Jadi Rumah Sakit Khusus Covid-19 Butuh Anggaran dan Sarana Prasarana, Pelayanan Harus Sesui Mutu dan Standar

0
389

JAKARTASATU.COM – Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung tengah menyiapkan skenario kemungkinan dijadikan rumah sakit khusus pasien Coronavirus Disease (Covid-19) di Jawa Barat. Namun skenario ini membutuhkan dukungan birokrasi pusat dan daerah, termasuk soal anggaran dan sarana prasarana.

Direktur Utama RSHS, dr. Nina Susana Dewi, Sp.PK(K), bilang skenario dilatarbelakangi peningkatan kasus positif Covid-19 di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Sementara kasus kematian juga meningkat, serta gejala penyakit yang disebabkan virus pneumonia jenis baru tersebut kebanyakan ringan-ringan saja tanpa disadari penderitanya

“Kami RSHS memang sudah membahas dalam pertemuan dengan bapak (Gubernur Jabar Ridwan Kamil) mengenai rencana ini,” tutur Nina, Kamis (19/3/2020).

Peningkatan kasus Covid-19 tentu harus dihadapi dengan perencanaan yang matang, termasuk RSHS sebagai rumah sakit rujukan penyakit infeksi yang harus memiliki persiapan optimal. Maka RSHS setidaknya menyiapkan tiga skenario. Pertama, kata Nina, skenario menghadapi 1-30 pasien.

Saat ini, ruang isolasi pasien Covid-19 di RSHS dipusatkan di lantai satu Gedung Kemuning atau disebut Ruang Infeksi Khusus Kemuning. Di lantai ini ada 5 ruang isolasi khusus dan 24 ruang isolasi untuk pasien TBC. Total ada 29 ruang isolasi yang bisa dipakai untuk merawat pasien Covid-19.

“Skenario satu ini sedang on progress,” katanya. Saat ini ada 12 pasien isolasi TBC yang akan dipindahkan ke rumah sakit lain. Ruang tersebut kemudian akan dijadikan ruang isolasi Covid-19.

Di dalam skenario satu ini, RSHS juga melakukan zonasi sebagai pencegahan penularan. RSHS terbagi ke dalam zona merah yang hanya dilalui petugas yang berhubungan dengan ruang isolasi Covid-19, lalu zona kuning yang terkait dengan lalu lintas pelayanan Covid-19, dan zona hijau untuk kepentingan besuk.

Jumlah jumlah kunjungan, pengantar atau penunggu pasien pun diatur cukup ketat. “Jadi kami lakukan itu agar penularan dihindari di RSHS,” tandasnya. “Apabala dari 29 itu akan penuh nanti, misalnya, tentu kami harus punya rencana.”

Rencana tersebut masuk ke dalam skenario kedua, yakni menggunakan semua ruangan yang ada di semua lantai Gedung Kemuning untuk menangani pasien Covid-19. Gedung Kemuning sendiri terdiri dari enam lantai.

Namun Nina menegaskan, penggunaan seluruh Gedung Kemuning sebagai ruang isolasi Covid-19 bukan hal mudah, perlu komitmen dari seluruh unit dan instansi pemerintah pusat maupun daerah.

“Jadi kami perlu anggaran, sarana prasarana, karena pelayanan dalam wabah pun tetap harus sesuai mutu dan standar. Kami RSHS tetap tujuannya untuk keselamatan pasIen dan kami juga ingin karyawan kami tetap terlindungi, tidak tertular infeksi tersebut. Jadi semuanya aman semuanya selamat. karena kalau petugasnya tidak sehat bagaimana kami bisa melayani?” ungkap Nina.

Selanjutnya skenario ketiga. Nina bilang, skenario ini disiapkan jika pasien Covid-19 membengkak sampai lebih dari 300. Skenario ini berupa penggunaan ruang-ruang lain di luar Gedung Kemuning.

“Jadi itu rencana yang kami bahas degan bapak gubernur, tentu kita semua berdoa agar wabah ini segera selesai, tidak terjadi hal yang terburuk,” katanya.

Nina juga kembali menyatakan semua skenario tersebut membutuhkan dukungan semua pihak. “Agar Jabar ini bisa lewati masa-masa rumit ini dengan penanggulangan yang kita lakukan bersama,” ujar Nina. |IH-BIRO JABAR