Saat Muslim Memandang Corona

0
525

JAKARTASATU.COM– Datangnya virus Corona menjadi momentum perbaikan cara pandang. Saat korban virus Corona ditemukan di Depok, Jawa Barat, saya pantau sosial media. Ada salah satu komentar yang menggelitik. Akhmad Sahal, salah saorang aktivis NU Amerika mencuit di Twitter, “Corona itu ranah kedokteran, bukan agama. Cara mengatasinya mesti pake sains, bukan iman”. Mohon maaf, saya agak berbeda pandangan. Pandangan Sahal ini problematis. Ciri khas pemikir sekuler, yang memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan. Walau mungkin saja berkelit dengan tafsir bahwa yang dimaksudkan adalah mendudukkan persoalan pada tempatnya.

Ilmu pengetahuan sendiri, dalam hal ini kerap disebut dengan ilmu pengetahuan umum, hadir dari dua sumber yang melatarbelakangi. Ada yang percaya bahwa ilmu pengetahuan itu bersumber dari pengalaman (empirisme) seperti yang digagas oleh Aristoteles. Atau Plato yang percaya bahwa ilmu pengetahuan itu hadir karena akal pikiran (rasio). Hanya dengan melahirkan pemikiran-pemikiran baru, maka ilmu pengetahuan itu bisa dikembangkan. Sampai detik ini, ilmu pengetahuan umum masih terombang-ambing diranah ini. Menjadi sebuah pertanyaan, adakah sumber lain yang relevan selain itu? Di sinilah agama memainkan peran penting. Artinya apa? Agama kemudian menjadi tak terpisahkan dari ilmu pengetahuan.

Barat mungkin bangga dengan sekularisme. Hamid Fahmy Zarkasyi (2012) dalam bukunya yang berjudul “Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberasisasi dan Islam,” pernah membedah bagaimana sekularisme, yang dulu di Indonesia diagung-agungkan sebagai “Pembaharuan” oleh Nurcholis Madjid. Dikatakan bahwa sekulerisme berlatarbelakang ajaran “berikan hak Tuhan pada Tuhan, berikan Hak Raja pada Raja”.

Hasilnya, apa yang disebut kemajuan dalam perspektif Barat yang materialistis itu, pada akhirnya hanya fatamorgana, menghasilkan kehampaan. Sementara, ketika pemimpin muslim mencoba lari dari agama, tinggalkan agama, apa hasilnya? Seperti kisah Mustafa Kemal Attartuk yang coba mensekulerkan Turki. Hasilnya, tatanan menjadi hancur dan berantakan. Alih-alih menuju kemajuan seperti yang diinginkan. Kenapa? Karena meninggalkan spirit Islam, spirit Al-Quran yang melahirkan kemajuan itu sendiri.

Dalam perspektif agama (Fikih), Ustaz Abdul Somad (UAS) pernah ditanya jamaahnya, apakah virus Corona itu tentara Allah? Sebagai seorang ustaz UAS mengatakan, ketika dulu saat datang tentara Abrahah mau menghancurkan Kakbah, maka ‘Wa arsala ‘alaihim thoiron ababil’ (Kami kirimkan kepada mereka thoiron ababil). Menurutnya, tafsir menurut Syekh Muhammad Abduh, thoiron ababil itu wabah penyakit campak. Jadi bukan burung dari atas, itu tafsir. Ditegaskan lagi, disebutkan jika wabah yang dimaksud tersebut merupakan tentara Allah untuk menolong hambanya. Namun, menurut dia, adalah salah jika menilai bahwa tafsir itu adalah satu-satunya hal yang benar.

Sebagai sebuah pandangan keagamaan, tentu hal ini perlu kita hargai. Walau kemudian menjadi polemik di media. Bahkan, banyak kemudian yang mengolok-olok pandangan UAS ini tanpa dia sendiri punya pendapat yang masuk akal dan memadai. Salah satu media “terciduk” ingin “adu domba”. Di salah satu media online ternama, Ketua Umum PP Muhammadiyah dimintai keterangan terkait virus Corona sebagai tentara Allah. Kabar baiknya, Haedar Nashir cerdas dan tak terpancing agenda media. Alih-alih sporadis mengkritik, jawabannya mencerahkan. Dikatakan Muhammadiyah selalu menempuh dua langkah dalam menyelesaikan masalah. Satu, pendekatan rasional objektif, kalau kesehatan medis ya tentu pendekatan medis, yang spiritual itu menyangkut nilai keagamaan yang terus ditumbuhkan.

