MENANG PERANG

0
116

Oleh  Brigjen TNI (Purn), Drs. Aziz Ahmadi, M.Sc

Jagat politik nasional. Tiba-tiba, hingar-bingar. Panas-dingin. Penuh narasi. “Perang atau damai/diplomasi”. Penyulutnya, cêtho wélo-wélo. Klaim sekaligus provokasi Cina, di perairan Natuna/Laut Cina Selatan.

Si Naga, kopèt. Mengibaskan ekornya. Mengejek dan menantang perang, Sang Garuda. Tokekpun, nimbrung bersuara. Perang – damai ; perang – damai ; perrrrrr … ang …

Sepihak

Klaim Cina, tak berdasar. Melanggar keputusan konvensi PBB, tentang Hukum Laut Internasional. Padahal, Cina sendiri terlibat aktif di dalamnya. Ironis memang.

Negeri Tirai Bambu memaksanakan kehendak. Keputusan sepihak, menuruti selera sendiri. Mengkhianati diri sendiri.

Sembilan garis putus-putus – nine dash line, dasarnya. Inilah garis (batas laut), yang dibuat sendiri oleh Cina. Dijadikan alasan pembenar, untuk mencari gara-gara. Menantang konflik dan perang, dengan negara tetangga.

Wilayah yang dicaplok Cina dengan nine dash line, melingkupi laut Kepulauan Paracel, Kepulauan Spratly dan Kepulauan Natuna.

Di Kepulauan Paracel, Cina berkonflik dengan Vietnam dan Taiwan. Di Kepulauan Spratly, bersitegang dengan Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Brunai Darussalam. Saat ini, di wilayah laut Natuna Utara. Cina berhadapan dengan Indonesia.

Padahal, wilayah yang diklaim Cina, adalah bagian dari kedaulatan NKRI. Clear, legal dan final. Berdasarkan, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tentang Hukum Laut.
United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Pada UNCLOS III – yang berlangsung sejak tahun 1973 hingga 1982. Cina, menjadi bagian/anggota konvensi. Turut serta secara aktif di dalamnya. Membahas, memutuskan dan menyetujuinya.

Keputusan lainnya, sepakat mengganti perjanjian internasional mengenai laut, tahun 1958. Di sini juga mendefinisikan, “hak dan tanggung jawab negara, dalam penggunaan lautan di dunia, serta menetapkan pedoman, untuk bisnis, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam laut”.

Sejak tahun 2014 – menindaklanjuti ratifikasi UNCLOS – Indonesia memiliki
Undang-Undang (UU), Nomor 32, Tahun 2014, tentang Kelautan. Disahkan pada 17 Oktober 2014. Tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, nomor 294, dan Tambahan Lembaran Negara, Nomor 5603.

Sumber ESDM

Seperti telah diprediksi jauh sebelumnya. Ulah Cina di kawasan Natuna Complexs, mengonfirmasinya. Kini, kawasan Natuna, menjadi sumber konflik baru yang riil. Setiap saat, potensial menimbulkan ganggu-gusar. Mengundang kerawanan, terhadap upaya mewujudkan perdamaian dan keamanan, di kawasan.

Daya tarik perairan Natuna, bukan sekedar ambisi teritorial, dari suatu negara. Tapi lebih karena potensi kekayaan dan kandungan alamnya. Diprediksi, menjadi salah satu deposit kehidupan, di masa depan.

Adalah keniscayaan. Seiring dengan hajat menjamin kelangsungan hidup (eksistensi), setiap bangsa. Ya, saat ini, terlebih di masa-masa yang akan datang.

Kini, tiba saatnya. Setiap negara, melakukan perburuan global. Satu yang dicari. Energi dan sumber daya mineral (ESDM), baru.

Semua bangsa berhitung. Bagaimana, menemukan? Bagaimana, mendapatkan? Bagaimana, mempertahankan dan mengamankannya?

Demi ESDM pula, segala cara dihalalkan. Bila perlu, jalan perang, sekalipun. Tega, jeda dan cuti dari damai. Korbankan persahabatan. Rela hidup bertetangga, tanpa rasa aman.

