Wahai, Orang Tua! Jaga Iman Anak Perempuanmu!

0
618

JAKARTASATU.COM– Persoalan akidah, bagi umat Islam yang taat adalah perkara sangat penting. Baik bagi dirinya, keluarganya, serta saudara-saudaranya.

Tidak bisa disepelekan. Tidak bisa ditukar oleh apa pun. Walau sekecil apa pun, dan walau sebesar apa pun di dunia ini. Maka harus benar-benar dijaga iman itu!

Tetapi, di akhir zaman ini, untuk menjaga iman tampaknya bukan perkara mudah. Apalagi belakangan ini, persoalan murtad yang sepertinya tidak ada habisnya. Macam-macam indikasinya. Mulai dari kemiskinan hingga berawal dari menjalin hubungan.

Steven Indra Wibowo, dari mualaf.com banyak memiliki cerita soal di atas, salah satunya. Bahkan mungkin ia memiliki segudang cerita ketika melihat “fenomena” ini. Terkait itu, ia tulis di akun Intagramnya. Berikut tulisannya, yang diunggap pada hari Selasa, 4/2/2020:

Bismillah, maaf kalau tajuknya gak enak dilihat atau dibaca, namun belakangan ini kenapa banyak banget laporan tentang murtad ke kami dengan typical masalah yang sama.

Perempuan murtad karena pacaran sama kafir; perempuan itu safar bahkan merantau kerja atau kuliah jauh dari orang tuanya, tanpa mahram, dengan alasan yang beragam:

-Kuliah di kota besar agar jadi orang besar

-Kuliah biar bisa kerja cari uang

-Kerja pak, buat bantu penghasilan keluarga

-Kerja agar bisa kebeli rumah, mobil, tanah sawah dikampung

Apa orang tua gak sadar? Dengan membiarkan anak perempuan mereka merantau tanpa mahram sama artinya jika anaknya MURTAD ya sudah biarin aja??? Jika anaknya MURTAD karena hamil, ya sudah tinggal dinikahin aja.

Mereka dengan entengnya menjawab ke saya: “Koh, kan gak didoain juga sampe anaknya murtad.”

Nah, sekarang MURTAD, trus apa? Apa tanggungjawab kalian ke hadapan Allah kelak? Apa???

Padahal dah banyak diingetin di Hadits yang disampaikan Rasulullah ﷺ

“Janganlah seorang wanita safar sejauh tiga hari (perjalanan) melainkan bersama dengan mahramnya”. [HSR. Imam Bukhari (1087), Muslim (hal. 970) dan Ahmad II/13; 19; 142-143; 182 dan Abu Daud]

“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahramnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahramnya.

Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang ini dan itu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246]

Bahkan berhaji pun Rasulullah menyuruh dengan mahram, jadi tidak ada pembenaran keluar tanpa mahram bahkan untuk ibadah haji.

Kalau pergi pengajian dekat-dekat masih dalam kota, isi pengajiannya akhwat semua, ini masih bisa ditoleransi, lah merantau beda kota, beda pulau dibiarin, maka tunggulah fitnah syaithan.

Naudzubillahi min dzalik.

Mari jaga keluarga kita dari api neraka dan fitnah dunia.

Semoga bermanfaat.

Steven Indra, Mualaf.com.

InsyaaAllah tetap membantu mualaf.” RI-JAKSAT