Tatkala Covid-19 Jadi Pembunuh Kemanusiaan

0
495

JAKARTASATU.COM – Menyimak perkembangan penyebaran virus corona (Covid-19) di berbagai belahan dunia melalui pemberitaan media, tak dapat dipungkiri ternyata daya serang virus yang satu ini sungguh dahsyat dapat memporak-porandakan berbagai sisi kehidupan. Covid-19 bukanlah hanya berbahaya bagi fisik seseorang, tapi pandemi covid-19 ini bisa juga menjadi pembunuh berdarah dingin “rasa kemanusiaan” sebagian orang.

Perlu digarisbawahi diakui atau tidak, bahwa pandemi covid-19 ini bisa juga menjadi pembunuh berdarah dingin “rasa kemanusiaan” seseorang. Dia dapat membunuh rasa kemanusiaan seseorang, dalam arti simpati dan empati seseorang telah hilang dalam dirinya atau “mati rasa sekaligus mati hati nuraninya” terhadap penderitaan para korban dan ahli waris korban Covid-19.

Fenomena penolakan pemakaman jenazah para korban covid-19 di berbagai daerah, persekusi terhadap para pejuang medis yang bertugas di benteng terakhir menangani pasien tapi tatkala mereka pulang ke rumah malah harus mengalami stigma negatif di lingkungan huniannya, bahkan ada seorang pejabat yang menyatakan masih sedikit kematian yang di bawah angka 500 dibanding dengan jumlah penduduk yang berkisar 270 juta-an. Ini semua merupakan bukti bahwa Covid-19 telah menjadi pembunuh rasa kemanusiaan seseorang. Mereka sudah benar-benar mati rasa, mati hati nuraninya sebagai manusia, sosoknya saja sebagai manusia namun hakikatnya kemanusiaannya telah hilang.

Bagi masyarakat awam yang menolak pemakaman jenazah korban dan mengucilkan keluarga korban Covid-19, bagi masyarakat yang masih mempersekusi para petugas medis pulang ke rumahnya, ini semua relatif mudah untuk menyadarkan mereka dengan diberikannya edukasi, sosialisasi dari pemuka masyarakat dan ulama untuk menyadarkan mereka. Yang paling sulit justru menghadapi pejabat yang sudah “mati rasa dan mati hati nuraninya” dimana telah hilang dalam dirinya simpati dan empatinya terhadap para korban dan keluarga korban Covid-19.

Jika pejabat yang telah “mati rasa” ini masih dibiarkan mengumbar pernyataan-pernyataannya yang menyakitkan bagi para keluarga korban Covid-19, hal ini akan membuat penularan yang sangat membahayakan, bisa jadi akan memunculkan sosok-sosok baru manusia yang “mati rasa” dalam krisis yang sedang kita hadapi bersama.

Kita berharap semoga wabah Covid-19 ini cepat berlalu, dan para penyandang titel mati rasa dan mati hati nurani cepat sadar kembali bahwa jumlah kematian tidak elok dan tidak pantas pula untuk diukur secara statistik.

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial