Pelatihan Bahasa Bagi Tenaga Kerja yang akan Bekerja di Jepang

0
397

JAKARTASATU.COM – Sekretaris Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bandung, Lusi Lesminingwati mengatakan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan tahun 2018, angka pengangguran di Kota Bandung mencapai 96.625 orang yang kebanyakan berumur 20 sampai 30 tahun.

“Tahun ini kita fokus ke pelatihan, melihat umur 20-30 tahun tersebut. Kita coba pelatihan yang berkarakter teknologi dan aplikatif mengacu pada protap yang ditetapkan Kemnaker (Kementerian Tenga Kerja),” kata Lusi di Ruang Media, Balai Kota Bandung, Selasa (18/2/2020).

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bandung memfokuskan pelatihan bahasa bagi tenaga kerja yang akan bekerja di Toyota City, Jepang. Tahun ini ada empat paket pelatihan dengan 20 peserta setiap pelaksanaannya.

Ungkap Lusi, proses pemagangan pekerjaan “caregiver” atau perawat akan difokuskan pada pelatihan bahasa Jepang yang harus mencapai syarat tertentu. Menurutnya, tenaga kerja yang dibutuhkan Jepang dari Kota Bandung tidak dibatasi, tetapi ada persyaratan yang harus dimiliki oleh tenaga kerja.

“Mengirimkan tenaga kerja ke negara lain harus sesuai spesifik negara penerima, ada indikator dan karakter pekerjanya seperti apa. Sejauh ini Toyota City baru caregiver, kemungkinan ke depan yang punya skill las dan jok bisa bekerja di sana, karena Toyota kota industri,” ujar Lusi.

Menurut Lusi, tenaga kerja yang akan mengikuti program menjadi caregiver di Jepang tersebut juga akan melalui tahapan proses seleksi sebelum mendapat pelatihan. Disnaker telah menyosialisasikan program ini ke Sekolah Keperawatan yang ada di Kota Bandung.

“Kita ada proses seleksinya, sebelum pelatihan bahasa jepang dari Disnaker, sudah diinformasikan ke SMK dan Sekolah Tinggi bidang keperawatan, jadi kemampuannya tinggal menyesuaikan, tinggal bahasa jepangnya saja,” tandas Lusi.

Jelas Lusi, Disnaker juga saat ini sedang menyosialisasikan standar produksi yang dibutuhkan oleh negara lain di Kota Bandung. Seperti cara mengoperasikan mesin agar sesuai standar, sehingga permintaan dan penyadaannya berkesinambungan.

“Untuk Jepang, selain Bahasa Jepang sampai N5 (tingkat kemampuan berbahasa). Kita juga harus mengetahui karakter budaya dan skill di sana seperti apa, cara pengoperasian mesin, misal mesin jahitnya seperti apa, kita bantu sosialisasikan itu di sini,” pungkas Lusi.* l HER-Biro Jabar