Virus Cororna Belum Pengaruhi Ekspor Batubara Indonesia ke Cina

0
574

JAKARTASATU.COM – Direktur Jenderal Minyak dan Batubara (Minerba) Bambang Gatot Ariyono dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan anggota Komisi VII DPR RI di Gedung Nusantara Jakarta, Selasa (11/2/2020) mengatakan, merebaknya virus Corona dalam sebulan terakhir belum memberikan dampak signifikan pada sektor tambang Indonesia terutama komoditas batubara.

Ungkap Bambang, Cina merupakan tujuan ekspor terbesar Indonesia, seluruh aktivitas investasi maupun operasional komoditas batubara masih berjalan normal. Apalagi ekspor selama ini masih dijadikan sebagai kebutuhan energi pembangkit, bukan barang industri. Kurang lebih 30% dari total produksi batubara Indonesia diekspor ke Cina.

“Corona kalau dari sisi batubara mungkin belum (berdampak), ini kan baru sebentar. Mungkin kalau kami lihat alasannya sebagai energi bukan komoditas untuk industri,” kata Bambang.

Jelas Bambang, bila penyebaran Virus Corona berlangsung dalam waktu lama tak menutup kemungkinan memberikan sentimen negatif pada kelangsungan komoditas batubara.

“Kalau sudah enam bulan baru kelihatan. Saya gak tau selesai kapan (virusnya). Kita lihat nanti,” ujar Bambang.

Lanjut Bambang, sejauh ini pemerintah belum menerima laporan khusus atas terganggunya kegiatan perdagangan Indonesia – China di sektor mineral dan batubara akibat penyebaran Virus Corona. “Perusahaan belum ada yang datang ke kami untuk mengurangi produksi atau ekspor ke Tiongkok,” imbuh Bambang.

Bamabang menilaim mewabahnya Virus Cororna menyebabkan lesunya industri Cina sehingga berujung pada persediaan (stockpile) yang kian menepis. Merosotnya pasokan batubara Tiongkok mengakibatkan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Februari 2020 ikut terkerek ke angka USD66,89 per ton. Harga batubara naik sedikit.

Catatan HBA bulan ini naik tipis dibanding bulan Januari yang berada di level USD65,93 per ton atau naik 1,45% (USD0,96 per ton). Ketentuan HBA tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 43 K/32/MEM/2020 dan berlaku sejak 1 Februari 2020.

Faktor lain yang menjadi dominan atas pembentuk HBA adalah bencana kebakaran yang sempat melanda Australia serta meningkatnya permintaan batubara di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan selama musim dingin. Sementara India dan Tiongkok membatasi impor dan memanfaakan produksi dalam negerinya sendiri.*lHER-JAKSAT