Obituari Mohammad Nadjikh : Tidak Pernah Lupa Pesan Ibunya

0
9707
Oleh: Tjahja Gunawan Diredja (Penulis Buku Autobiografi)
Ketika ajal kematian sudah menjemput, tidak seorangpun bisa mencegah. Kematian, rezeki, dan jodoh manusia , merupakan rahasia dan hak prerogatif Allah SWT. Demikian pula ketika Allah melalui Malaikat Izroil menjemput Pak Nadjikh pada hari Jumat (17/4), tugas beliau di dunia sudah berakhir.
Selanjutnya generasi kedua yakni anak-anak serta keluarga besar Pa Nadjikh dituntut untuk bisa meneruskan tugas kehidupan selanjutnya terutama melanjutkan keberlangsungan usaha Kelola Grup, perusahaan yang didirikan dan dikembangkan Pa Nadjikh dalam waktu 25 tahun terahir ini.
Antusiasme dan ide-ide Pa Nadjikh dalam menjalankan aktivitas sosial kemasyarakatan baik di Organisasi Muhammadiyah maupun di Institut Pertanian Bogor (IPB) serta kegiatan kemanusiaan lainnya diapresiasi banyak kalangan. Sosok Pa Nadjikh merupakan teladan baik yang perlu dicontoh. Tidak hanya keluarga besar dan para karyawan serta mitra usaha Kelola Group yang merasa kehilangan atas meninggalnya Mohammad Nadjikh, tetapi banyak elemen masyarakat lainnya yang juga merasakan hal yang sama. Banyak pihak yang telah bersaksi tentang kontribusi dan besarnya peran Pa Nadjikh dalam mengembangkan Muhammadiyah di bidang ekonomi terutama dalam Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM). Demikian juga di lingkungan IPB, kampus tempat Pa Najikh menuntut ilmu hingga menjadi mahasiswa berprestasi, almarhum telah memberikan kontribusi besar terutama dalam menumbuhkan jiwa entreprenership di kalangan mahasiswa.
Bahkan ketika penulis sedang menggarap Penulisan Buku “Mohammad Nadjikh Sang Teri Menggurita” tahun 2019 lalu, Pa Nadjikh tidak segan-segan mengajak diskusi sekaligus memberi motivasi kepada para mahasiswa IPB yang baru lulus. Pada waktu itu, Pa Nadjikh sempat mengudang para mahasiswa IPB untuk makan di salah satu restoran di Mall Kemang Village Jakarta. Pa Nadjikh terlihat antusias ingin menjamu para mahasiswa dengan makanan yang enak-enak. Hal itu dilakukan karena dulu dia sangat merasakan betapa pahitnya menjadi mahasiswa IPB. Selama menjadi mahasiswa, orangtuanya hanya mampu membiayai Mohammad Nadjikh (MN) selama setahun.
Setelah menjual berbagai harta kekayaan yang ada di kampung, Bapak Moenardjo dan Ibu Asnah, orangtua Pa Nadjikh angkat tangan menyerah tidak mampu lagi membiayai sekolah anak-anaknya. Selanjutnya MN mencari uang sendiri untuk keperluan kuliah dan biaya hidupnya selama menjadi mahasiswa IPB yang diselesaikannya dalam waktu 3,5 tahun.
Dalam kesempatan ini, rasanya saya perlu berbagi cerita singkat tentang bagaimana sampai bisa mengerjakan buku biografi MN. Suatu waktu pada bulan September 2018, saya tiba-tiba ditelpon MN. “Pa Tjahja, apa kabar ? Masih ingat saya ?,” tanya Pa Nadjikh di ujung telepon. “Alhamdulillah sehat. Kalau dari suaranya sih, ini pasti konglomerat dari Gresik. Tumben telepon. Ada apa nih pa ?,” jawab saya to the point. Sebenarnya saya sudah kenal MN sejak tahun 1990-an.
Bahkan sejak itu, saya sudah dua kali berkunjung ke pabriknya di Kawasan Industri Gresik. Tapi kedatangan saya ke PT Kelola Mina Laut (KML), bukan undangan dari Pa Nadjikh, tapi saya diajak dua orang pengusaha yang berbeda. Kedua pengusaha tersebut yang membawa saya mengunjungi pabril PT KML. Keduanya memiliki impresi yang kuat tentang Pa Nadjikh, seorang pengusaha daerah yang ulet dan tangguh.