Maju Tak Gentar

Puji syukur mesti dilantunkan. Respons pemerintah atas ulah Cina ini, amat tepat.

Presiden Joko Widodo, menegaskan. “Tak akan berkompromi soal hak berdaulat Indonesia di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Natuna Utara”.

Menlu Retno LP Marsoedi, lebih kenceng lagi. Mbegegek ngutho waton.Kêkêh, kukuh dan kokoh. Tegas, teguh dan tegar. Penuh jiwa, semangat dan nilai-nilai juang (JSN) 1945. Pantang menyerah. “Tidak ada ruang negosiasi lagi”, katanya.

Sikap tegas itu, tentu maknanya tunggal. Maju tak gentar. Lu jual gue beli. Dadagi kanthi pecahing dhodho, wutahing ludiro. Siapa takuuuut … Perangpun jadi …

Sementara publik, juga serujuk sikap tegas itu. Siap berjihad. Hubbul wathon minal iman. Bergegas menyahuti, untuk menunaikan hak bela negara. Sebuah hak, yang bermakna kehormatan paling suci, luhur dan mulia, bagi setiap warga negara.

Satu bukti, akan padunya semangat/tekad. Padunya, antara penguasa dengan rakyat. Atasan dengan bawahan. Maknanya, sinyal positip luar biasa. Menguatkan moril – menggandakan kemampuan. Menerjang terjang, merebut sasaran.

Sun Tzu – dalam Bukunya, Art Of War – Seni Berperang – menulis. “Kemanunggalan atau kesamaan keinginan/hasrat, antara penguasa dengan rakyat, antara atasan dengan bawahan, adalah kemenangan”.

Hanya saja – maaf – yang satu ini belum ada surveinya. Bagaimana, media massa? Televisi, radio dan surat kabar? Apakah – secara massif – sudah ambil bagian? Menggelorakan semangat 45? Menggemakan lagu-lagu perjuangan? Maju Tak Gentar, Halo-halo Bandung, Padamu Negeri, Butet, Caping Gunung, dan lain-lain.

Diplomasi Si Vis Pacem

Carl Von Clausewitz, dalam Bukunya, On War – Tentang Perang – menulis. “Perang, adalah kelanjutan dari politik”. Atau, “Perang, adalah kebijakan (politik), dengan cara atau dalam bentuk lain”.

Itu berarti, (keputusan) tentang perang, sama penting dan populernya, dengan (keputusan), diplomasi, damai, ekonomi, sosial budaya, serta lain-lainnya.

Entah, apa yang merasukimu, Cina? Hingga kau begitu gegabah, berdiplomasi dengan bentuk dan cara yang lain, itu? Kenapa, melakukan provokasi untuk perang melawan Natuna?

Sesungguhnya, inti pertanyaannya bukan itu. Tapi, “akankah Indonesia dan Cina bakal terjebak, pada adagium, _”si vis pacem para bellum”? Berkecamuk dalam pertempuran?

Jika konflik ini – juga yang lain – tidak dikelola dengan baik, segalanya bisa terjadi. Indonesia dan Cina, sangat mungkin terjerumus ke dalam simalakama, ini.

Sikap bangsa Indonesia, sudah jelas. Baik dari amanat konstitusi, maupun dari falsafah dan doktrin perangnya. “Indonesia, cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatan. Perang, adalah jalan terakhir, yang amat terpaksa dilakukan.

Dalam konteks spirit moralitas dan konstitusional, tentu Indonesia lebih memilih, si vis pacem. Damba dan berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian abadi, antar bangsa, di muka bumi. Hidup rukun berdampingan. Tanpa konflik dan kekerasan.

Tentu, para bellum, tidak diabaikan. Secara kenyal, terus diperkuat semaksimal mungkin. Dikembangkan sedemikian rupa. Untuk apa? Diabdikan demi menjaga aset/kekayaan negara. Melindungi kemerdekan dan kedaulatan bangsa. Melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

Akan tetapi, sekali lagi akan tetapi. Bagi Cina mungkin lain lagi. Mungkin, justru sebaliknya. Cina lagi bernafsu unjuk gigi, lalu sengaja membaliknya. Si vis pacem para bellum, dibalik menjadi, si vis bellum para pacem. “Siapa yang mendambakan perang, dialah yang sejatinya siap/cinta damai”.
Haaaah ….

