Catatan JAKARTASATU: STAFSUS ISTANA

0
418
Tujuh staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial, ada CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Maruf.
Tujuh staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial, ada CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Maruf.

Dua Stafsus Presiden Jokowi, Adamas Belva Syah Devara dan Andi Taufan Garuda Putra sudah mundur dari Istana. Selesaikah masalah? Tak paham lanjutannya. Cerita masih panjang.

Presiden Jokowi berikan tanggapan  dan memahami kenapa mereka mundur. Saudara Belva Devara dan Andi Taufan,” ujar Jokowi dalam keterangannya, Jumat (24/4/2020) malam.

Kendati demikian, orang nomor satu di Indonesia ini melontarkan pujian kepada keduanya.

“Mereka anak-anak muda yang brilian, yang cerdas, dan memiliki reputasi serta prestasi yang sangat baik,” sambungnya. Selama menjalankan tugasnya, sambungnya, keduanya disebut banyak membantu memberikan gagasan inovasi di berbagai sistem pelayanan publik agar menjadi lebih cepat dan efektif.

Dengan segudang prestasi dan capaian yang sudah mereka buat, Jokowi yakin keduanya akan sukses di bidang masing-masing. “Belva di bidang pendidikan dan Andi Taufan di bidang tekfin keuangan mikro dan usaha kecil,” ujarnya.

Kita tahu dua Staf Khusus Presiden Joko Widodo telah menyatakan mundur dari jabatannya. Adamas Belva Syah Devara yang mundur setelah keikutsertaan perusahaannya, Ruangguru dalam Program Kartu Prakerja dengan anggran 5,6 T tanpa tender. Belva Devara dianggap melanggar etika conflict of interest dan melakukan abuse of power.

Lalu Jumat (24/4), giliran Andi Taufan Garuda Putra yang mengundurkan diri karena sorotan publik atas ulah Andi Taufan membuat surat berkop Sekretariat Kabinet ke camat se-Indonesia. Surat itu bertujuan untuk menitipkan perusahaannya, PT Amartha Mikro Fintech dalam giat relawan desa atasi Covid-19. Selain diduga menyalahgunakan wewenang, Andi Taufan juga diduga melakukan maladministrasi karena menerbitkan surat dengan menggunakan kop Sekretariat Kabinet.

Sejumlah pihat berkomentar: Laode M Syarif misalnya eks Komisioner KPK itu dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Jumat (24/4/2020) mengatakan menghargai dia (CEO PT Amartha Mikro Fintek Andi Taufan) telah mengundurkan diri, termasuk yang (CEO) Ruangguru (Belva Devara), juga mengundurkan diri.

“Generasi muda, tidak seharusnya ‘teracuni’ dengan tindakan hal yang tidak semestinya dilakukan. Janganlah anak-anak muda ini teracuni kepalanya dengan ‘conflict of interest’, Semestinya, Adamas Belva dan Andi Taufan bisa memberikan contoh yang baik kepada generasi milenial lainnya,” jelasnya.

Pernyataan keras juga disampaikan Laode keduanya sudah terjebak dan terseret dalam konflik kepentingan, maka tidak ada bedanya dengan generasi yang lebih tua. “Ternyata milenial dan kolonial itu sama saja sifatnya. Kalau sudah (soal) uang, lupa segalanya,” sindirnya. Syarif lantas mencontohkan kasus korupsi saat ia masih menjabat sebagai salah satu pimpinan lembaga antirasuah itu.

“Memang kenyataannya kalau dilihat di KPK selama saya di sana dan memperhatikan perilaku orang tua dan muda sama saja,” tuturnya.

Yakni kasus korupsi yang dilakukan Setya Novanto sebagai pejabat senior dengan eks Gubernur Jambi Zumi Zola yang tergolong pejabat muda.

“Contoh, kalau kita anggap Pak Setnov sudah ada di Orba tetapi Zumi Zola umurnya berapa? Jauh lebih muda dari saya,” ujarnya.

Dengan mundurnya kedua stafsus istana, maka bagaimana tugas yang lima lain apa pincang, kan kedua yang mudur ini merupakan bagian dari tujuh Stafsus milineal yang baru bekerja sebagai Stafsus di lingkungan istana sejak lima bulan lalu setelah dilantik pada 21 November 2019.  Jika keduanya ada yang sempat memujinya bahwa yang bersangkutan adalah “anak muda yang cerdas dengan reputasi dan prestasi yang sangat baik”, mestinya perlu ditambahkan bahwa keduanya masih sangat minim pengalaman selaku pejabat publik. Minim pengalaman inilah yang semestinya menjadi tanggung jawab komandan untuk mendidik dan mengarahkan prajuritnya agar tidak salah langkah.

Kekeliruan langkah yang telah dilakukan oleh keduanya sehingga sempat menimbulkan kegaduhan publik, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi Stafsus lainnya yang masih bercokol sebagai Stafsus untuk mengavaluasi diri. Evaluasi diri terhadap fungsi dan peran Stafsus yang sempat dipertanyakan publik semenjak penunjukkannya.

Kini tiba waktunya bagi lima Stafsus sisanya untuk evaluasi diri, benarkah keberadaannya saat ini layak dipertahankan terlebih saat ini negara sedang dalam krisis menghadapi penyebaran wabah Covid-19. Semoga kekeliruan langkah kedua teman sejawat yang sempat menimbulkan kegaduhan publik yang pada akhirnya mengambil keputusan “undur diri”, tidaklah terjadi pada kelima stafsus yang masih tersisa. Bisakah?

CATATAN JAKARTASATU