Petani Sawit Tewas, Pigai Sebut Presiden Tuli

0
733

JAKARTASATU.COM– Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai meminta Mabes Polri, Kompolnas, dan Komnas HAM RI memeriksa tata kelola keamanan di Provinsi Papua. Hal ini ia pinta setelah adanya kasus dugaan penganiayaan oleh oknum polisi terhadap petani sawit yang menyebabkan kematian.

“jubi.co.id/diduga-sempat-…  Diduga dianiaya polisi, 1 petani sawit tewas. Penganiayaan & pembunuhan  warga sipil di tengah Covid-19 sgt masif. Presiden tuli, bisu & diam. Sy minta Mabes Polri, Kompolnas dan Komnas HAM periksa tata kelola keamanan di Provinsi Papua. @jokowi, @DPR_RI,” demikian pintanya, ketika mengomentari berita di salah satu media dengan judul: “Diduga sempat dianiaya polisi, 1 warga Asiki meninggal di klinik perusahaan sawit”, Senin (18/5/2020), di akun Twitter-nya. (https://twitter.com/nataliuspigai2/status/1262266319455412224?s=21)


Berikut informasi yang menyangkut kematian seorang petani tersebut, dikutip dari media yang Pigai komentari:

“Seorang warga Distrik Asiki, Kabupaten Boven Digoel, Papua, meninggal dunia di klinik perkebunanan kelapa sawit PT Tunas Sawa Erma pada Sabtu (16/5/2020). Sebelum meninggal, warga bernama Marius Betera itu diduga dianiaya polisi.

Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC meminta dugaan penganiayaan itu diusut, dan pelakunya diproses sesuai hukum yang berlaku. Sementara Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turun tangan menangani kasus itu.

Pada Sabtu pagi Marius Betera mendapati kebun pisangnya rusak. Kebun pisang itu berada di areal Camp 19 perkebunan PT Tunas Sawa Erma (TSE), sehingga Betera menduga kebunnya dirusak eskavator milik PT TSE.

Betera lalu mendatangi pos polisi di Camp 19, untuk mengadukan masalah itu, namun gagal bertemu pejabat di sana. Korban lalu mendatangi kantor PT TSE di Camp 19, dan mengadukan masalah perusakan kebunnya itu.

Kepada manajemen PT TSE, ia menyatakan perusahaan belum pernah mengumumkan kebun pisangnya akan dibersihkan perusahaan, sehingga ia tak sempat memanen pisangnya. Betera marah dan menyatakan merasa dirugikan atas peristiwa itu.

Saat Betera akan pulang, ia ditemui seorang polisi berinisial M. Di depan sejumlah karyawan perkebunan itu, M memukuli Betera, dan menendang perut korban. Jubi menerima sejumlah kesaksian yang menyatakan telinga Betera berdarah akibat pemukulan itu. Sepengkapnya: https://jubi.co.id/diduga-sempat-dianiaya-polisi-1-warga-asiki-meninggal-di-klinik-perusahaan-sawit/

RI-JAKSAT