Ridwan Kamil Minta Kampus Teliti Kina untuk Obat Covid-19

0
619

JAKARTASATU.COM – Para ilmuwan China mengungkap hasil penelitian terhadap sejumlah obat untuk memerangi infeksi coronavirus disease atau Covid-19. Salah satu obat yang diteliti ialah chloroquine, sebuah senyawa yang terkandung dalam kina. Selama ini, chloroquine dipakai untuk mengobati penyakit malaria.

Penelitian tersebut tentu membawa angin segar. Terlebih dunia tengah bergelut dengan wabah pneumonia baru asal Wuhan, China, itu. Kina (Cinchona) sendiri di Indonesia bukan tanaman asing. Tanaman ini sudah lama dikembangkan di banyak perkebunan, salah satunya di Jawa Barat.

Menanggapi publikasi penelitian tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengimbau perguruan tinggi atau kampus untuk segera melakukan riset terhadap kina. Menurutnya, hasil penelitian di lembaga riset asing itu menyatakan bahwa ekstrak chloroquine pada kina efektif menghambat pertumbuhan dan memblokade infeksi dari virus korona.

Ridwan Kamil mengaku sudah meminta pendapat pada peneliti Unpad, Profesor Keri Lestari, mengenai kandungan dalam kina. Menurut Keri, kata Ridwan Kamil, kina selain sebagai obat malaria juga ampuh mengatasi penyebaran virus korona dalam tubuh manusia.

“Saya sudah berdiskusi dengan profesor Keri Lestari dari Unpad yang memang sudah meneliti terkait kloroquin fosfat (chloroquine) ini,” ujar Ridwan Kamil, di Gedung Sate, Bandung, Kamis (12/3/2020).

Karena itu, Ridwan Kamil berharap banyak pada perguruan tinggi khususnya di Jawa Barat untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kandungan dalam kina sebagai obat Covid-19.

Menurutnya, pohon kina sudah ditanam di Jawa Barat sejak zaman kolonial Belanda, di antaranya di kawasan Jayagiri Lembang, Kabupaten Bandung Barat dengan ikonnya Taman Junghun, di Bukti Unggul Cilengkrang, Kabupaten Bandung sekitar seluas 735 hektare, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, dan kawasan Subang. Saat ini kina dikelola dua institusi yakni PT Kimia Farma dan PTPN VIII.

“Kloroquin fosfat yang dalam bahasa awamnya adalah obat kina memang dari zaman kolonial ditanamnya di Jabar,” kata Ridwan Kamil.

Mengenai potensi kina di Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku sudah menyampaikannya ke Kementerian Kesehatan. Kemenkes, kata Ridwan Kamil, sudah mengonfirmasi bahwa chloroquine punya bukti dan potensi luar biasa.

“Sudah saya sampaikan tadi malam ke Kemenkes dan mereka mengonfirmasi bahwa kloroquin fosfat punya bukti dan punya potensi luar biasa hanya belum jadi mainstream maka saya imbau universitas di Jabar salah satunya Unpad untuk lebih meyakinkan lagi dengan bukti-bukti empirik bahwa kloroquin fosfat bisa kita jadikan sebagai obat,” pungkasnya.

Kemampuan obat kina diuji para peneliti dari State Key Laboratory of Virology, Wuhan Institute of Virology, Center for Biosafety Mega-Science, Chinese Academy of Sciences, Wuhan, China. Jurnal mereka dipublikasikan melalui Cell Research, baru-baru ini.

Dalam penelitiannya, peneliti meneliti efisiensi antivirus dari lima obat yang disetujui FAD (Organisasi Obat Dunia), termasuk chloroquine dan dua obat antivirus remdesivir. Penelitian dilakukan terhadap isolat klinis virus korona yang masih disebut 2019-nCoV –kini Covid-19. Namun penelitian ini masih bersifat in vitro atau kultur sel.

Peneliti melakukan tes standar untuk mengukur efek dari senyawa obat-obata ini pada tingkat sitotoksisitas akibat virus dan infeksi 2019-nCoV. Hasilnya, peneliti merekomendasikan penelitian lebih lanjut terhadap remdesivir dan chloroquine secara in vivo (pada makhluk hidup). Dua senyawa ini dinilai berpotensi memblokir infeksi virus korona.

Peneliti menyebut, remdesivir baru-baru ini diakui sebagai obat antivirus yang menjanjikan terhadap beragam virus RNA (termasuk SARS/MERS-CoV5). Senyawa ini juga sedang dalam pengembangan klinis untuk pengobatan infeksi virus Ebola.

Sementara chloroquine, lanjut peneliti, selama ini dikenal sebagai obat anti-malaria dan autoimun. Obat ini kemudian dilaporkan sebagai obat antivirus spektrum luas yang potensial. Chloroquine diketahui bisa menghambat infeksi virus terhasap sel, juga mampu mengganggu reseptor SARS-CoV.

“Selain aktivitas antivirusnya, chloroquine memiliki aktivitas memodulasi kekebalan, yang secara sinergis meningkatkan efek antivirusnya secara in vivo. Chloroquine didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh, termasuk paru-paru, setelah pemberian oral,” ungkap peneliti.

Lebih lanjut, peneliti mengatakan bahwa chloroquine adalah obat yang murah dan aman yang telah digunakan selama lebih dari 70 tahun dan berpotensi secara klinis memerangi 2019-nCoV.

“Temuan kami mengungkapkan bahwa remdesivir dan chloroquine sangat efektif dalam pengendalian infeksi 2019-nCoV secara in vitro,” kata peneliti. Sebab senyawa ini telah digunakan pada manusia dengan rekam jejak yang terbukti efektif melawan berbagai penyakit. Peneliti pun menyarankan obat ini dipakai pada pasien Covid-19.

Menurut John Lednicky, profesor di Emerging Pathogens Institute, Florida, menilai data yang disajikan dalam penelitian para peneliti China, setidaknya secara in vitro, tampaknya chloroquine dapat digunakan sebagai obat tahap awal korona.

“Akan sangat baik jika jenis percobaan ini diulangi oleh lebih banyak laboratorium untuk melihat apakah hasil yang sama terjadi di seluruh penelitian,” kata John Lednicky, dikutip dari ASBMB Today. *lIH-BIRO JABAR