Impor Produk Pangan Mesti Dikurangi

0
130

JAKARTASATU.COM – Isu fluktuasi harga produk pangan yang kerap terjadi seperti daging, cabai, maupun bawang putih yang baru-baru ini akibat penerapan kebijakan masa lalu yang terlalu tergantung pada satu negara yang terlalu dominan. Anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin meminta Pemerintah agar mulai membenahi implementasi impor pangan yang terlalu dominan pada negara lain.

“Tiap daerah di negara kita punya potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan pada produksi pertanian atau peternakan. Tidak sepatutnya kita lemah dalam menghadapi kelangkaan produk pangan yang seharusnya mampu kita produksi sendiri,” ujar Hamid dam keltrangan persnya, Kamis (13/2/2020).

Hamid yakin bahwa setiap daerah punya kekhasan untuk dikembangkan sebagai daerah sentra pangan tertentu dan beragam untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Pemerintah Pusat mesti mampu menangkap semua peluang dari potensi-potensi di daerah kita. Semoga  pengatur di tingkat pusat dapat tegas dalam idealismenya untuk membangun negara,” ungkap Hamidi.

Hamid sarankan, jika impor produk pangan jangan terlalu dominan pada satu negara saja. Pada kasus bawang putih,  dari 13 perusahaan importir besar bawang putih, 10 perusahaan impornya pada satu negara saja, China. Akan ada produk-produk pangan strategis yang berpotensi berfluktuasi harganya bila tidak dikelola dengan baik seperti padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ketela, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, sorghum.

Jelas Hamid, pada kasus gula dan garam ketergantungan terhadap produk impor juga masih tinggi. Ini menjadi tantangan tersendiri. Ia memprediksi akan ada defisit kebutuhan gula bila Pemerintah tidak membuka keran impor beberapa bulan ke depan. Apalagi bila dihadapkan dengan jelang Lebaran, akan ada tantangan di masyarakat apakah Pemerintah mampu mengendalikan harga-harga secara wajar terhadap produk pangan.

“Saya berharap Pemerintah mampu memberi kenyamanan pada masyarakat. Banyak keluhan yang saya terima dari masyarakat terkait stabilitas harga pangan ini. Semoga Pemerintah mendengar suara rakyat untuk kestabilan harga pangan ini. Saya menyarankan kepada Pemerintah kalau memang terpaksa akan impor pangan, jangan terlalu dominan pada satu negara saja, dan impor dilakukan dalam keadaan terpaksa saja,” pungkas Hamid.* lHER-JAKSATA

Facebook Comments