Dalil – si vis pacem para bellum – memang simalakama. Masing-masing – damai dan konflik/perang – sama-sama menghadirkan struktur resiko, yang tak berujung. Saling berkait & berkelindan. Membentuk lingkaran setan.

Juga, misterius. Pasalnya, tidak jelas siapa yang pertama menemukan? Namun, banyak yang meyakini. Peribahasa, si vis pacem para bellum, dikutip dari penulis militer Romawi. Adalah, Publius Flavius Vegetius Renatus, yang menulis. “Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum”.

Perang & Tempur

Perang, disebut juga, war. Bersifat totalitas. Sejak tahap perencanaan, kampanye militer dan dinamika operasi (tempur). Hingga tahap konsolidasi atau pengakhiran.

Sedangkan tempur, atau pertempuran, disebut juga dengan, battle. Inti atau bagian utama dan terpenting, dari “Perang”.

Tempur/Pertempuran, merupakan perjumpaan fisik, dua fihak yang berseteru. Secara frontal, sesuai taktik dan strategi.

Pertempuran, bisa dalam hubungan perorangan. Tapi juga, secara konvensional, dalam hubungan satuan/pasukan. Regu, Peleton, Kompi, Batalyon, Brigade dan Divisi.

Daya Tempur Relatif

Dalam Perang, dikenal istilah, perbandingan daya tempur relatif.

Asassement, atau otak-atik tehnis, taktis dan strategis, untuk mengetahui kekuatan dan kemampuan lawan. Dihadapkan pada kekuatan dan kemampuan sendiri.

Sun Tzu – memberi wasiat bernas. “Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri. Maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran, tanpa resiko kalah. Kenali Bumi, kenali Langit, maka kemenanganmu, menjadi lengkap/sempurna”.

Dari analisis itu dapat ditentukan, bagamana susunan bertempur, serta taktik dan strategi, yang akan digunakan? Paling utama adalah, bagaimana mengetahui secara meyakinkan. Sejauh mana, tebal/kuat dan tipis/lemahnya, hasrat/niat bertempur dari musuh?

Ingat dan catat. Level, kadar dan derajat niat, (berperang/bertempur), menentukan 50% kemenangan. Sisanya, kemenangan ditentukan oleh, perencanaan perang atau konsep operasi, yang cerdas, komprehensip dan berwawasan.

Sama sekali jangan diabaikan. Faktor kepemimpinan. Politik atau militer, yang berintegritas, berkomitmen, konsisten dan visioner.

Perhatikan nasehat, Sun Tzu. “Sang Jenderal (Panglima, Komandan, Perwira) yang mampu, dan sang Raja(Presiden, Menteri Pertahanan), yang tidak campur tangan, adalah kemenangan”.

Sementara Jenderal Besar AH. Nasution, mengatakan. “Jenderal sejati, adalah dia yang mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, di saat kritis/darurat”.

Amat Njomplang

Dalam konteks provokasi Cina di laut Natuna Utara, perbandingan daya tempur relatif kedua belah pihak – RI versus Cina – amat njomplang.

Statistik menunjukkan. Kekuatan militer Cina, berada di urutan nomor 2 dunia, setelah Amerika Serikat (AS). Atau, nomor 3, setelah AS dan Rusia. Sementara Indonesia, berada pada posisi ke 37, dunia.

Jika dikonfigurasikan, kurang-lebih seperti ini :

Pertama. Kekuatan Militer.

Baik kualitas, kuantitas dan kapasitas Alat Utama Sistem Persentaan (Alutsista), maupun jumlah personil militernya – secara relatif – “Indonesia kalah jauh”, dibanding Cina.

Jika boleh diutarakan, indikasi lain tentang kisah “kalah” itu, sebagai berikut :

(1) Pernyataan Jenderal TNI Prabowo Subianto (PS). Capres 2019, nomor urut 02. Pada debat Capres, putaran pertama, sesi keempat, tentang Pertahanan Negara.

