Gara-gara Adamas Belva dan Andi Taufan, Eks Komisioner KPK Anggap Milenial dan Kolonial Sama Saja

0
396
Laode M. Syarief/ist

Keputusan mundur dua Staf Khusus Presiden Jokowi, Adamas Belva Syah Devara dan Andi Taufan Garuda Putra diapresiasi banyak pihak.

Bukan saja para politisi, tapi juga sejumlah tokoh nasional. Apresiasi yang sama juga disampaikan Laode M Syarif.

Demikian disampaikan eks Komisioner KPK itu dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Jumat (24/4/2020).

“Saya menghargai dia (CEO PT Amartha Mikro Fintek Andi Taufan) telah mengundurkan diri, termasuk yang (CEO) Ruangguru (Belva Devara), juga mengundurkan diri,” ucapnya.

Menurutnya, sebagai generasi muda, tidak seharusnya ‘teracuni’ dengan tindakan hal yang
tidak semestinya dilakukan.

“Jadi, janganlah anak-anak muda ini teracuni kepalanya dengan ‘conflict of interest’,” sambungnya.

Semestinya, Adamas Belva dan Andi Taufan bisa memberikan contoh yang baik kepada generasi milenial lainnya.

Jika keduanya sudah terjebak dan terseret dalam konflik kepentingan, maka tidak ada bedanya dengan generasi yang lebih tua.

Bahkan, Syarif menyamakan generasi milenial dengan kolonial.

“Ternyata milenial dan kolonial itu sama saja sifatnya. Kalau sudah (soal) uang, lupa segalanya,” sindirnya.

“Oleh karena itu, kita berharap dalam keadaan susah, kita hindari konflik kepentingan,” sambungnya.

Syarif lantas mencontohkan kasus korupsi saat ia masih menjabat sebagai salah satu pimpinan lembaga antirasuah itu.

“Memang kenyataannya kalau dilihat di KPK selama saya di sana dan memperhatikan perilaku orang tua dan muda sama saja,” tuturnya.

Yakni kasus korupsi yang dilakukan Setya Novanto sebagai pejabat senior dengan eks Gubernur Jambi Zumi Zola yang tergolong pejabat muda.

“Contoh, kalau kita anggap Pak Setnov sudah ada di Orba tetapi Zumi Zola umurnya berapa? Jauh lebih muda dari saya,” ujarnya.

Untuk diketahui, dua Staf Khusus Presiden Joko Widodo telah menyatakan mundur dari jabatannya.

Pertama, Adamas Belva Syah Devara yang mundur setelah keikutsertaan perusahaannya, Ruangguru dalam Program Kartu Prakerja.

Belva Devara dianggap melanggar etika conflict of interest dan melakukan abuse of power.

Hari ini, Jumat (24/4), giliran Andi Taufan Garuda Putra yang mengundurkan diri. Pengunduran diri itu juga tidak lepas dari sorotan publik atas ulah Andi Taufan membuat surat berkop Sekretariat Kabinet ke camat se-Indonesia. Surat itu bertujuan untuk menitipkan perusahaannya, PT Amartha Mikro Fintech dalam giat relawan desa atasi Covid-19.

Selain diduga menyalahgunakan wewenang, Andi Taufan juga diduga melakukan maladministrasi karena menerbitkan surat dengan menggunakan kop Sekretariat Kabinet. |PSATU/JAKSAT