Agus Lennon (20 Agustus 1960-10 Januari 2020): AGUS JAGO MEMASAK RAWON, SOP, DAN UDANG ALA IBUNYA

0
913
Agus Lenon (plontos) bersama teman-temannya/IST

Catatan OLEH: Jonminofri Nazir

Agus Edy Santoso nama aslinya. Tapi dia lebih dikenal sebagai Agus Lennon. Nama Agus Lennon yang “dikutip” dari nama John Lennon itu lebih lengket di ingatan saya dibandingkan nama asli Agus. Sebenarnya Agus “mengutip” gaya John Lennon berkacamata. Lalu teman-teman yang memanggilnya “ Agus Lennon” karena kaca matanya mirip.

Saya perhatikan, Agus sendiri tidak pernah mengenalkan dirinya sebagai Agus Lennon. Dia hanya menyebutkan nama “Agus” jika berkenalan dengan orang. Tetapi di akan menuliskan nama Agus Edy Santoso jika menulis.

Agus adalah orang Madura. Tapi, dia tidak pernah “mengeluarkan” medog Madura jika bicara Bicaranya tidak seperti orang Madura. Tidak seperti Menhakam Machfud MD, yang kelihatan Maduranya dari suaranya.

Namun, Agus sangat tangguh seperti orang Madura lainnya. Ia pernah bercerita tentang masa-masa muda, ketika ia mulai kuliah di Yogyakarta. Agus harus mencari uang untuk membayar uang kuliah, dan untuk makan sehari-hari. Ia menawarkan buku ensklopedia yang berjilid-jilid itu ke mana-mana, sampai ke luar kota Yogyakarta. Agus menjajakan buku itu kadang-kadang harus berjalan kaki, dan membuat bajunya basah oleh keringat. Karena itu, jika masuk ke ruang kuliah dia sering mengambil kursi paling belakang karena penampilannya seperti tukang becak baru menarik beca di tengah panas. Hitam dan penuh keringat.

Agus sudah senang jika dia bisa menjual satu paket saja buku tebal-tebal itu. Sebab, keuntungan yang diperolehnya cukup untuk membiayai hidupnya beberapa bulan di Yogya. Kepada orang yang membeli buku mahal itu, Agus juga meminta beberapa nama lain yang berpotensi untuk membeli ensklopedia. Kelak, nama itu akan dihubungi Agus apabila persediaan uangnya tipis.

Kita bisa melihat masa muda Agus ini: dia tangguh, ulet, dan panjang akal untuk mencari uang. Dari jualan ensklopedia ini juga terlihat kemampuan Agus membuat jaringan pertemenan.

Agus pindah ke Jakarta, di awal tahun 80an. Saya tidak tahu persis, tapi Agus mulai datang ke diskusi Kelompok Studi Proklamasi di rumah Pak Djohan Effendi. Itu terjadi tahun 1983 atau tahun 1984. Di sini saya mengenal Agus. Beberapa teman mencurigai Agus sebagai intel karena dia sering tidak muncul dan ketika itu teman-teman tidak banyak yang mengenal Agus.

Agus pernah bercerita bahwa dia datang ke KSP awalnya bukan untuk berdiskusi saja. Tapi sekaligus untuk mencari makan gratis.

Kata Agus, dia ingin kuliah di STF Driyarkara. Lalu, dia numpang tinggal seminggu di kantor PB HMI di Jalan Diponegro 16, Jakarta Pusat. Selam sepekan itu Agus akan mencari kos di sekitar kampus STF yang sebenarnya dia belum tahu juga lokasinya.

Pada masa itu, di PB HMI sedang heboh tentang keharusan azas tunggal Pancasila, termasuk untuk HMI. Heboh-heboh itu membuat kantor HMI tidak ada listrik dan tidak logistik kering. Kompor juga mati. Akibatnya Agus dan teman-teman sering melewati hari tanpa makan pada masa itu. Itu terjadi berhari-hari.

Suatu pagi , “Saya pagi-pagi melihat Sekjend PB HMI Alex Tofani dari UNSU mengunyah-nguyah,” kata Agus. Agus ingin tahu Alex makan apa di saat kesusahan tersebut. Ternyata Alex makan beras mentah. Dari peristiwa itu, Agus belajar makan beras mentah juga. “lama-lama terbiasa,” Agus mengenang peristiwa itu sambil ketawa-tawa seperti biasa Agus bercerita apa pun, yang lselu diimbuhi dengan tawa dan senyum.

Seorang teman Agus yang mengetahui kondisi Agus seperti itu menyarankan dia pergi ke rumah Pak Djohan Effendi di Jalan Proklamasi, tidak jauh dari kator PB HMI.

Lalu Agus memberanikan diri mampir ke rumah Pak Djohan. Agus tidak akan pulang sebelum ditawarin makan oleh Pak Djohan. Lama-lama, karena sering datang ke rumah Pak Djohan, Agus berani bilang kepada Bu Djohan dia mau makan begitu baru datang.