Saya kira ini pandangan bijak ketika polemik seputar pandangan keagamaan berlangsung. Tak saling serang, justru lebih banyak berbagi perspektif. Jika kita teruskan menyoal permasalahan ini lebih detail, pada akhirnya memang tak perlu buang agama ketika problem datang, termasuk problem yang orang sering anggap sebagai masalah ilmu pengetahuan murni sekalipun. Pertanyaannya, apakah ada cara pandang “ideal” terkait dengan hal ini? Jawabnya ada.

Yaitu pandangan (Ilmu) profetik berbasis kenabian. Cara pandang integralistik. Yang tetap kritis menyikapi persoalan. Tidak terlalu melulu mengagungkan akal pikiran (rasio) atau pengalaman (empiris). Kenapa? Karena keduanya terbatas, secanggih apapun pemikiran, secanggih apapun teknologi, tetap punya keterbatasan. Jalan tengah idealnya adalah menempatkan akal pikiran, pengalaman sekadar instrumen untuk menafsirkan wahyu Tuhan atas realitas. Begitu juga menghadapkan wahyu (Al-Qur-an) kepada realitas.

Dari sini, ilmu pengetahuan menjadi transendental dan kita menjadi lebih obyektif. Bayangkan kalau hanya mengandalkan teknologi (kesehatan). Kasus WNI yang terpapar Virus Corona dari Wuhan dipulangkan ke Indonesia, ternyata tidak dites dengan alat deteksi khusus, alasannya? Alatnya mahal, 1 milyar lebih, pemerintah tak memfasilitasi. Jadi, menjadi konyol ketika kita terlalu dan melulu agungkan teknologi. Sudut pandang lain, begitu muncul pemikiran sebatas rasionalitas subyektif, misalnya Depok perlu diisolasi seperti Wuhan di China. Hal ini juga sangat problematis. Itu sebabnya, pandangan keagamaan mutlak kehadirannya.

Seorang muslim, ketika memandang Virus Corona, mereka akan aktif menggali informasi, ilmu pengetahuan terbaru sampai kiat-kiat khusus dibidang medis serta berusaha bagaimana agar tak terjangkit Corona juga meminimalisir penyebarannya. Misalnya, di Majalah Intisari (Maret/2020) saya membaca analisis yang cukup bagus dari seorang pakar. Sugiyono Saputro, Ph.D, alumni Biologi Unsoed Purwokerto yang kini bekerja sebagai peneliti Mikrobiologi di LIPI menyebut memang ada beberapa hewan yang sudah dikenal reservoir (sumber penyakit). Paling banyak kelelawar dan tikus.

Dari informasi itu, saya berpikir, seorang muslim, tentu sangat akrab ajaran Islam untuk makan makanan yang halal dan toyyib, maka menghindarkan makanan semacam kelelawar atau bahkan tikus sudah dulu hadir. Ilmu pengetahuan hadir untuk memperkuat argumen. Sama halnya dengan babi, dalam Islam daging haram dimakan. Bagi yang tetap makan karena dinilai dagingnya enak dan empuk, maka itu sebuah problem yang jelas akan mendatangkan akibat buruk bagi kesehatan setelahnya.

Kaum sekuler juga kerap meremehkan misalnya kekuatan doa, banyak yang mengolok-olok kekuatan doa ini sebagai solusi. Padahal, masuk akal secara ilmu pengetahuan. Seorang muslim yang kuat doa dan zikirnya, mereka akan tenang menghadapi hidup. Termasuk, saat Virus Corona datang. Efek ketenangan ini ternyata sangat berpengaruh positif bagi imunitas. Seperti dikatakan Terawan, Menteri Kesehatan, pada sebuah media. Dikatakan bahwa kepanikan hanya akan menurunkan imunitas tubuh yang membuat diri kita lebih rentan tertular virus. Secara sederhana, psikoneuroimunologi ialah hubungan antara kondisi psikologi dengan sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh manusia. Artinya, orang yang stres justru akan lebih mudah sakit.

Begitulah, pada akhirnya, kita menjadi lebih siap menghadi persoalan ketika memandang sesuatu lebih komprehensif (menyeluruh). Tak memisahkan antara ilmu pengetahuan (sains) dengan agama (iman). Inilah momentum perbaikan cara pandang agar hidup kita mengarah kepada kemajuan, bukan pada kejumudan.

*Kolumnis, Yons Achmad Kolumnis