Kunyit, Temulawak, Jahe Tingkatkan Sistem Pertahanan Tubuh

0
795
JAKARTASATU.COM – Musim virus korona atau Covid-19 membuat masyarakat berlomba mencari asupan vitamin yang bisa meningkatkan pertahanan tubuh. Ada juga yang membeli herbal yang banyak di pasar. Ngomong-ngomong soal herbal, farmakolog ITB Prof. Daryono Hadi Tjahjono menganalisa herbal yang memiliki kandungan untuk meningkatkan sistem pertahanan tubuh atau imun. Di antaranya kunyit, temulawak, jahe, dan tanaman sejenis lainnya.
Menurut Daryono, Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam melimpah. Ini melahirkan tradisi pemanfaatan tanaman herbal untuk tujuan kesehatan secara turun temurun. Maka begitu musim virus korona, otomatis masyarakat memanfaatkan herbal juga. Tanaman herbal yang umum dikonsumsi masyarakat adalah kunyit, temulawak, jahe dan sejenisnya.
Dekan Sekolah Farmasi ITB tersebut menjelaskan, kunyit (Curcuma longa L) memang mengandung senyawa metabolit bahan alam berupa kurkumin yang dilaporkan memiliki potensi terapeutik yang beragam seperti antibiotik, antiviral, antioksidan, antikanker, dan untuk penanganan penyakit alzheimer.
“Kurkumin (atau turunannya, yaitu kurkuminoid) juga terdapat pada temulawak, jahe, dan tanaman sejenis. Selain senyawa kurkuminoid, terdapat puluhan senyawa kimia lain yang terkandung di dalam tanaman tersebut. Masyarakat secara umum memanfaatkan tanaman tersebut dalam kehidupan sehari- hari dan aman dalam penggunaannya. Selain sebagai bumbu masak, tanaman tersebut juga menjadi bahan baku jamu, dan obat herbal terstandarkan,” ungkap Prof. Daryono, dikutip dalam artikelnya, Jumat (20/3/2020).
Menurutnya, berbagai penelitian farmakologi telah dilakukan terhadap kurkumin, namun salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah pengaruh kurkumin terhadap penyembuhan COVID-19. Hal ini diketahui sejak terjadi epidemi penyakit SARS pada tahun 2003.
Daryono menjelaskan reseptor yang berperan penyakit Covid-19 yang dibawa virus SARS-CoV-2 adalah angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). ACE2 dapat berada dalam bentuk fixed atau menempel di sel dan soluble (tidak menempel pada sel). Penelitian terhadap senyawa kurkumin (sebagai senyawa tunggal atau murni) dilaporkan meningkatkan ACE2 pada hewan uji tikus, namun belum ada studi hubungan langsung terhadap infeksi virus corona (COVID-19).
“Agar keperluan terapi menggunakan kurkumin dapat tercapai, diharapkan banyak ACE2 yang bebas (soluble) sehingga akan mencegah virus corona menempel pada sel, yang secara langsung akan mencegah terjadinya infeksi,” ujarnya.
Secara empiris, gabungan kandungan senyawa kimia dari tanaman tersebut bermanfaat sebagai imunomodulator untuk menjaga daya tahan tubuh. Efek farmakologi gabungan senyawa kimia (multi compound) dalam tanaman tersebut tentu bisa berbeda dengan efek farmakologi senyawa kurkumin secara tunggal (single compound).
Kaitan dengan COVID-19, penggunaan tanaman tersebut baik secara tunggal maupun gabungannya bisa membantu dalam meningkatkan daya tahan tubuh sebagai imunomodulator, kata Daryono. Jadi pemanfaatan kunyit, temulawak atau jahe sebagai jamu, obat herbal terstandarkan, atau suplemen minuman adalah aman.
Namun manfaat kurkumin terhadap penyembuhan COVID-19 tentu masih memerlukan pembuktian melalui penelitian lanjutan. Untuk itu diperlukan kerja keras dari berbagai pihak seperti peneliti, industri farmasi, dan pemerintah dalam pengembangan tanaman-tanaman tersebut hingga menjadi obat fitofarmaka sebagai antivirus terhadap COVID-19. *|IH-BIRO JABAR