus CEO Facebook yang didampingi para eksekutif Facebook di Silicon Valley, San Fransisco, Rabu, 17 Februari 2016/IST

JAKARTASATU.COM – Saat ini harus diakui Facebook adalah jawara aplikasi sedunia. Pasalnya Facebook merupakan juara pertama sebagai aplikasi yang paling banyak di-download, baru kemudian diikuti Facebook Messenger ditempat kedua. Selanjutnya baru di posisi ketiga ada WhatsApp, dan kemudian diikuti dengan Instagram.

Lagi-lagi ranking keempat besar aplikasi yang paling banyak didownload tersebut semakin mengukuhkan supremasi Facebook. Bagaimana tidak, ternyata 4 besar aplikasi terpopuler ini pun semuanya juga merupakan milik Facebook. Instagram dibeli Facebook pada tahun 2012 senilai hanya USD 1 miliar, dan WhatsApp mereka caplok di 2014 senilai USD 19 miliar.

Karena dari keempat-empatnya yang merupakan jawara media sosial dengan total pengguna berjumlah milyaran tersebut kesemuanya merupakan milik satu perusahaan yaitu Facebook. Dus munculah wacana bahwa Facebook telah melakukan monopoli.

“Ini tidak oke,” komentar seorang peneliti senior Taha Yasseri dari Oxford Internet Institute. “Sebuah perusahaan memiliki empat media sosial dan aplikasi komunikasi yang paling populer, itu bisa disebut sebagai monopoli data,” simpulnya.

“Jika dikombinasi, data dari platform berbeda itu bisa berujung pada modelling kebiasaan dan karakter kita dengan level presisi tinggi. Jumlah besar kekuasaan semacam ini harus diregulasi,” tandasnya.

Sungguh berkat besarnya data para pengguna aplikasi yang dimiliki grup usahanya, Facebook teleh menjelma sebagai salah satu perusahaan adi kuasa yang berbahaya. Bukan hanya di dunia maya (internet) semata, tetapi juga pada dunia nyata.

Pasalnya, berbekal besarnya data-data yang dipunya tersebut, bisa digunakan untuk mempengaruhi kehidupan yang nyata. Apalagi tercatat Facebook telah beberapa kali mengalami kebocoran data.

Yang terbaru adalah kebocoran data 267 pengguna yang berisi user ID, nomor telepon, dan nama lengkap. Sebelumnya, pada April lalu, tim Risiko Siber UpGuard telah mengumumkan dalam sebuah unggahan blog akan adanya situs berita asal Mexico City, Cultura Colectiva, yang telah menggunakan beberapa server Amazon untuk secara terbuka menyimpan 540 juta data para pengguna Facebook, termasuk nomor identifikasi, komentar, reaksi, dan nama akun.

Selain itu juga ada database lain dari sebuah aplikasi bernama At the Pool, yang berisi nama, password, dan alamat email dari 22 ribu orang pengguna Facebook.

Pada Desember tahun lalu (2018) juga telah terjadi hal serupa, yaitu bocornya foto-foto pengguna facebook. Terkait kebocoran ini, Facebook mengumumkan bahwa situsnya telah terkena bug yang membuat foto 6,8 juta pengguna bocor kepada pihak ketiga.

Dan yang paling mengejutkan adalah pengakuan Facebook beberapa waktu lalu bahwa data personal dari 87 juta penggunanya bocor. Bukan hanya kebocoran biasa, tetapi juga telah disalahgunakan oleh pihak ketiga yaitu perusahaan riset bernama Cambridge Analytica yang digunakan untuk membantu kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Kenyataan bahwa akhirnya Donald Trump berhasil memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat tersebut merupakan bukti kuat bahwa kekuatan Facebook di dunia maya, bisa memiliki dampak yang berbahaya bagi dunia nyata. Semoga saja Pilpres Indonesia 2014 dan 2019 kemarin bukan salah satunya. |WAW.