Srihadi Soedarsono dalam Man x Universe, Mengugah dan Sublim

0
1415
Borobudur-The Energy of Nature. 2019

JAKARATASATU.COM – Namanya Prof. Kanjeng Raden Haryo Tumenggung H. Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo, MA adalah seorang maestrok pelukis Indonesia yang lahir di Solo, 4 Desember 1931 ini di usia 88 tahun menggelar 44 karya lukisanya bertajuk “Man x Universe” yang berlangsung sejak 11 Maret 2020-9 April 2020 di Galeri Nasional Jakarta.

Saat kita menyaksikan 44 lukisan yang terpajang atas 38 lukisan baru, selainnya koleksi pribadi. Karya-karya yang dihadirkan dalam kanvas besar dibuat dalam kanvas dengan medaia cat minyak, kecuali sketsa Borobudur (1948).

Sejumlah karya adalah Mt. Bromo– The Mystical Earth (2017), Borobudur–The Energy of Nature (2017), , Papua–The Energy of Golden River (2017), Horizon–The Golden Harvest (2018), The Mystical Borobudur (2019), Jakarta Megapolitan–Patung Pembebasan Banjir (2020) dan Borobudur Drawing (1948).

Karya  adalah sebuah catatan kuat dan jejak warna dan sejarahnya. Srihadi tak sekadar melukiskan satu bentangan warna dan landscape, ia juga secara hiperbola krtikal atas merespons realitas kekinian yang terjadi di tanah air.

“Panorama Indonesia itu tidak hanya Borobudur, tetapi sangat banyak. Selain keindahan, kita juga menghadapi keprihatinan. Saya mencatat dan menuangkannya lewat kanvas,” ujar Srihadi sore itu kepada media di ruang samping Galeri Nasioanal.

Ia mencatat warna kekeutaan lukisan yang otokritik misalnya dalam konteks banjir. “Lukisan saya tentang banjir, itu bentuk keprihatinan,” jelas Srihadi

Kurator Pameran “Man x Universe” yang juga dosen Senirupa ITB, Rikrik Kusmara menilai konsep horizon berkembang  menajadi salah satu  babak penting  dalam karir artistik Srihadi, dalam refpresentasi alam.

“Bagi Srihadi, garis  horizon dalam lanscape  memiliki  makna tersendiri sebagai  jawaban dari konsep esensi,” jelas Rikrik.

Beliau mencari pendekatan-pendekatan lain, selain pendekatan yang biasa diekspresikan. Pada Papua itu sangat berbeda esekali landscape-nya dengan yang lain. Begitu pula dengan Semeru, terang Rikrik.

Melihat  karya srihadi memang kita penuh dengan kontemplasi jiwa dalam. Kita diajak merenung dalam ketenangan dan warna hidup yang penuh perenungan, kendati semua itu memang harus menalaah kita sedang ada dialam yang menuju tujuan sebenarnya.

Lukisan Srihadi adalah kekuatan dalam horizon yang tersusun dengan sistematis dalam estetika yang kuat. Maka tak salah jika tokoh sekelas Jean Couteau menulis dalam buku yang diluncurkan pada saat pembukaan itu menyebutkan bahwa Srihadi mempunyai suatu kemampuan untuk ‘merasa’ yang selain luar biasa, juga dikembangkan  dan diasah oleh trasidi jawa asalnya: lebih-lebih kemampuan untuk ‘merasa’ tersebut ditopongi oleh suatu  ‘kecerdasan visual’ luar biasa yang memungkinkan mengkontruk di dalam setiap karyanya suatu sistem sibolik multi komplek yang padananya tidak terlihat hadir didalam ekspresi lisan atau tertulisnya.

Jean juga mengatakan bahwa Srihadi bukan hanya maestro simbolis/warnai Indonesia tetapi sebenarya termasuk salah seorang maestro simbolis-koloris kelas dunia.

Maka tak salah jika kita mengatakan Srihadi Soedarsono dalam Man x Universe, Mengugah dan Sublim. |am