#CatatanJakarta dari Seorang Socialpreneur

0
145
ilustrasi

JAKARTASATU.COM – Beberapa hari terakhir orang sibuk mengutuk pengunjung pasar tradisional yang berdesakan. Padahal baru seminggu ini.

Kemungkinan besar pembelinya baru dapat THR atau pesangon, dan dua bulan anak-anaknya tinggal di rumah. Jadi begitu ada uang, langsung euforia ke pasar.

Disisi lain, pengunjung IKEA juga dibully di sosmed karena melakukan hal yang sama. Sementara saya disini yang belanja mingguan di sebuah super store di pusat kota Jakarta sudah terbiasa melihat pemandangan itu.

Setiap kali kesana siang hari, nggak pernah kebagian parkir. Desak-desakan? Jangan tanya, ada 7 pintu kasir dengan masing-masing  antrian 3-4 orang.

Di dalamnya lebih berdesakan lagi. Pernah saya coba datang jam 7 malam dan punya kesempatan belanja 1 jam sebelum tutup, tetep aja parkirannya penuh, customernya banyak. Sialnya barang-barang sudah habis. Ke pasar Mayestik lewat jam 11 siang juga sesaknya nggak berubah, masuk parkir aja susah. Beruntung kalau bisa parkir di jalanan yang seringkali penuh juga.

Demi apa?

Ya, kalau aku sih harus belanja mingguan. Yang lain juga mungkin sama alasannya. Nge-GoFood terus lama-lama bangkrut bok, lha harga makanan di GoFood itu 20-25% lebih mahal dari harga normal toko, ditambah ongkir, ditambah tips, yang membuat harga makanan jadi melambung 40% lebih mahal.

Tapi di kita nggak ada yang iseng mengambil foto, unggah ke medsos, dan jadi viral. Jadi massa menyimpulkan bahwa kebodohan itu milik kelas bawah (dan penerima bansos!). Padahal yang punya duit tiap hari menyesaki pasar modern tapi bebas bully.

Kebosanan dan kebodohan nggak kenal kelas. Yang hidupnya berkecukupan tiap hari bisa ke pasar. Yang hidupnya pas-pasan kalau nggak ada duit ya nggak punya pilihan selain diem di rumah. Kebetulan aja dana THR dan PHK baru cair.

Tulisan dari FB, Nuning Hallett, dimuat sudah atas izin dari penulisnya

Facebook Comments