Bahkkan hampir sebagian produknya berupa ikan hasil olahan diekspor ke mancanegara. Pada kesempatan pertama, saya diajak seorang dokter internist tapi ahli finance yakni almarhum Bapak Tjptono Darmadji. Kemudian kesempatan berikutnya, saya diajak Pak Chairul Tanjung, ketika saya sedang mengerjakan buku biografi “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong”, sekitar tahun 2011.
Dalam percakapan di telepon, MN meminta saya untuk menuliskan buku perjalanan perusahaanya PT KML yang kemudian berubah menjadi Kelola Grup pada ulang tahun ke 25 perusahaan tersebut di bulan September 2019 lalu. Kemudian saya katakan kepada Pa Nadjikh, “Kalau hanya menulis perjalanan perusahaan kurang menarik. Akan lebih menarik kalau saya menulis perjalanan hidup Pa Nadjikh sejak dari kecil sampai sekarang. Mulai dari nol hingga mampu mendirikan dan mengembangkan perusahaan selama 25 tahun”. Singkat cerita, akhirnya beliau setuju dan saya pun ngebut mulai wawancara sana-sini. Tidak hanya ngobrol dengan sejumlah karyawan dan direksi perusahaan, tetapi saya juga pergi ke tempat kelahiran Pa Nadjikh di Desa Karangrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Bukan hanya menemui keluarga dan kerabat Pa Nadjikh, tetapi saya juga sengaja mendatangi Pondok Pesantren Maskumambang, di Desa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Orangtuanya memang menginginkan anak sulung dari tujuh bersaudara ini bisa menguasai ilmu agama sejak kecil karena orangtua Pak Nadjikh dikenal sebagai pedagang ikan yang juga aktif di organisasi Muhammadiyah.
Rumah pasangan Pak Moenardjo dan Ibu Asnah (keduanya sudah almarhum), sering digunakan untuk berbagai kegiatan Muhammadiyah di Desa Karangrejo. Orangtuanya sangat terkagum-kagum dengan sosok dan keteladanan KH Nadjih Ahjad, generasi terdahulu Ponpes Maskumambang. Oleh karena itu, orangtuanya menanamakan anak sulungnya Mohammad Nadjikh.
Dalam berbagai obrolan saya dengan Pa Nadjikh, selalu dia berkaca-kaca bahkan meneteskan air mata ketika menyinggung pengorbanan orangtuanya. Demikian juga adik-adiknya Pa Nadjikh, mereka selalu merasa terharu dengan perjalanan hidup kedua orangtuanya. Ayahnya Pa Nadjikh dikenal sebagai pedagang ikan tetapi ketika usahanya bangkrut, Ibu Asnah terpaksa berjualan bubur.
Ini dilakukan agar selain untuk dijual untuk umum sekaligus juga untuk sarapan pagi anak-anaknya yang masih kecil. Pada masa-masa sulit ketika orangtua sudah tidak mampu lagi membiayai sekolah anak-anaknya, tanggungjawab terpaksa diambil alih Mohammad Nadjikh sebagai anak tertua. Sementara waktu itu, Nadjikh masih kuliah di IPB. Dia harus membiayai kuliah dan biaya hidup di Bogor, pada saat yang sama Pa Nadjikh juga harus bisa mengirim uang untuk orangtua dan adik-adiknya di kampung.
Bagaimana dia mencari uang selama masa sulit di IPB diceritakan lengkap dalam Buku “Mohammad Nadjikh, Sang Teri Menggurita”, yang rencananya akan dicetak PT Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Menjadi pengusaha sukses seperti Mohammad Nadjikh atau Chairul Tanjung, bukan semata karena cita-cita mereka tetapi lebih karena kondisi lingkungan yang memaksanya menjadi pengusaha. Sekarang Pa CT sudah menjadi konglomerat, demikian juga Pa Nadjikh merupakan salah satu pengusaha dari daerah yang juga sudah sukses. Keduanya bukan termasuk anak orang kaya atau anak pejabat pemerintah. Orangtua kedua pengusaha ini termasuk orang sederhana.
