Dokter Lintas Batas dan IDI Gelar Peltihan Pra-Penempatan Dokter Relawan COVID-19

0
768
Poster perekrutan relawan tenaga medis oleh pemprov DKI Jakarta/IST

JAKARTASATU.COM – Di tengah lonjakan kasus COVID-19 di negara ini, Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas bekerja sama dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dalam pelatihan pra-penempatan dokter relawan untuk respons COVID-19.

“MSF bekerja sama dengan IDI untuk memberikan pelatihan dan pengarahan kepada dokter sukarelawan sebelum penempatan mereka di rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh negeri,” kata Daniel von Rège, direktur MSF di Indonesia.

Pembekalan, yang dilakukan secara daring mengikuti protokol jarak jauh fisik, dihadiri oleh lebih dari 40 dokter sukarela yang direkrut oleh PB IDI dan PDUI. Sebagian besar dari mereka berbasis di Jakarta dan sekitarnya, dengan beberapa dari daerah lain di Indonesia.

Selama pengarahan, von Rège berbagi informasi standar MSF tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Dr Cleopas Martin Rumende, Sp.PD-KP dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo memberi pengarahan kepada para peserta tentang aspek medis dari tanggapan COVID-19 dan Dr. Lucky Cahyono M.Kes dari PB IDI menjelaskan protokol dan standar Organisasi Kesehatan Dunia.

Sementara itu, Ketua Umum PB IDI, Dr. Daeng M. Faqih SH MH menyatakan penghargaannya atas kesediaan dokter sukarelawan untuk berpartisipasi dalam respons COVID-19 ini. Beliau mengingatkan mereka tentang penggunaan APD yang tepat saat bertugas sebagai perlindungan dari virus.

“Saya juga meminta tim koordinasi membuat sistem informasi yang baik untuk respons COVID-19 sehingga tim pendukung dapat memantau perkembangan dan memberikan bantuan kepada dokter sukarelawan kita yang berada di garis depan,” tambah Daeng.

Sampai saat ini (27 Maret 2020), Indonesia memiliki total 1.046 kasus positif COVID-19, dengan 46 pemulihan, dan 87 kematian. Sementara itu, jumlah pasien di bawah pengawasan terus meningkat. Selain itu, jumlah tenaga medis yang tersedia sedang berjuang untuk memenuhi tuntutan peningkatan COVID-19 pasien di rumah sakit.

Dengan tindakan pemerintah untuk menambah fasilitas kesehatan, seperti mengubah Wisma Altet Kemayoran menjadi rumah sakit darurat untuk COVID-19, PD IDI dan PDUI mengambil inisiatif untuk mendukung perekrutan dan penempatan dokter sukarela. Wisma Altet Kemayoran, yang memiliki kapasitas 650 kamar dan dapat menampung maksimal 1.750 orang, adalah tempat angkatan pertama dokter sukarelawan akan ditugaskan. Mereka akan bertugas selama 14 hari, dan akan menjalani karantina selama 14 hari berikutnya setelah penugasan mereka. Gelombang berikutnya akan memulai tugas mereka sementara gelombang sebelumnya menjalani karantina.| WAW-JAKSAT