Stafsus Presiden “Dikuliti”

0
622

JAKARTASATU.COM– Staf Khusus (Stafsus) Presiden yang juga Founder Ruang Guru, Adamas Belva Syah Devara “dikuliti” habis oleh aktivis, pengamat, ekonom, sejarawan, hingga artis atas pernyataannya yang diduga menanggapi coronavirus di Indonesia. Dan ucapannya itu tengah viral di sosial media.

Berikut kritisi dari aktivis ProDem, Iwan Sumule, @IwanSumule:

KESALAHAN yang paling besar bukanlah KEGAGALAN, melainkan berhenti dan menyerah sebelum merasakan KEBERHASILAN.”

Kalau hanya bisa bikin kata2 bijak, tanpa kejelasan kerja, kita2 pun bisa.

Kita2 mestinya juga layak dapat 51 juta/bulan seperti stafsus milenial.

Iya gak sih?”

Dari pengamat, Muhammad Said Didu:

Cuman gini doang digaji Rp 51 juta sebulan.

Sepertinya kutipan tsb juga kata-kata lama yg dimodifikasi dari orang lain

Dan itu kata2 contekan dari berbagai sumber yg dimodifikasi.”

Dari ekonom, Rizal Ramli:

Kacian amat.”

Dari sejarawan, JJ Rizal:

buku kumpulan surat-surat kartini judulnya habis gelap terbitlah terang, kalau membacanya dgn seksama akan menemukan bahwa untuk sampai kepada datang terbitnya terang, betapa banyak kegelapan yg dikritik, disalahkan, en dikutuk kartini.”

Dan dari Arie Kriting, @Arie_Kriting:

Halah, sebulan lalu banyak yang ingetin akan bahaya Corona ini. Negara ngapain? Becanda dan ngeyel.

Sekarang menyuruh kita nanya diri sendiri lagi.

Pake acara menyalakan lilin, MAU NGEPET BOSS…???”

Bunyi ucapan Stafsus sebagai berikut: “Bukan waktunya saling menjatuhkan atau saling membully. Ayo bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk negeri?’

Menyalakan lilin lebih baik daripada menyalahkan kegelapan.”

RI-JAKSAT