Cara Sains Islam Mengatasi Banjir

0
1249
ilustrasi

Oleh: Dr. Adian Husaini

Pakar filsafat Islam, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas memberikan perhatian khusus terhadap kitab akidah Islam tertua yang beredar di wilayah Melayu-Nusantara, yaitu kitab Aqa’id al-Nasafiah.

Tahun 1988, Prof. al-Attas menerbitkan salah satu karya monumentalnya: The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqaid of al-Nasafi (Kuala Lumpur: University Malaya, 1988).

Dalam bagian awal kitabnya, Imam al-Nasafi mengungkapkan tiga sebab manusia meraih ilmu, yaitu melalui (1) panca indera, (2) akal dan (3) khabar shadiq (true report). Konsep epistemologi al-Nasafi ini sangatlah penting untuk dipahami para pengkaji ilmu, khususnya para akademisi, dan juga setiap muslim.

Melalui epistemologi al-Nasafi itu, Islam memiliki cara pandang keilmuan yang integral dan tauhidik. Setiap fenomena alam dipandang secara integral dari ketiga sumber ilmu tersebut. Itu bedanya dengan sains sekuler, yang bersifat parsial dalam memandang fenomena alam; berhenti pada aspek inderawi dan aqli.

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada Rabu (1/1/2020), memunculkan berbagai komentar, analisis, dan pertanyaan. Dari sudut pandang sains sekuler, banjir dilihat semata-mata sebagai fenomena alam; dihilangkan aspek ilahiyah dan ukhrawiyah. Dikatakan, bahwa banjir terjadi karena curah hujan ekstrim lebatnya, sungai dangkal dan sempit, sampah bertumpuk, dan resapan kurang.

Itulah cara pandang sains sekuler, yang hanya berhenti pada ilmu empiris dan rasional. Maka, solusi sains sekuler terhadap masalah banjir, pun berhenti kepada kedua jenis ilmu itu: empiris dan rasional. Aspek Ilahiyah dan ukhrawiyah ditiadakan dalam cara pandang dan solusi terhadap masalah banjir.

Padahal, dalam pandangan sains Islam, awan yang datang ke wilayah Jakarta dan sekitarnya – lalu mengucurkan hujan hebat – tidak memiliki kehendak (irodah) sendiri. Awan itu datang karena diperintah Allah SWT. Awan tidak datang atas kehendaknya sendiri, iseng-iseng mengguyuri wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Allah SWT mengutus awan itu mengguyurkan hujan tentu dengan tujuan tertentu. Entah apa itu pastinya, manusia hanya menerka-nerka. Mungkin Allah menurunkan banjir untuk menguji orang beriman; atau memberi peringatan; atau menurunkan bencana. Wallahu A’lam. Itu rahasia Allah.

Yang penting adalah dampak peristiwa itu pada manusia! Bagi muslim, setiap musibah – apa pun bentuknya – harus berdampak pada peningkatan iman dan taqwa. Harta benda yang rusak akan kecil nilainya dibandingkan dengan peningkatan kualitas iman-taqwa pemiliknya.

Jadi, sains Islam bukan sekedar fakta tentang fenomena alam. Tetapi, bagaimana manusia memandang dan merumuskan gejala-gejala alam, dengan pandangan alam Islam (Islamic Worldview).

Maka, solusi banjir dalam perspektif sains Islam adalah dengan konsep keilmuan yang integral dan tauhidik pula. Dengan sains Islam, pemimpin nasional atau pemimpin daerah akan berusaha mengatasi banjir secara integral. Ia akan mengajak rakyatnya untuk berhenti buang sampah sembarangan, mengeduk dan memperlebar sungai, membuat banyak resapan, dan sebagainya.

Tapi, yang terpenting, pemimpin itu juga mengingatkan rakyatnya agar melakukan introspeksi diri, agar semakin mendekatkan diri kepada Allah. Jauhilah maksiyat dan kemunkaran! Hentikan kemusyrikan! Sebab, ilmu wahyu menyatakan, Allah murka jika kemunkaran dibiarkan merajalela.

Itulah solusi sains Islam terhadap masalah banjir, yang bersifat integral dan tauhidik; bukan bersifat parsial dan sekuler. Tidak benar juga, jika seorang pimpinan daerah hanya mengajak rakyatnya untuk banyak berzikir dalam mengatasi banjir, tanpa melakukan tindakan rasional dan empiris, seperti memperbaiki sungai, membuat resapan, dan sebagainya.

***

Konsep sains yang integral dan tauhidik dalam Islam ini pernah saya sampaikan dalam acara ‘The Second Islamic Psychology Convention’ di UGM Yogyakarta, 24 November 2018. Konsep ini sangat penting, sebab di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi masih ada pelajaran yang memisahkan agama dan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, dalam buku Pelajaran Sejarah Indonesia untuk SMA/MA kelas X, tentang asal-usul manusia Indonesia disebutkan: “Manusia sekarang adalah bentuk sempurna dari sisa-sisa kehidupan purbakala yang berkembang dari jenis hominid, bangsa kera.”

Lalu, dijelaskan: “Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental (soal rasa, soal hati), sedangkan sains berada dalam tingkat faktual (soal pembuktian empiris). Dengan kata lain, agama dan sains memiliki otonomi masing-masing. Itu tidak berarti keyakinan keagamaan tidak rasional. Perasaan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu tetap dapat dijelaskan secara rasional. Singkatnya, agama dan sains (ilmu pengetahuan) tidak perlu dicampuradukkan.” (hlm. 81).

Konsep sains sekuler dan parsial itu berbeda dengan konsep ilmu dalam Islam yang bersifat integral dan tauhidik – memadukan tiga sumber ilmu tersebut. Dalam pelaksanaan ibadah Puasa Ramadhan, misalnya, tiga sebab ilmu tersebut pun digunakan. Dalam penentuan kewajiban dan tata cara puasa, digunakan sebab ilmu dari wahyu. Sedangkan dalam penentuan awal Ramadhan, saat berbuka puasa, dan penentuan makanan halal, digunakan ilmu yang rasional dan empiris.

Jadi, ketiga sebab ilmu (panca indera, akal, dan wahyu), perlu dipadukan secara proporsional (beradab). Misalnya, ilmu-ilmu wahyu yang bersifat pasti (qath’iy), tidak bisa dikalahkan dengan ilmu empiris yang sifatnya tidak pasti atau relatif (dhanniy), apalagi yang bersifat bathil.

Misalnya, zina hukumnya pasti haram. Mendekati zina pun dilarang. Lalu, mucullah sebuah survei, bahwa ternyata mahasiswa yang berprestasi akademik tinggi adalah yang rajin pacaran. Ini fakta. Maka, fakta empiris ini tidak boleh mengalahkan ilmu wahyu yang bersifat pasti.

Itulah sains Islam yang berbeda dengan sains sekuler. Tujuan pendidikan nasional menurut UUD 1945 pasal 31 (3) adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Tujuan itu hanya bisa tercapai, jika corak sains yang diajarkan adalah sains Islam, bukan sains sekuler. Wallahu A’lam bish-shawab.

(Depok, 2 Desember 2019).

sumber: (www.adianhusaini.net)