Standar Gaya Hidup, Adakah?

0
508

JAKARTASATU.COM– “Omset saya harus 1 miliar lebih biar enteng sedekah 25 juta per bulan,” kata seorang teman Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Dulu, saya dengar cerita seorang ustaz yang selalu berpakaian perlente, jam tangan mahal, mobil bagus, rumah wah, istri tak cukup satu. “Ustaz itu standar gaya hidupnya memang tinggi,” komentar seorang kawan. Sementara, dimedia sosial saya lihat penampakan Gus Baha yang dengan santai naik bus dalam sebuah perjalanan. Warganet spontan beri puji-pujian pada seorang kiai NU yang lurus itu.

Dari tiga cerita itu, pikiran saya tersengol. Gaya hidup, sebagai cara seseorang mengekspresikan diri dalam beragam aktivitas, khususnya dalam soal citra diri, apakah ada standarnya? Saya masih belum menemukan jawabannya. Tapi, kalau standar hidup layak di Jakarta, kata Yodhia Antariksa, seorang pakar dari “Strategi Manajemen,” konon minimal gaji atau penghasilan adalah 15 juta/bulan. Ada yang mau mendebat? Silakan.

Dari sini, saya teringat istri saat beli kacamata. Lama banget milihnya. Sampai dalam hati saya bergumam. “Kacamata itu untuk melihat saya, bukan untuk dilihat”. Tapi, saya tak pernah ungkapkan itu. Takut doi ngambek. Toh semua hal yang mungkin benar tak perlu diungkapkan disaat yang tak tepat. Tapi, dari sini, kemudian saya memikir ulang. Pada akhirnya, setiap gaya hidup adalah pilihan sadar dan semua orang mesti tanggung konsekuensinya. Seperti umumnya seseorang, memiliki gambaran idaman mengenai dirinya, inilah yang disebut citra diri ideal (ideal self image).

AB Susanto, penulis buku “Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis” berkata, berdasarkan bagaimana seseorang ingin dipersepsikan oleh orang lain inilah salah satu faktor terpenting yang memengaruhi gaya hidup seseorang. Ia memiliki frame of reference dalam bertingkah laku yang tertuang dalam minat, aktivitas dan opininya. Akan terbentuk pola perilaku tertentu, terutama berkaitan dengan bagaimana membentuk image dimata orang lain.

Masalahnya, kadang gaya hidup yang dicitrakan tak sesuai dengan kenyataan. Dan, hal ini sadar atau tidak sadar menyakitkan. Menipu diri sendiri. Itu sebabnya, bersikap dan berpenampilan apa adanya justru menjadi hal yang mengasyikkan. Termasuk dalam menyampaikan isi hati dan pikiran. Kadang, di media sosial kita mendapatkan komentar, status yang bijak-bijak dari seseorang. Selalu begitu, bijaknya kelewatan. Hasilnya apa? Mungkin terlihat sopan, baik. Tapi, sebenarnya terlalu banyak dibuat-buat dan membosankan. Layaknya seseorang, sesekali marah tak masalah. Terutama misalnya pada kebijakan aparatur negara yang memang tak beres. Itu manusiawi.

Menyoal gaya hidup pada akhirnya soal pilihan dan mental. Gaya hidup seseorang boleh memilih sederhana dan minimalis. Tapi mental harus kaya. Soal mental kaya ini “ajaran” Reza Syarif dalam sebuah ceramah kuliah subuh di masjid Depok. Mental kaya ini artinya misalnya tak tergoda segala hal yang gratisan. Jika punya keinginan tapi kondisi sedang terpuruk santai saja, kejar terus. Diremehkan orang, cuekin. Habibie konon pernah bilang “Jangan pernah bermimpi karena mimpi tak pernah jadi kenyataan, tapi rencanakan”. Ya, jika kita punya keinginan, tulis rencana dalam selembar kertas. Pinginnya apa, bagaimana caranya, kapan waktu tercapainya dst. Begitu. Gampang ngomongnya ya, tapi sulit pelaksanaannya. Tapi, seperti faktanya, sulit itu kategori bisa. Yang pasti apapun gaya hidup seseorang, setidaknya membuat bahagia, bagi diri dan sesama. Bukan sebaliknya, menyusahkan semuanya.

*Kolumnis, Yons Achmad