COVID-19 dan Tuberkulosis: Perlunya Solidaritas Global

0
218
Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas/IST

JAKARTASATU.COM – Ketika dunia bergulat dengan pandemi global COVID-19, Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas peduli terhadap kelompok-kelompok rentan di seluruh dunia. Pada Hari TBC Sedunia kami ingin menarik perhatian pada penderita tuberculosis (TBC), karena mereka termasuk di antara kelompok yang mungkin terkena dampak ganda. Perhatian khusus akan diperlukan untuk menjaga kesinambungan pencegahan, diagnosis, pengobatan dan perawatan untuk penderita TBC di seluruh dunia.

TBC adalah penyakit menular paling mematikan di dunia dengan hampir 10 juta orang terdampak dan 1,5 juta kematian pada tahun 2018. Setengah juta orang menderita bentuk TBC yang kebal obat yang pengobatannya panjang dan beracun. TBC juga merupakan penyebab utama kematian di antara orang yang hidup dengan HIV. Banyak negara – seperti India dan Afrika Selatan – memiliki banyak orang yang hidup dengan HIV dan TBC.

Seperti halnya TBC, COVID-19 biasanya mempengaruhi paru-paru dan orang yang mengidapnya mungkin menunjukkan gejala yang mirip dengan TBC, seperti batuk dan demam. Kemungkinan orang dengan kerusakan paru-paru seperti pasien TBC atau mereka yang sistem kekebalannya lemah seperti orang dengan HIV yang tidak terkontrol, dapat menderita bentuk COVID-19 yang lebih parah, jika terinfeksi. Selain itu, banyak pasien TBC tinggal di daerah padat penduduk, dan kedekatan ini semakin meningkatkan risiko mereka terjangkit COVID-19. Khususnya di permukiman padat dengan sedikit akses terhadap air bersih atau layanan kesehatan.

Situasi yang sudah memprihatinkan ini akan menjadi lebih parah jika diagnosis dan pengobatan untuk HIV atau TBC terputus. Dengan demikian, MSF mendukung catatan informasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang strategi untuk mempertahankan kesinambungan layanan penting – pencegahan, diagnosis, pengobatan dan perawatan – untuk orang yang menderita TBC dan TBC kebal obat (Drug Resistant Tuberculosis/DR-TB) selama pandemi COVID- 19.

Sistem perawatan kesehatan khususnya sistem dengan sumber daya rendah akan mendapat tekanan besar dari virus COVID-19. Kita tahu dari epidemi sebelumnya bahwa berkurangnya akses terhadap perawatan, obat-obatan dan diagnostik untuk orang dengan kondisi yang mengancam jiwa, seperti TBC, dapat menyebabkan peningkatan kematian dari kondisi yang mendasarinya. Di Guinea, salah satu negara di pusat epidemi Ebola 2014-2015, berkurangnya layanan kesehatan menyebabkan 53% penurunan diagnosis TBC, dan dua kali lipat tingkat kematian dari dampak langsung dan tidak langsung pada layanan kesehatan TBC.

Bersamaan dengan respons global yang diperlukan untuk mengatasi COVID-19, otoritas kesehatan, mitra pelaksana, dan penyandang dana internasional harus melakukan segala upaya untuk mempertahankan layanan dasar, sekaligus mengurangi risiko bagi populasi yang rentan.

Untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 di antara pasien TBC dan HIV, kita perlu melihat perubahan inovatif pada cara-cara di mana layanan kesehatan disediakan: ini termasuk perawatan yang didesentralisasi dan rawat jalan, akses terhadap perawatan melalui komunitas dan model-model perawatan dan penindaklanjutan pasien yang jauh secara fisik melalui telemedicine dan penggunaan aplikasi web. Implementasi semua perawatan oral untuk TBC kebal obat seperti yang direkomendasikan oleh WHO sekarang menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda, seperti halnya implementasi perawatan yang didukung masyarakat untuk mengurangi kontak dengan struktur kesehatan.

Mengingat tingginya risiko penyakit parah pada pasien TBC, upaya untuk meminimalkan dampak COVID-19 juga harus mencakup penyediaan tindakan perlindungan untuk staf dan mereka yang kontak dengan pasien TBC serta pengujian dan isolasi kasus COVID, baik yang terkonfirmasi atau masih diduga, untuk menghindari penularan ke orang lain.

Solidaritas global sangat penting untuk mengatasi pandemi global. Menghindari penimbunan berlebihan dan larangan ekspor, akan memastikan obat-obatan dan pasokan penting, termasuk peralatan pelindung diri, dapat menjangkau semua negara yang membutuhkan. Kerja sama dan berbagi seperti itu akan mengurangi risiko penderita TBC berada pada risiko tambahan karena kurangnya obat-obatan yang diperlukan atau kemampuan untuk pengujian tanpa pendekatan seperti itu, tekanan pada negara-negara dengan sistem kesehatan yang sudah rapuh akan berlipat ganda. Ketika negara-negara berjuang untuk menangani pandemi COVID-19, kita harus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa dampak pandemi ini tidak menciptakan tragedi kedua bagi komunitas rentan di seluruh dunia, termasuk orang dengan TBC dan HIV.

MSF dan TBC
MSF adalah salah satu penyedia perawatan TBC non-pemerintah terbesar di dunia. Pada 2018, dalam proyek di lebih dari 20 negara di seluruh dunia, kami memulai 16.500 orang untuk pengobatan TBCC, dan 2.840 orang untuk DR-TB pada 2018. Bersama dengan mitra, kami menjalankan dua uji klinis untuk DR-TB (TB PRACTECAL dan endTB) yang bertujuan untuk menemukan perawatan yang efektif dan singkat, dengan efek samping yang dapat dikelola.

MSF dan COVID-19
Di sebagian besar negara di mana MSF bekerja, kami berkoordinasi dengan WHO dan Kementerian Kesehatan untuk melihat bagaimana kami dapat membantu dalam kasus tingginya jumlah pasien COVID-19 dan menyediakan pelatihan tentang pengendalian penularan untuk fasilitas kesehatan. Sejauh ini kami telah memulai dukungan di Belgia, Italia, Prancis, Spanyol, Iran.

Prioritas utama untuk MSF adalah menjaga program medis reguler kami berjalan untuk komunitas yang sangat rentan yang kami dukung di seluruh dunia.|WAW-JAKSAT