Suatu saat Pak Djohan meminta Agus untuk datang setiap hari Minggu karena ada diskusi di rumahnya. Sejak saat itu, Agus sering datang ke KSP.

Setelah selesai kuliah, saya tidak sering bertemu Agus dan kawan-kawan Proklamasi lagi.

Saya baru bertemu lagi dengan Agus dan teman-teman lama aktivis sekitar tahun 2010 karena saya sudah meningalkan dunia bekerja yang rutin.

Di masa ini saya banyak berbicara dengan mendalam dengan Agus. Jadi saya lebih mengenal Agus sebagai kawan, pria, pebinis, dan lainnya. Termasuk hal-hal yang sangat lucu.

Kesan saya yang mendalam adalah Agus mempunyai jaringan pertemanan yang amat luas. Mulai dari pejabat, aktivisi, ilmuwan, orang kecil, orang besar banyak yang dikenal Agus dengan baik. Mereka juga mengenal Agus. Saya kira, orang tekesan pada Agus, seperti saya, karena dia tidak pernah menempatkan dirinya berada di ujung yang ekstrim. Dia telihat mudah menerima perbedaan. Juga tidak ngotot pada pendapatnya sendiri. Dan yang paling penting adalah Agus tidak tidak pernah terdengar mengecam orang.

Tetapi ada tiga hal yang melekat pada Agus dan susah hilang.

Pertama, siapa pun yang menjadi presiden di Indonesia, Agus akan pasang jarak. Dia akan mengkritik kebijakan presiden itu. Mungkin hal ini didasari pada karakter Agus yang dekat dengan orang kecil, dan ingin melihat wong cilik ini cepat makmur di Indonesia. Yang terjadi, wong cilik tidak pernah habis di Indonesia. Jadi, Agus selalu mengkritik kebijakan presiden. Karena presiden tidak cepat membawa kesejahteraan dan penegakan hukum di Indonesia. Jadi, sejatinya, Agus ingin cepat-cepat melihat tanah airnya ini maju. Dan, belum ada satu presiden di Indonesia yang mampu membawa Indonesia menjadi negara yang sering dibayangkan oleh Agus.

Kedua, Agus sangat meperhatikan orang kecil, minoritas, dan orang tertindas. Suatu hari Agus bercerita kepada saya bahwa dia ingin membawa sejumlah orang buta pantai. Pantai paling dekat adalah Ancol. Dia ingin memberikan pengalaman keapda sejumlah orang buta itu bagaimana berada di pantai: merasakan pasir pantai, merasakan air laut mengenai kaki dan tangan, dan mendegar suara air laut. Ini adalah keinginan Agus yang jarang terlintas di benak banyak orang, terutama saya. Akhairnya, Agus sukses membawa beberapa orang buta pantai. “Mereka senang sekali,” kata Agus.

Ketiga, menurut saya Agus sebenarnya adalah pedagang tangguh seperti halnya orang Madura. Tiga bulan lalu Agus sempat bercerita pada saya bahwa dia akan mendapat uang banyak dari menjual besi bekas (scrab). Tentu saja yang dilakukan Agus adalah menghubungkan pemilik besi dengan calon pembeli. Tapi, sampai di meninggal bisnis yang bakal mendatangkan untung besar ini belum terjadi. Nah, menurut Agus, dia sering mendapat uang besar dari kemapuannya mencarikan ornag yang berminat pada barang yang akan dijual temannya: biasanya rumah atau tanah. Dari keuntungan berjualan itu Agus memiliki rumah besar yang ditempatinya sekarang, dan dijadikan cafe. Juga mesin espresso –yang berharga sampai dua ratus atau tiga ratus juga rupiah– yang dimilikinya berasal dari komisi dari penjualan tanah.

Terakhir, yang mengagumkan dari Agus adalah kejujuran.

Contoh terakhir yang saya dengar dari Agus adalah: pada suatu hari dia akan ke kantor Lazismu. “Ingin menyerahkan ini,” katanya sambil meprlihatkan tas kepada saya. Saya tidak tahu apa isinya. “Saya mendapatkan souvenir ini karena peran saya sebagai Lazizmu karena itu barang ini menjadi hal lazismu,” katanya.

Barangkali karena kejujuran dan integritas Agus ini dia ditunjuk sebagai bendahara Lazismu, dan menjadi salah satu dari dua orang yang berhak menandatangani cek yang diterbitkan oleh Lazismu.

Selamat jalan Agus Lennon.

Sebenarnya saya masih ingin mencicipi udang goreng yang kamu janjikan tempo hari. Tapi Kamu keburu pergi. Saya bersaksi masakanmu: rawon dan ikan kuah bening dengan bumbu dan cara mengolah yang kamu pelajari dari ibumu, sungguh enak luar biasa.