Namun dalam pengamatan saya secara langsung terhadap sosok Pa CT maupun Pa Nadjikh, keduanya bisa meraih sukses karena mereka telah memperlakukan orangtuanya terutama ibunya bagaikan Raja. Adab mereka ini perlu dicontoh oleh siapapun terutama generasi muda. Saya sebagai penulispun suka ikut merinding manakala mendengarkan, melihat langsung kemudian menuangkan dalam tulisan tentang keteladanan dan sikap mereka terhadap orangtuanya masing-masing. Mereka sangat paham betul ungkapan dalam hadist Nabi yang berbunyi: “Ridha Allah tergantung pada ridha orangtua dan murka Allah tergantung pada murka orangtua”. Engkau akan menjadi Raja kalau engkau juga memperlakukan orangtua sebagai Raja.
Sebelum saya menulis buku biografinya, Pa Nadjikh selalu menakankan kepada saya bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud untuk pamer atau ingin diacungi jempol melalui bukunya itu. “Saya hanya ingin orang lain melihat saya apa adanya dan buku biografi tentang saya ini sengaja dibuat agar orang lain mengetahui apa yang saya lakukan dalam merintis dan mengembangkan perusahaan selama 25 tahun ini.
Semoga nilai-nilai positif yang ada dalam dalam buku ini bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi masyarakat luas,” kata Pa Nadjikh. Dengan begitu, diharapkan bisa menjadi sarana pembelajaran bagi siapa pun terutama mereka yang ingin terjun ke dunia swasta, berwirausaha menjadi pengusaha maupun mereka yang ingin merintis pekerjaaan dan karier di lingkungan perusahaan swasta.
“Buku ini diharapkan bisa memberikan inspirasi dan motvasi bagi siapa saja, tentunya setidaknya bagi keluarga kami,” begitu kata pengantar Pa Nadjikh dalam buku biografinya.
Nadijikh adalah sosok yang sederhana dan low profile. Namun skala perusahaannya telah membesar dan tumbuh pesat, tetapi ketokohannya hampir tidak banyak dimuat di media massa, khususnya media mainstream. Ketika penulis masih bekerja sebagai wartawan di salah satu media mainstream di Ibu Kota, saya harus berulang kali membujuk dan meyakinkan Nadjikh agar dia mau ditulis sekaligus berbagi cerita tentang cerita sukses membangun usahanya. Waktu itu, kata Nadjikh, tidak penting siapa dirinya, yang lebih utama usahanya bisa berkembang menjadi perusahaan yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat dan bisa bersaing di dunia global.
Dalam buku biografi Pa Nadjikh, sejumlah kalangan telah memberikan testimoni. Mereka itu adalah pengusaha Chairul Tanjung, dan Dahlan Iskan, Rektor IPB Dr Arif Satria Spi Msi, dan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Dr KH. Haedar Nashir MSi, Guru Besar IPB Prof Dr Eriyatno, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, mantan Mendiknas yang sekarang menjadi Ketua Dewan Pers Prof Dr Ir Muhammad Nuh dan mantan Bupati Bojonegoro, Dr Suyoto MSi. Pa CT dalam testimoninya antara lain menyebutkan, sukses yang diraih Nadjikh itu tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Nadjikh merangkak dari bawah dalam memulai usahanya. Dia kerja keras berjibaku dalam mencari dan menciptakan peluang usaha, membangun jaringan bisnis dan meniti anak tangga dari usaha yang bersifat informal sampai menjadi usaha berskala besar seperti saat ini. “Nadjikh cerdas dalam mengembangkan arah perusahaannya,” kata Pa CT.
Sementara itu Dr KH. Haedar Nashir MSi, dalam testimoninya mengaku sudah lama mengenal Mohammad Nadjikh. “Warga dan kolega Muhammadiyah memanggil namanya Pak Nadjikh. Pembawaannya ramah dan riang sebagaimana pada umumnya kawan-kawan dari Jawa Timur.
Orang dibuatnya tidak sungkan, sehingga nyaman dalam berinteraksi. Saya mengenal lebih dekat setelah Pak Nadjikh diamanati sebagai Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah periode Muktamar Makassar 2015-2020,” kata Haedar.
Pak Nadjikh sebagai pengusaha sukses memperoleh amanat menjadi Ketua MEK karena keberhasilan dan pengalamannya dalam dunia usaha atau bisnis.
Setelah merintis dan mengembangkan usaha selama 25 tahun, selanjutnya pada 25 tahun selanjutnya Nadjikh berencana untuk membentuk yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.
