Physical Distancing Bukan Social Distancing

0
1330

JAKARTASATU.COM – Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenalkan konsep physical distancing sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. Istilah ini menggantikan konsep social distancing. Lantas, bagaimana konsep physical distancing yang benar menurut WHO?

Ahli epidemologi WHO, Dr Maria Van Kerkhove, menjelaskan physical distancing atau jaga jarak fisik perlu dilakukan di tengah penularan penyakit yang disebabkan virus SARS COV 2. Keberhasilan membendung virus ini diyakini tergantung sejauh mana manusia disiplin melakukan jaga jarak fisik.

Kerkhove mengilustrasikan bagaimana virus menular tanpa adanya upaya penjagaan jarak fisik. “Jika Anda menghadiri sebuah pertemuan yang dihadiri orang ramai, sementara Anda terinfeksi virus, maka virus di tubuh Anda punya kesempatan besar untuk menularkan ke orang lain. Karena secara fisik Anda lebih dekat satu sama lain,” terang Kerkhove, dikutip dari laman resmi WHO, Kamis (4/2/2020).

Jaga jarak fisik merupakan upaya memisahkan orang-orang. Jika orang-orang tersebut saling berjarak, maka akan menghapus paparan virus. Jarak fisik menghilangkan kesempatan bagi virus untuk berpindah antara satu orang ke orang lain.

Tetapi jarak fisik bukan berarti pemutusan hubungan sosial. Physical distancing bukan berarti “harus memutuskan hubungan dari orang yang kita cintai, dari keluarga kita.” Maka perubahan istilah social distancing menjadi physical distancing menjadi penting. Social distancing terkesan ingin menjauhkan hubungan sosial manusia. Dengan istilah physical distancing, orang-orang masih bisa terhubung dan bersosialisasi satu sama lain.

Di era kemajuan teknologi sekarang ini, hubungan sosial masih bisa dilakukan tanpa harus bertemu fisik. “Teknologi bisa membuat orang tetap terhubung dengan banyak cara tanpa benar-benar secara fisik berada dalam satu ruangan yang sama,” lanjut Kerkhove.

Memang situasi wabah mengharuskan hubungan sosial ditinjau ulang demi menghindari penularan antar manusia. Sementara manusia tidak bisa hidup sendiri. Kesendirian dan kesepian akan menimbulkan masalah kesehatan mental.

“Jadi temukan cara untuk melakukan itu (hubungan sosial), temukan cara melalui internet dan melalui berbagai media sosial untuk tetap terhubung karena kesehatan mental Anda sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” ungkap Kerkhove.

Kendati demikian, jarak fisik ataupun jarak sosial hanyalah satu paket dari upaya besar pencegahan penularan virus. “Itu harus menjadi bagian dari paket intervensi yang jauh lebih besar,” katanya.

Pandemi Covid-19 memaksa umat manusia untuk menyesuaikan diri pada kenyataan baru, kata Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Banyak orang yang mengalami perubahan hidupnya secara dramatis. Tedros sendiri mengakui, keluarganya harus menjalani pola hidup yang berbeda. Anak perempuannya saat ini mengambil kelas online dari rumah karena sekolahnya ditutup.

Kata Tedros, di masa sulit ini ketika semua orang diminta menjaga jarak fisik, di saat yang sama mereka harus terus menjaga kesehatan fisik dan mental. Hal ini penting dalam melakukan perlawanan terhadap Covid-19.

Ia merekomendasikan beberapa langkah yang bisa dilakukan bagi individu yang menjalani physical distancing maupun work from home alias di rumah saja. Pertama, selalu makan makanan sehat dan bergizi. Makanan ini penting dalam membantu sistem kekebalan tubuh. Kedua, batasi konsumsi alkohol dan hindari minuman manis. Ketiga, jangan merokok. “Merokok dapat meningkatkan risiko terkena penyakit serius jika Anda terinfeksi COVID-19,” katanya.

Keempat, berolahraga. WHO merekomendasikan orang dewasa agar beraktivitas fisil 30 menit dalam sehari, dan satu jam sehari untuk anak-anak. Olahraga yang dianjurkan ialah lari atau jalan-jalan, jika situasinya masih memungkinkan dan harus dilakukan dengan prinsip physical distancing.

Namun jika olahraga lari dan jalan-jalan tidak memungkinkan, Tedros meminta agar olahraga di rumah saja, bentuknya bisa mencari panduan olahraga online, yoga atau naik turun tangga.

“Jika Anda bekerja di rumah, pastikan Anda tidak duduk di posisi yang sama untuk waktu yang lama; Istirahatlah selama tiga menit setiap 30 menit sekali. Kami akan memberikan lebih banyak saran tentang bagaimana tetap sehat di rumah dalam beberapa hari dan minggu mendatang,” katanya.

Kelima, jaga kesehatan mental Anda. Merasa stres, bingung dan takut di masa krisis ini adalah normal. Namun masalah ini bisa dikurangi dengan berbicara kepada orang-orang dekat dan bisa dipercaya. Jika orang lain menghadapi masalah yang sama, Anda juga disarankan untuk memberikan dukungan pada mereka.

Tedros juga menyarankan agar kita peduli pada lingkungan sekitar, termasuk memperhatikan tetangga, keluarga, dan teman. “Kasih sayang adalah obat. Dengarkan musik, baca pesan atau mainkan permainan dan cobalah untuk tidak membaca atau menonton terlalu banyak berita jika itu membuat Anda cemas,” katanya.

Anda juga disarankan untuk mendapatkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya sekali atau dua kali sehari. Untuk meningkatkan akses informasi, WHO telah bekerja dengan WhatsApp dan Facebook. Lewat kerja sama ini, WHO akan memberikan update informasi seputar Covid-19, termasuk perincian tentang gejala dan cara melindungi diri dari Covid-19. |IH-BIRO JABAR