Dari Avian Flu 2003 ke Covid-19: Kapan Siti Fadillah Dibebaskan?

0
162

JAKARTASATU.COM– Mantan Anggota DPR RI, Fahri Hamzah “mengirimkan pesan” kepada Jokowi dan Prabowo terkait mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadillah Supari yang menjadi pesakitan. “Pesan” Fahri ini bermaksud agar Jokowi dan Prabowo terketuk hatinya membebaskan Siti sebab konspirasi jahat.

Berikut “pesannya”, yang ia tulis di halaman Telegram miliknya, baru-baru ini:

“Yang terhormat pak Jokowi dan pak Prabowo.

Ini waktunya bapak membebaskan ibu Siti Fadhilah Supari, seorang jenius Indonesia yang menjadi korban konspirasi jahat.

Ia menjadi dosen, menjadi ahli dan memimpin penelitian di berbagai lembaga akademik puluhan tahun.

Beliau dipilih sebagai kader Muhammadiyah.

Umurnya sekarang hampir 71 tahun.

Ia masih mendekam di penjara. Saya menyaksikan kesederhanaannya.

Oleh pak SBY dan Pak JK beliau dipercaya menjadi menteri kesehatan dan dilantik tanggal 21 Oktober 2004.

Sejak dilantik beliau yang sederhana ini sangat peduli dengan kesehatan rakyat.

Ia juga peduli dengan isu kesehatan sebagai ketahanan nasional.

Pandangan ini membuatnya sangat berhati-hati dengan kegiatan pihak luar, termasuk WHO dalam mengambil sumberdaya nasional kita.

Ditulis di laman Wikipedia, data-data berikut: Siti Fadilah mengakhiri pengiriman virus flu burung ke laboratorium WHO pada November 2006 karena ketakutan akan pengembangan vaksin yang lalu dijual ke negara-negara berkembang.

Ini menimbulkan ketegangan.

Setelah itu, ia berusaha mengembalikan hak Indonesia. Pada 28 Maret 2007, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan WHO untuk memulai pengiriman virus dengan cara baru untuk memberikan akses vaksin terhadap negara berkembang.

Pada tanggal 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” yang berisi mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan “senjata biologis” dengan menggunakan virus flu burung.

Bukunya dianggap membongkar konspirasi WHO dan AS.

Siti Fadilah “membuka kedok” World Health Organization (WHO) yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang ternyata banyak merugikan negara miskin dan berkembang asal virus tersebut.

Buku ini menuai protes dari petinggi-petinggi WHO dan AS. Buku edisi Bahasa Inggris ditarik dari peredaran untuk dilakukan revisi, sedangkan buku edisi Bahasa Indonesia masih beredar dan memasuki cetakan ke-4.

Lihat kronologinya.

Tiga tahun Setelah pensiun ibu Siti Fadilah menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pada bulan April 2012 atas proyek pengadaan alat kesehatan untuk kejadian luar biasa tahun 2005 senilai 15 Milyar Rupiah dengan perkiraan kerugian negara sebesar 6 Milyar Rupiah.

Lihat kronologinya, akhir 2004-2009 menjadi menteri yang sederhana, 2005 terjadi krisis kesehatan di Aceh yang membuat beliau mengambil kebijakan khusus.

Selama menjadi menteri terus kritis tentang konspirasi vaksin dan senjata biologi.

Tahun 2012 tersangka dan baru divonis 2017.

Lima tahun 2012-2017 hidupnya dihabisi secara kejam dalam pengadilan media yang sadis.

Dan sejak divonis 4 tahun sampai sekarang ia masih mendekam dalam penjara.

Kenapa penegak hukum tega dengan ibu yang sederhana ini?

Ini bukan soal hukum bapak presiden, ini soal politik.

Maka, memasuki usia beliau yang sudah tua dan sakit-sakitan.

Saat pemerintah memerlukan pandangan lain tentang virus dan vaksin, bebaskanlah ibu Siti Fadilah.

Dialah teman bicara yang sebenarnya.

Dia yang bisa melihat peristiwa ini dalam kepentingan nasional.

Semoga surat terbuka ini membuka mata akan kejahatan konspirasi penegak hukum di masa lalu yang mengincar musuh-musuh negara lain yang ada di dalam negeri.

Sungguh kejam.

Bebaskan Siti Fadilah pahlawan dalam masa kita saat ini.

Terima Kasih.

Facebook Comments