Mantan Agen CIA Beberkan Kemungkinan Siapa Sebenarnya Pencipta Virus Corona?

0
574
Seorang pria yang diyakini sebagai pasien pertama coronavirus di Wuhan, Hong Kong tengah dirawat/IST

JAKARTASATU.COM – Masyarakat selama ini hanya mengetahui melalui media-media mainstream pada umumnya yang selalu memberitakan bahwa asal mula virus Corona itu berasal dari mikroorganisme yang ditularkan kelelawar liar yang dikonsumsi oleh warga etnis China di Wuhan.

Ternyata berbeda dengan apa yang diberitakan Strategic Culture Foundation (1/4/2020), dimana diungkapkan oleh Mantan perwira intelijen militer dari Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA, Philip Giraldi bahwa virus corona tidak terjadi karena proses alami  dengan melalui mutasi genetika. Melainkan sengaja diproduksi di sebuah laboratorium, dimana disebutkannya pula bahwa untuk menciptakan virus tersebut, AS telah berkonspirasi dengan Israel.

Melalui artikelnya yang dipublikasikan Strategic Culture Foundation (1/4/2020) tersebut, Giraldi memperlihatkan adanya beberapa bukti yang membantah bahwa di provinsi-provinsi yang berdekatan di Cina, di mana kelelawar liar lebih banyak, ternyata belum mengalami wabah besar penyakit tersebut.

Berdasarkan fakta adanya faktor-faktor lain itulah maka ada juga spekulasi yang signifikan bahwa Coronavirus tidak terjadi secara alami melalui mutasi melainkan diproduksi di laboratorium, mungkin sebagai agen perang biologis.

Gilardi memaparkan beberapa laporan menunjukkan bahwa ada komponen virus yang terkait dengan HIV yang tidak mungkin terjadi secara alami. Jika benar bahwa virus telah dikembangkan atau bahkan diproduksi untuk dipersenjatai, maka kebocoranya dari Institut Virologi Wuhan hingga akhirnya masuk ke populasi hewan dan manusia memang bisa saja tidak disengaja. Para teknisi yang terbiasa bekerja di lingkungan seperti itu sadar bahwa “kebocoran” dari laboratorium memang sering terjadi.

Menurut ada beberapa spekulasi lain bahwa karena Pemerintahan Trump telah terus-menerus mengangkat masalah meningkatnya daya saing global Tiongkok sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Amerika dan dominasi ekonomi, maka mungkin saja Washington telah menciptakan dan melepaskan virus dalam upaya untuk membawa pertumbuhan ekonomi Beijing dan militer mungkin turun beberapa tingkat.

Memang tak gampang untuk percaya bahwa bahkan Gedung Putih Trump akan melakukan sesuatu yang begitu sembrono, tetapi menurut Gilardi seperti yang dipublikasikan Strategic Culture Foundation (1/4/2020), ada preseden untuk jenis perilaku itu.

Pada tahun 2005-9, pemerintah Amerika dan Israel secara diam-diam mengembangkan virus komputer yang disebut Stuxnet, yang dimaksudkan untuk merusak sistem kontrol dan pengoperasian komputer Iran yang digunakan dalam program penelitian nuklir negara itu.

Diakui Stuxnet dimaksudkan untuk merusak komputer, bukan untuk menginfeksi atau membunuh manusia, tetapi kekhawatiran bahwa itu akan menyebar dan pindah ke menginfeksi komputer di luar Iran terbukti akurat karena menyebar ke ribuan PC di luar Iran, di negara-negara sejauh Cina, Jerman, Kazakhstan, dan Indonesia.

Tak pelak ada kisah Israel yang mungkin bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di Tiongkok. Para ilmuwan di Galilee Research Institute Israel sekarang mengklaim bahwa mereka akan memiliki vaksin terhadap virus corona dalam beberapa minggu yang siap untuk didistribusikan dan digunakan dalam waktu 90 hari.

Lembaga tersebut mengklaim telah terlibat dalam empat tahun penelitian tentang avian coronavirus yang didanai oleh Kementerian Sains & Teknologi dan Pertanian Israel. Mereka mengklaim bahwa virus ini mirip dengan versi yang telah menginfeksi manusia, yang telah menyebabkan terobosan dalam pengembangan melalui manipulasi genetik.

Kenyataannya beberapa ilmuwan merasa skeptis bahwa vaksin baru dapat diproduksi sedemikian cepat untuk mencegah virus yang ada hanya baru-baru ini. Mereka juga telah memperingatkan bahwa bahkan jika vaksin dikembangkan biasanya harus diuji untuk efek samping, proses yang biasanya memakan waktu lebih dari setahun dan termasuk menggunakannya pada manusia yang terinfeksi.

Selanjutnya, jika seseorang menganggap bahwa Amerika Serikat memiliki andil dalam menciptakan coronavirus pada sisa-sisa pusat penelitian senjata biologi yang dulunya luas di Ft Detrick Maryland, sangat mungkin bahwa Israel adalah mitra dalam proyek tersebut.

Peran pembantu yang dijalankan Israel dalam mengembangkan virus tersebut menurut Gilardi juga akan menjelaskan bagaimana para ilmuwan Israel telah dapat mengklaim keberhasilan dalam menciptakan vaksin begitu cepat, Bisa jadi itu karena virus dan perawatan untuk itu dikembangkan secara bersamaan.

Terlepas dari benar tidaknya pengakuan Gilardi sang mantan agen CIA tersebut, setidaknya hal ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa pengembangan senjata biologi adalah tindakan jahat yang benar-benar bisa menghancurkan dunia ini sendiri demi ambisi yang sebenarnya tidak perlu dimiliki. |WAW-Sumber: Strategic Culture Foundation

Facebook Comments