Sayur Lodeh Tujuh Rupa, Kearifan Lokal untuk Cekal Wabah Corona?

0
1965
Flyer Sayur Lodeh 7 Rupa yang disebut dari Sultan Hamengkubuwono X/IST

JAKARTASATU.COM – Pandemi Covid-19 yang terus meluas dan meningkat di beberapa daerah, memicu munculnya kearifan lokal yang terkadang tidak bisa diterima begitu saja oleh nalar. Namun hal itu tak perlu ditentang dan diperdebatkan. Biarlah hal tersebut menjadi budaya atau kepercayaan tradisi yang boleh jadi mampu menjadi solusi spiritual masyarakat dalam memperkuat mental dan hati menghadapi wabah yang terjadi.

Memanfaatkan media sosial, baru-baru ini beredar flyer atau brosur digital yang isinya menyebutkan Sultan Hamengkubuwono X telah menganjurkan masyarakat membuat sayur lodeh 7 rupa untuk menangkal wabah virus corona.

Brosur tersebut bertuliskan kata-kata berbahasa Jawa yang bunyinya, “Pageblug. Wayahe rakyat Mataram nyayur Lodeh 7 warna: Kluwih, Cang Gleyor, Terong, Kulit Mlinjo, Waluh, Godong So, Tempe. Mugi Sedaya tansah widodo nir ing Sambekala,”.

Dalam Bahasa Indonesia, kalimat tersebut berarti: “Pageblug. Saatnya rakyat Mataram membuat sayur lodeh 7 warna: Kluwih, Kacang Panjang, Terong, Kulit Melinjo, Labu, Daun Melinjo Muda, Tempe. Semoga Semua selalu selamat dari Bencana,”

Tentu saja, ketika ditelusuri lebih mendalam, ternyata brosur tersebut bukan benar-benar dari Sultan Hamengkubuwono X. Hal ini telah dikonfirmasi oleh Kepala Humas Pemerintah Daerah DIY, Ditya Nanayo Aji. Namun ternyata tetap saja banyak masyarakat yang melakukannya karena percaya secara budaya bahwa membuat sayur Lodeh Tujuh Rupa memang bisa menolak bala atau bencana.

Pasalnya, ternyata jika didalami dari sisi filosofi dan semiotika, ternyata budaya membuat Sayur Lodeh Tujuh Warna ini memiliki makna yang dalam. Tujuh atau dalam bahwa jawanya “pitu” memiliki arti sebagai ‘pitulungan’  atau pertolongan. Ini bisa diartikan sebagai makhluk, manusia harus memohon bantuan atau pertolongan kepada Tuhan.

Kandungan dari sayuran ini memiliki 7 jenis sayur, makanya orang Jawa menyebutnya pitung rupa. Ternyata dalam masing-masing jenis sayuran tersebut juga memiliki arti atau simbolisasi yang tak kalah menarik. Adapun maing-masing isi sayur ini meliputi: kluwih, labu parang, kacang panjang, daun melinjo, terong, kulit buah melinjo dan tempe.

Konon inilah filosofi arti dari masing-masing jenis sayuran yang dibikin lodeh tersebut: Pertamaa Kluwih yang bermakna, “Kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne (Keluarga harus lebih diurusi dan diperhatikan)”.

Kedua Cang Gleyor atau Kacang Panjang yang berarti “Cancangen awakmu ojo lungo-lungo (Ikatlah dirimu jangan pergi-pergi) yang bisa berarti sebagai “Jaga Jarak” atau Social Distancing.

Ketiga sayut Terong yang berarti, “Terusno anggone olehe manembah Gusti ojo datnyeng (Lanjutkan beribadah kepada yang maha kuasa, jangan kalau butuh saja)”.

Keempat Kulit Melinjo yang mengandung arti, “Ojo mung ngerti njobone, ning kudu ngerti njerone babakan pagebluk (Jangan hanya lihat dari luar, tetapi harus mengetahui yang ada di dalam bencana)”.

Kelima Waluh (labu) yang dimaknai dengan, “Uwalono ilangono ngeluh gersulo (Hilangkan sifat mengeluh)”. Keenam Godong So (daun melinjo) yang berarti, “Temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (Berkumpulah dengan orang-orang yang saleh dan orang pintar)”, dan Ketujuh adalah Tempe yang berarti: “Temenono olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah (Yakinlah dalam memohon pertolongan sang pencipta)”.

Boleh saja pitutur atau nasehat yang disimbolkan dalam Sayur Lodeh Tujuh Rupa tersebut dianggap mengada-ada atau di pas-paskan saja. Namun setidaknya memakan sayur yang penuh dengan tanaman penuh gizi dan sehat tersebut bisa memperkuat imunitas tubuh kita.

Bukankah sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga telah menyebut bahwa masakan tradisional yang sering ditemui sehari-hari di Indonesia bisa untuk tangkal corona.

“Terkait herbal, kita pahami herbal ini dulu sudah diakui oleh nenek moyang kita turun-menurun. Dan ini sangat-sangat bagus untuk meningkatkan imunitas,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto di Istana Kepresidenan, Selasa 10 Maret. Yurianto menyebutkan, masakan-masakan tradisional di Indonesia saat ini sebenarnya sudah banyak yang banyak mengandung herbal, atau berasal dari rempah-rempah seperti jahe, kunyit, dan sebagainya.

“Kita sebenarnya setiap hari kalau makan masakan tradisional, itu full herbal. Kalau kita berbicara sayur lodeh misalnya. Juga sayur asem, itu sudah herbal juga,” tuturnya.

Jadi sayur lodeh pitung rupa ini merupakan salah satu warisan kearifan lokal yang patut kita ambil makna dan nasehat yang dikandungnya, selain memang jenis makanan ini memang menyehatkan secara gizi. |WAW-JAKSAT