Meski Dihantui Virus Corona, Paniki (Kampret) Santan yang Pernah Disantap Jokowi Tetap Digemari?

0
2184
Kuliner Paniki Santan yang menggugah selera/IST

JAKARTASATU.COM – Masakan daging Kampret (Kelelawar) yang biasa disebut masyarakat Manado dengan istilah Paniki ternyata masih sangat digemari.

Bahkan kuliner Paniki Santan Kering yang dulu sempat disantap Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika berkunjung di sana tetap menjadi primadona yang paling disuka.

Berita bahwa kampret menjadi sumber penyebaran virus corona yang kini mulai mewabah dari China ternyata tidak menyurutkan nyali penggemar kuliner ini di Manado.

Mereka menyakini bahwa pengolahan yang benar, yaitu dibakar dulu sebelum dijual bisa menjadi antisipasi yang menghilangkan ancaman virus tersebut.

Bahkan meskipun dijual dengan harga yang cukup mahal, Rp 35.000,- daging paniki di pasar makanan ekstrim Manado masih selalu diborong orang. Padahal jika dirunut lebih mendalam, tak hanya virus corona yang sekarang ini tengah tren, kelelawar dianggap telah menjadi beberapa inang penyakit membahayakan.

Pertama dianggap sebagai sumber asli dari penyakit Ebola yang telah menewaskan 13.500 orang pada tahun 1976. Kedua sebagai pembawa virus penyakit sindrom pernapasan Timur Tengah yang lebih dikenal dengan MERS yang ditemukan di 28 negara. Dan ketiga virus Nipah, yang memiliki tingkat kematian sebesar 78 persen.

Apakah kelelawar atau Kampret, Codot maupun Paniki Indonesia ini tidak menjadi sumber virus karena terbantu oleh iklim Indonesia yang tropis? Sehingga panas matahari mampu melemahkan virus-virus tersebut?

Tempat pengolahan Paniki (kelelawar) /IST

Terbukti Jokowi yang pernah memakan daging Paniki (kelelawar) kuah santan, sampai sekarang sehat-sehat saja. Apakah itu karena makanan yang disantap Jokowi telah melalui proses panjang dengan pemeriksaan Badan POM?

Tak hanya Jokowi, mantan menteri BUMN Dahlan Iskan juga mengaku pernah bersinggungan dengan kelelawar atau codot.

Melalui tulisannya, Dahlan mengaku sewaktu kecil dan masih tinggal di desa Takeran Kabupaten Magetan dirinya sering berburu buah jatuh bekas dimakan codot. Katanya buah yang jatuh karena bekas dimakan codot tersebut pasti manisnya.

Menurut Dahlan, pastinya ada liur codot yang terbawa di buah tersebut dan turut termakan olehnya yang selalu langsung memakannya begitu menemukannya. Alhamdulillah menurut Dahlan ia tidak terkena penyakit oleh virus yang dikhawatirkan tersebut. Dahlan menduga panas matahari tropislah yang mungkin telah melemahkan atau mematikan virus tersebut.

Semoga saja dugaan tersebut benar adanya sehingga Indonesia tidak perlu takut akan ancaman virus corona yang kini tengah mengemuka. |WAW-JAKSAT