Menurut Nadjikh, yayasan ini nantinya akan dipimpin oleh seorang profesional, dimana sumber pendanaannya tidak hanya bersumber dari perusahaan (Kelola Group) tetapi juga berasal dari sumber-sumber lain melalui kerjasama dengan berbagai lembaga resmi maupun organisasi sosial lainnya. Nama yayasan tersebut kemungkinan bernama Nadjikh Foundation.
Sebenarnya ide untuk mendirikan yayasan ini sudah ada sejak beberapa tahun sebelumnya, namun selama ini Nadjikh masih fokus mengembangkan perusahaan. Nadjikh khawatir kalau terlalu awal dibentuk nanti malah kegiatan yayasan yang lebih menonjol ketimbang aktivitas perusahaan. Selama ini kepedulian sosial perusahaan disalurkan melalui kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility).
Mengenai kegiatan yayasan yang nanti akan dibentuk, Nadjikh memberikan gambaran besarnya. Di bidang pemberdayaan ekonomi, yayasan akan membantu daerah-daerah tertentu dan orang-orang yang membutuhkan modal usaha kecil. Melalui konsep dana bergulir, nanti yayasan memberikan pinjaman tanpa bunga namun tetap harus dikembalikan oleh si penerima modal.
Meski bukan berupa lembaga perbankan, namun nantinya yayasan akan membantu membuat analisa kelayakan usaha dari setiap pinjaman yang diberikannya. Ini hanya modal awal saja sebagai stimulan, nanti kalau sudah berjalan dan butuh pengembangan usaha lebh lanjut akan dihubungkan oleh yayasan ke lembaga perbankan. Jenis usaha yang akan mendapat bantuan modal misalnya pembuatan perahu atau kapal untuk menangkap ikan, kemudian bantuan dan pinjaman modal kepada para petani dan nelayan yang menjadi mitra perusahaan.
Bantuan modal juga diberikan kepada usaha rumahan yang terkait dengan rantai distribusi produk-produk perusahaan. Jadi misi yayasan membantu keluarga tidak mampu melalui pendidikan adalah untuk mendongkrak ekonomi keluarga. Ini dilakukan tidak lepas dari pengalaman Nadjikh sendiri, dimana dulu dia betapa susahnya mencari uang untuk membiayai sekolah dan kuliahnya di IPB Bogor. Untuk itu, melalui yayasan yang akan didirikannya, Nadjikh akan mencari orang-orang pintar berprestasi untuk disekolahkan hingga jenjang pendidikan sarjana.
Program pemberian beasiswa ini akan bekerja sama dengan lembaga dan organisasi lain yang mempunyai misi dan visi yang sama.
Kegiatan yayasan yang terakhir tidak lepas dengan pesan dari alamarhum ibunya Mohammad Nadjikh yang selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak melupakan shalat lima waktu dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Suatu waktu Ibu Asnah, ibunda Pa Nadjikh pernah mengatakan:
“Kulo namung donga nyuwun Gusti Allah supados lare-lare sehat lan pangestu. Kulo ditinggal sedo bapake, lare-lare taksih alit-alit sedoyo. Kulo tansah sholat tahajud nyuwun dumateng gusti. Mboten nyuwun sinten-sinten. Nggih Alhamdulillah sedoyo saged mentas. Sedoyo seger-waras. Pokokipun dalem namun nglakoni sholat tahajud, dhuha, fajar. Menawi kepanggih siapa saja, putra-putri maupun cucu-cucunya yang ditanya pasti sholatnya. Meskipun putra dan cucunya sekolah di luar negeri, setiap memberi pesan pasti yang utama dan pertama adalah sholatnya”.
Saya cuma bisa berdoa kepada Allah supaya anak-anak sehat dan berkah hidupnya. Waktu saya ditinggal bapak, usia anak-anak masih kecil. Saya selalu shalat Tahajud (shalat tengah malam) meminta kepada Allah, tidak pernah minta kepada siapa-siapa. Ya Alhamdulillah semua anak-anak telah berhasil dan semua sehat-sehat.
Pokoknya saya hanya melakukan shalat Tahajud, Dhuha dan shalat Fajar. Kalau bertemu siapa saja, putra-putri maupun cucu-cucu, yang saya tanya pasti shalatnya. Meskipun mereka sekolah di luar negeri, setiap memberi pesan kepada mereka pasti yang utama dan pertama adalah sholatnya. Semoga Allah SWT menerima ibadah dan amal kebaikan almarhum Mohammad Nadjikh dan mengampuni segala dosa-dosanya. Amiin yaa robbal alamin.***
Facebook Comments