Sayang Mana, Dokter atau Politisi?

0
555
Tere Liye

JAKARTASATU.COM– Berapa tahun kita bisa menyiapkan seorang dokter yang baik? SD, SMP, SMA, lantas tambahkan kuliah kedokteran, lantas tambahkan yang lain-lainnya. Jadi dokter yang baik? Belum. Dia harus berpengalaman bertahun-tahun, bertahun-tahun, menghadapi ribuan kasus, membaca ribuan buku, menghadiri ratusan seminar, pendidkan lanjutan, dll, dll. Butuh panjang sekali proses menyiapkan seorang dokter yang baik, yang ketika kita datang menjumpainya, dia tersenyum ramah, penuh pengabdian nan tulus, lantas mulai menggunakan seluruh ilmu, pengetahuan, wawasan, pengalamannya, untuk menolong orang yang sakit. Semakin matang pengalamannya, maka semakin berharga dokter tersebut.

Lantas kita biarkan mereka gugur dalam hitungan hari? Hanya gara-gara tidak ada Alat Pelindung Diri (APD) dalam menghadapi pandemi Covid-19 (corona)? Setiap hari dokter, perawat, gugur dalam perang melawan corona ini. Saat mereka gugur, seluruh proses panjang itu, seluruh ilmu, pengetahuan, wisdom, pengalaman itu juga dibawa pergi.

Berapa tahun kita bisa menyiapkan politisi?

Sorry, cukup satu detik saja.

Bapaknya anggota DPR, Ibunya anggota DPRD, atau Uwak, Pakdenya Gubernur, Bupati, Wali Kota, atau Bapaknya Presiden, besok anaknya mau nyalon jadi calon anggota legislatif, jadi pejabat. HANYA BUTUH SATU DETIK SAJA! Beres. Anaknya masuk dalam daftar pencalonan. Omong kosong sekali soal kalau anaknya mampu boleh dong. Kalau yang rakyat yang milih, boleh dong. Kalian benar-benar kemakan bullshit besar. Dan besok lusa di tengah suramnya literasi demokrasi sebuah negara, jadi sudah dia pejabat, dipilih. Untuk kemudian cengengesan bilang corona itu cuma mobil, corona itu cuma rondo, corona itu cuma butuh nasi kucing, bla-bla-bla.

Demikianlah tulisan ini dibuat dengan seksama, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bahwa, hipokrasi di negeri ini sudah dirayakan dengan megah bersama-sama. Mari bersulang di atas bangkai-bangkai petugas medis yang bahkan urusan ngasih mereka APD yg memadai saja leletnya minta ampun. Tapi tiket pesawat murah, subsidi pajak triliunan untuk orang jalan-jalan, beberapa minggu lalu beres seketika.

Kami butuh bukti nyata. Banjiri semua RS di Indonesia, front terdepan peperangan ini dengan APD. Siapkan APD yang paling bagus, paling prima, jangan seadanya. Masa’ urusan beginian, malah rakyat yang sibuk donasi, patungan, bahu-membahu. Bantu petugas medis ini, siapkan tempat mereka tinggal sementara. Siapkan makanan mereka, siapkan transportasi mereka, semua siapkan. Mereka itu banyak yang punya bayi, balita, di rumah. Dan itu semua tanggung-jawab PEMERINTAH. Bukan tanggung-jawab mamang sayur.

*Penulis Novel, Tere Liye