PS, berujar. “Pertahanan kita masih lemah. Pertahanan kita harus kuat. Militer/TNI harus kuat. Bukan untuk invasi atau perang. Tapi untuk melindungi kekayaan negara dan kedaulatan bangsa”.

Saat itu, PS – sekarang menjabat Menteri Pertahanan (Menhan), tidak ketinggalan menyitir “mantra dilematis”, “si vis pacem para bellum”.

(2) Pernyataan (mantan) Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantio.

Jenderal Gatot berkata. “Jika dihadapkan pada perang, (Alutsista) kita, hanya mampu bertahan selama tiga hari”.

Dari data di atas, apa yang mesti dikatakan?Logika lurusnya, hanya menyediakan satu jawaban yang amat jujur. “TNI/Indonesia pasti kalah,” dalam pertempuran melawan Cina.

Kedua. Kekuatan non-militer/non Teknis.

Kemenangan perang/tempur, tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis kemiliteran. Atau, Alutsista dan jumlah personil militer, semata.

Keberhasilan perang/tempur, juga ditentukan oleh nilai-nilai yang bersifat, non tehnis. Nilai-nilai psikhologis-spiritual.

Di sini berhitung, tentang empat faktor atau nilai utama nan mulia. Kepemimpinan, militansi,(termasuk spirit, kejuangan dan dedikasi), serta disiplin dan loyalitas.

Indonesia Menang

Pengalaman membuktikan. Perjuangan fisik menegakkan kemerdekaan, menjadi monumen kemenangan abadi. Kemenangan maha dahsyat dan legendaris, bagi NKRI.

Sejarah mencatat. Pada hakekatnya, keempat nilai spiritual tersebut, menjadi kunci penentu yang sesungguhnya, dari setiap kemenangan. Dalam setiap episoda dan palagan perang/pertempuran, yang dilakoni Indonesia.

Nilai-nilai spiritual itulah, “batu bangun” dalam merancang kualitas militer Indonesia. Menjadi, “fondasi tradisi pembinaan”, secara turun-temurun. Dari generasi ke generasi. Dari masa ke masa.

Namun demikian, keburu nafsu tidak ada manfaatnya. Sabar sedikit, ya bro … Sebab, perang itu, tidak/belum tentu terjadi. Setidaknya, fainsyaalloh, dalam waktu dekat ini.

Sesuai khitthah NKRI. Diplomasi, akan digeber habis-habisan. Bukan diplomasi sempit, tentang UNCLOS. Tapi diplomasi besar, tentang “persahabatan dan perdamaian”. Diplomasi untuk mengurangi – dan jika mungkin meniadakan sama sekali – “niat/hasrat berperang” – dari pihak Cina.

Dari kacamata intelijen (strategis), memang belum tentu segaris atau linear. Apa yang tampak dan ada di permukaan, belum tentu terhubung, dengan apa yang tidak tampak atau ada di balik layar.

Bukan sesuatu yang mustahil. Cina, sekedar bermain api dengan menerobos masalah amat sensitip itu. Natuna Complex. Sekedar, iseng-iseng berhadiah.

Siapa tahu, Indonesia terpancing. Byar … ambyar … Siapa tahu, Cina hanya belanja masalah, untuk pemanasan. Atau, test case, guna mengetahui reaksi global, dan tentunya Indonesia sendiri.

Di atas segalanya, provokasi itu juga bentuk kecerdasan. Cina – secara relatip – menjadi tahu benar luar-dalam, isi perut dan dapur Indonesia. Bahkan boleh jadi, “Cina lebih tahu dari Indonesia sendiri”.

Bukankah – secara ekonomi – jarum neraka – berupa hutang & investasi – konon sudah membelenggu Indonesia? Kini, giliran kekuatan pertahanan RI, yang dicoba. Teorinya amat sederhana. “Mana ada, yang ekonominya saja hutang, bisa membangun kekuatan pertahanan”?

Dari sanalah, Cina melakukan “survei keras”. Memastikan ajaran dari suhu dan moyangnya, Sun Tzu.

“Mengetahui, kapan suatu bangsa/negara, dapat atau tidak dapat bertempur, adalah kemenangan”.

Jakarta, Januari 2020

Facebook Comments