Pencegahan Covid-19 Tak Bisa Hanya Andalkan Iklim

0
385
Presentasi hasil penelitian BMKG/IST

JAKARTASATU.COM – Indonesia yang merupakan negara beriklim tropis sebenarnya bukan tempat yang ideal bagi virus SARS CoV 2 penyebab penyakit Covid-19. Virus ini lebih cocok di negara beriklim subtropis. Tetapi faktanya, pasien positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat.

Peneliti menyebut meningkatnya kasus Covid-19 saat ini di Indonesia lebih kuat dipengaruhi oleh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial. Di saat yang sama, pemahaman terhadap pentingnya jaga jarak atau “physical distancing” masih rendah.

Kesimpulan tersebut muncul dari kajian Tim BMKG dan Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM tentang “Pengaruh Cuaca Dan Iklim Terhadap Pandemi”. Tim merekomendasikan apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat, maka faktor iklim tropis Indonesia dapat menjadi faktor pendukung dalam mitigasi risiko penyebaran Covid-19.

Kajian tersebut juga sangat merekomendasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh dengan memanfaatkan kondisi cuaca untuk berolahraga pada jam yang tepat. Tentunya rekomendasi ini dibarengi pentingnya penerapan “physical distancing”, pembatasan mobilitas orang, ataupun kampanye “tinggal di rumah”, disertai intervensi kesehatan masyarakat.

“Karena cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (5/4).

Dwikorita menyebut kajian timnya telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada sejak 26 Maret 2020.

Dalam kajian itu, tim BMKG dan UGM mengungkap sejumlah jurnal ilmiah yang menganalisis persebaran Covid-19 terkait dengan iklim. Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate. Kesimpulannya, negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Selanjutnya, Penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 – 10 °C dan kelembapan 60-90%. Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi lingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19.

Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi COVID-19. Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1 °C) dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari.

Para peneliti menunjukkan bahwa bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1 – 9 °C). Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah.

Lebih lanjut Wang (2020) menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering. Kondisi udara dingin dan kering dapat juga melemahkan “host immunity” seseorang, dan mengakibatkan orang lebih rentan terhadap virus.

Peneliti menjelaskan, terhambatnya penyebaran virus dikarenakan kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil, sehingga penularan virus Corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat, dan akhirnya kapasitas peningkatan kasus terinfeksi untuk menjadi pandemik juga akan terhambat.

Tim BMKG-UGM menjelaskan bahwa analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian mengindikasikan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang linggi, tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua.

Disebutkan, Indonesia yang terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70 – 95%, sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19.

Namun demikian fakta menunjukkan bahwa kasus gelombang ke-2 COVID-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu.

“Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia,” kata Dwikorita. |IH-BIRO JABAR

Foto: Matahari tropis. (Iman)