Peneliti BMKG Sebut Covid-19 Seharusnya Tak Bisa Hidup di Indonesia, Kok Masyarakat yang Disalahkan?

0
482
Presentasi hasil penelitian BMKG/IST

JAKARTASATU.COM – Wabah virus Corona Covid-19 yang terus meneror Indonesia telah mendorong sejumlah ahli melakukan kajian untuk menelusurinya lebih mendalam. Salah satunya adalah Kajian Tim BMKG yang melibatkan 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Matematika serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat.

Seperti dilansir pikiran-rakyat.com Sabtu, 4 April 2020, BMKG menyebutkan bahwa pandemi virus corona seharusnya tidak dapat hidup di Indonesia. Argumen mereka sama dengan yang selama ini telah berhembus di khalayak, dilihat dari kondisi cuaca atau iklim yang menempatkan Indonesia dalam posisi memungkinkan untuk tak membuat virus corona berkembang lebih lama.

Apalagi Indonesia memiliki faktor kondisi geografi kepulauan yang dimiliki sehingga menjadikan Indonesia realtif lebih sulit terkena resiko Covid-19.

Seperti yang dilansir pikiran-rakyat.com (4/4/2020), menurut BMKG, Indonesia terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat celcius dengan kelembapan udara berkisar antara 70 – 95 persen, dua kombinasi yang bukan jadi habitat ‘mudah’ bagi virus.

“Dari kajian literatur sebenarnya (Indonesia) merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19,” tulis @InfoHumasBMKG.

Ditambah, Indonesia memiliki suhu dan kelembapan udara sebagai faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah virus corona.

Lalu kenapa nyatanya Indonesia terkena pandemi virus Corona Covid-19 juga, bahkan tergolong sebagai korban yang parah dan memprihatinkan?

Menurut BMKG seperti yang dilansir pikiran-rakyat.com (4/4/2020), hal ini diduga akibat faktor masyarakat yang tak mengikuti sederet imbauan pemerintah maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada factor cuaca dalam penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia,” tambah @InfoHumasBMKG.

Bila masyarakat dapat mengikuti berbagai imbauan yang dilakukan maka kemungkinan peningkatan kasus akan susah terjadi.

Berbekal temuan di atas, maka Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merekomendasikan berbagai upaya menekan COVID-19  di Indonesia yang dapat dilakukan oleh masyarakat luas.

“Akhirnya laporan Tim BMKG -UGM merekomendasikan berdasarkan fakta & kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya, bahwa apabila mobilitas penduduk & interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat,” lanjut @InfoHumasBMKG.

Hanya sebeginikah hasil riset tim pakar BMKG yang melibatkan 11 doktor tersebut? Kenapa masyarakat yang dijadikan penyebab anomaly berjangkitnya wabah Covid-19 di Indonesia sekarang? Bukankah ketika wabah tersebut mulai berjangkit di Wuhan China, justtru pemerintah Indonesia sendiri yang terkesan abai dalam mengantisipasinya? Ancaman pandemi Covid-19 justru dijadikan bahan bercandaan oleh pejabat pemerintah bahkan mengabaikan peringatan yang diberikan WHO.

Pun ketika pemerintah Pemprov DKI mulai melakukan tindakan ketat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 ketika pasien positif pertama muncul di Indonesia. Pemerintah pusat berkesan meremehkan antisipasi serius yang dilakukan Pemprov DKI sampai akhirnya jumlah korban melonjak tajam. |WAW-JAKSAT