Gebrakan Mentan Syahrul Yasin Limpo, Dianggap Tepat dalam Sidang Doktoral Riset Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjajaran

0
533
Vivit Wardah dalam Sidang Desertasi Doktoral Universitas Padjajaran/IST

JAKARTASATU.COM – Sidang promosi doktor mahasiswa pascasarjana Univeritas Padjajaran di bidang ilmu komunikasi kembali digelar di Kampus Universitas Padjajaran, Bandung, Rabu (11/2/2020). Pada kesempatan tersebut, Vivit Wardah mengajukan desertasinya yang mengungkapkan bahwa program terobosan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam menguatkan peran penyuluh untuk menyebarkan inovasi pertanian dinilai tepat.

Menurut Vivit, Kementerian Pertanian (Kementan) kini di bawah komando Syahrul Yasin Limpo dapat mempertajam peran penyuluh dengan menempatkan mereka ke kluster terkecil komunitas petani di tingkat desa.

“Selama ini sebagian besar penyuluh masih berada di bawah wewenang dinas-dinas provinsi dan kabupaten sehingga organisasinya seringkali berbeda setiap daerah,” papar Vivit dalam siding promosi doktoralnya tersebut.

Adapun ujung tombak penyuluh juga masih di tingkat kecamatan. Menurut Vivit, karakter petani di daerah yang ditelitinya membentuk kluster-kluster.

“Kebanyakan petani berinteraksi dalam kluster dengan posisi setara sehingga tidak ada yang saling mendominasi. Jarang sekali petani berinteraksi lintas kluster,” kata Vivit yang juga pustakawan di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Kementerian Pertanian tersebut.

Ditemukan fakta bahwa di dalam setiap kluster terdapat aktor-aktor sentral yang menjadi rujukan anggota di setiap kluster karena berperan sebagai opini leader. “Mereka ini yang menjadi kunci penyebaran inovasi di petani,” jelas Vivit.

Adapun pekerjaan aktor sentral itu, biasanya merupakan petani biasa yang dipercaya dan memiliki mobilitas tinggi. Semisal pemilik penyewaan traktor, pemilik penggilingan, atau ketua kelompok tani. Bermula dari para aktor sentral tersebut, selanjutnya penyebaran inovasi berlangsung secara personal.

“Sifatnya komunikasi interpersonal, bahkan peran media massa dan media sosial masih rendah,” ungkap Vivit.

Karena itu, pada konteks tersebut, menurut Vivit, para penyuluh yang ditempatkan di setiap desa harus dapat menembus aktor sentral di setiap kluster. Aktor leader itu juga berperan sebagai jembatan penghubung antarkluster di sebuah wilayah.

Hanya saja, hasil riset Vivit ini masih terbatas pada petani di sebuah daerah yang umumnya berusia di atas 40 tahun yaitu di Majalengka. Pada penelitianya yang diberi judul “Jaringan komunikasi petani adopter teknologi tanam jajar legowo di Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka” Vivit ada di bawah bimbingan promotor Dr. Asep Suryana, MSi; Prof. Tuhpawana P Sendjaja, PhD; dan Dr. Dadang Sugiana, MSi.

Namun yang jelas hasil temuan riset desertasi doctoral Vivit ini cocok untuk daerah-daerah yang memiliki tipologi sama yaitu kluster-kluster petani dengan anggota yang egaliter. |WAW-JAKSAT