MEMANFAATKAN KONFLIK

0
211
Hasil voting suksesi Ketum PAN/IST

by M Rizal Fadillah

Selalu saja ada kekuatan yang bahagia jika orang lain berkelahi. Dengan konflik ia bisa banyak berbuat. Mendukung salah satu atau mendukung dua duanya agar semakin tajam berkonflik.
Sebagai kekuatan “ketiga” yang memiliki jaringan dan uang tentu mampu mengendalikan arah angin. Ia memang membutuhkan dan dibutuhkan. Prinsip yang dibangun adalah siapapun kawan dari lawan adalah teman.

Kongres PAN diwarnai kekisruhan awal. Sebelumnya juga sudah terasa potensi untuk beradu. Kelompok perubahan dengan kelompok status quo. Ganti dan lanjutkan. Masing masing melakukan penggalangan. Zulhas untuk terobosan sejarah dan Mulfachri untuk konsistensi satu periode.

Kekuatan “ketiga” tentu mencermati intensif. Mengambil momen kapan ia masuk dan keluar. Dalam era kolonialisme ada yang disebut politik divide et impera. Pecah belah hingga berantakan. Targetnya adalah rontok kepercayaan pada sarana perjuangan. Institusi dijauhi dan dipastikan akan lumpuh. Atau sekurang kurangnya diciptakan ketergantungan.

PAN selalu bimbang antara berada di dalam atau luar kekuasaan. Kepemimpinan Zulhas mendorong agar PAN dekat dengan kekuasaan rersebut. Berbeda dengan pendiri PAN M Amin Rais yang mengawal independensi PAN. Cenderung oposan. Kongres Kendari berwarna pengkotakan atau pengkubuan tersebut.

Ketika ada kursi yang dilempar pertanda virus berhasil menjalar dan mempengaruhi. Ada preman di dalamnya.Tapi itu hanya proses. Ujungnya harus ada yang menang dan kubu status quo akhirnya menang Zulhas 331 suara, Mulfachri 225, dan Drajat 6 suara. Di satu sisi ini pecah telur budaya Ketum satu periode, di sisi lain semangat perubahan mengalami kegagalan. Ini pun artinya Amin Rais sebagai pihak yang “gagal” akan menakar ulang posisi di PAN.

Sebagai kekuatan reformasi PAN dapat goyah.
Kini tinggal melihat apa yang dideklarasikan oleh dua tokoh PAN yaitu Zulhas sebagai Ketum terpilih dan Amin Rais yang tidak berhasil menggoalkan komitmennya. Jika terlalu cepat Zulhas mendeklarasikan sikap pemihakkan pada pemerintahan maka Amien diduga akan mengambil posisi berjarak dengan PAN yang didirikannya. Ini berarti potensi kebesaran PAN akan runtuh.

Jika Zulhas menjaga rasa dengan baik mungkin Amin Rais dapat menerima kemenangan ini dengan “legowo” dan ini artinya PAN akan tetap eksis meski butuh pemulihan citra pasca Kongres.
Sikap dan pernyataan Amin Rais layak untuk ditunggu.

Melihat pada sikap terdahulu terhadap Prabowo yang “belok” menjadi Menteri Jokowi, nampaknya Amin Rais dapat menerima kemenangan besannya itu. Lagi pula ada kepentingan proteksi bagi kiprah anak Pak Amin di partai tersebut.

Selesai Kongres tentu PAN harus bebenah lagi. Hubungan dengan elemen strategis pendukung harus diperkuat. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah dekadensi. Apalagi jika PAN terpaksa “menghamba” pada kekuasaan karena Ketum tersandera oleh kasus.
Moga saja tidak.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 12 Februari 2020

Facebook Comments