Hadapi Covid-19, Pihak Berwenang di Yaman Harus Lakukan Semua yang Mereka Bisa

0
415
Salah satu dokumentasi aktivitas Dkoter Lintas Batas (MSF) di Yaman/IST

JAKARTASATU.COM – Setelah kasus pertama COVID-19 dikonfirmasi di Yaman hari ini, Médecans sans Frontières (MSF)/Dokter Lintas Batas menyerukan kepada pihak berwenang di Yaman untuk segera mengizinkan masuknya pasokan dan staf kemanusiaan ke negara itu untuk memberikan respons tanggap darurat terhadap penyakit tersebut.

Sementara pihak berwenang yang berbeda di Yaman telah mengambil beberapa langkah untuk merencanakan respons terhadap pandemi COVID-19, perang selama lima tahun berarti bahwa sistem kesehatan telah runtuh, membuat respons yang efektif terhadap penyakit ini hampir mustahil dengan sumber daya yang ada di negara itu.

“Lebih banyak alat pelindung diri (APD) dan kapasitas pengujian perlu segera diimpor ke Yaman baik untuk sistem kesehatan nasional dan untuk organisasi kemanusiaan,” kata Caroline Seguin, manajer operasi MSF untuk Yaman, “Otoritas Yaman yang berbeda juga perlu mengizinkan masuknya staf medis dan pendukung utama dari organisasi asing.”

Terlepas dari kekurangan global akan APD dan tes, negara-negara seperti Yaman yang paling rentan terhadap efek COVID-19 tidak boleh dilupakan ketika stok dibagi-bagi. Semua negara juga perlu melakukan bagian mereka dalam memfasilitasi pergerakan pekerja kemanusiaan.

MSF telah membantu pihak berwenang di Aden dan Sanaa untuk mendirikan pusat perawatan COVID-19 di kedua kota, tetapi secara keseluruhan hampir tidak ada pusat perawatan yang siap beroperasi di negara ini dan sangat sedikit dana untuk membayar staf layanan kesehatan.

Terbatasnya jumlah rumah sakit dan pusat kesehatan yang berfungsi membuat MSF percaya bahwa penyebaran COVID-19 bisa menjadi kritis jika dukungan tambahan dan tindakan tidak dilakukan dengan cepat.

“Meskipun kekuatan kami di Yaman adalah 90% staf kami merupakan orang-orang Yaman, dukungan tambahan dalam beberapa minggu dan bulan mendatang akan sangat penting bagi tenaga kerja yang sudah kewalahan,” kata Seguin. “Semua staf yang memasuki negara itu akan menjalani 14 hari karantina untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.”

Pengumuman kasus pertama yang dikonfirmasi di Yaman merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan tetapi tidak terhindarkan – Yaman adalah salah satu negara terakhir di dunia yang tidak terdaftar dengan kasus COVID-19, mungkin karena kurangnya kapasitas pengujian di negara tersebut.

Rumah sakit berjuang untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang ada di Yaman di tengah-tengah perang. Penyebaran COVID-19 akan menempatkan tekanan besar pada sistem yang sudah rusak.

Penyakit ini dapat menyebar dengan sangat cepat, terutama di tempat-tempat yang terlalu padat seperti kota dan kamp pengungsi. Di daerah pedesaan, di mana fasilitas kesehatan nyaris tidak ada, sedikit atau tidak ada kemungkinan pengujian, pelacakan kontak, isolasi dan langkah-langkah kesehatan masyarakat lainnya akan membuat respons sangat sulit.

Sedikit sekali rumah sakit dan pusat kesehatan di sana tidak memiliki kapasitas perawatan intensif untuk mengobati yang paling sakit. Mereka dengan cepat akan kewalahan sementara masih merawat korban dari pertempuran serta melayani kebutuhan medis lainnya.

Selain membantu pihak berwenang dalam mengobati COVID-19, penting bahwa aktor kemanusiaan seperti MSF dijamin aksesnya dan dapat melanjutkan kegiatan darurat penyelamatan nyawa mereka untuk wanita melahirkan bayi, orang yang terluka dalam pertempuran, atau anak-anak yang menderita kekurangan gizi.

Dalam beberapa minggu terakhir, MSF telah memulai kolaborasi dengan berbagai otoritas Yaman mengenai perencanaan mereka untuk respons COVID-19, dan MSF akan melakukan yang terbaik untuk mendukung rakyat Yaman selama beberapa minggu mendatang. Namun, tanpa kemampuan untuk membawa staf atau persediaan tambahan, kapasitas kami akan tetap terbatas.

Hadir di negara Yaman sejak 2007, sampai saat ini MSF memiliki proyek dan mendukung fasilitas di 13 gubernuran di seluruh Yaman |WAW-JAKSAT