Pentahelix dalam Penanggulangan Bencana di Indonesia

0
1078

JAKARTASATU.COM – Institut Teknologi Bandung yang didukung Universitas Hudderfields Inggris melakukan kegiatan the 9th International Conference on Building Resilience dan 4th ITB Centennial International Conference on Disaster Management, 13 – 15 Januari 2020 di Nusa Dua, Bali.

Dalam kegiatan tersebut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyampaikan gagasan mengenai kebencanaan dan pentahelix dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Menurutnya, bencana selalu beririsan dengan setiap individu. Oleh karena itu, Doni menegaskan bahwa bencana menjadi urusan bersama.

“Semua pihak wajib memiliki kesadaran kolektif akan kepedulian terhadap bencana,” kata Doni seperti yang dilansir Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB.

Doni  memaknai pentahelix sebagai kerangka kerja dalam berkegiatan dan berkarya agar lebih maksimal, khususnya dalam konteks penanggulangan bencana di Indonesia. Pentahelix di sini adalah pihak atau helix yang memiliki peran, kepentingan maupun karakternya. Mereka terdiri dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi atau pakar dan media massa.

“Pencegahan dan penanganan bencana alam, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini, pentahelix adalah sebuah jawaban. Tinggal disesuaikan jurus pentahelix prabencana, tanggap darurat dan pascabencana. Sebab karakter masalahnya berbeda beda dan juga memperhatikan aspek lokal,“ jelas Doni.

Tegas Doni, nilai sinergitas dan gotong-royong merupakan nilai yang patut dijunjung tinggi di bumi nusantara. Hal tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana. Nilai sinergitas bermakna bahwa penanggulangan bencana di Indonesia dapat berlangsung efektif. Sedangkan gotong-royong, Doni menyampaikan melalui pentahelix, nilai tersebut harus diupayakan berbagai pihak sesuai dengan fungsi dan kapasitasnya. Menurut Doni, nilai gotong-royong adalah murni jati diri bangsa Indonesia.

“Saya percaya jika itu (gotong-royong) jiwa maka tidak akan pernah luntur. Kita hanya perlu mengasah,” ungkap Doni.

Doni juga menyampaikan bahwa salah satu helix yang berperan strategis dalam penanggulangan bencana yaitu akademisi atau pakar. Mereka berperan melakukan kajian saintifik atau pun rekomendasi dalam pengurangan risiko bencana.

“Belajar dari banyak peristiwa bencana, akademisi dan pakar yang tergabung di perguruan tinggi yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) turut mendukung upaya-upaya pengurangan risiko bencana,” harap Doni.*lHER-JAKSAT