Pemimpin Restu Rakyat

0
111
Hendrajit Direktur Eksekutif Global Future Institute/ist
JAKARTASATU.COM – Para pemimpin kita harus terbiasa ke bawah, lalu kembali ke atas, buat merundingkan kembali apa yang kita alami ketika di bawah. Itulah seni untuk menyelami jiwa rakyat. Dan memperoleh kepercayaan dan restu rakyat.
Jangan mengasingkan diri dari pergaulan dengan berbagai lapisan masyarakat. Kalau mau menyelami jiwa dari tenaga kerja di bidang industri, datangilah pabrik-pabrik di mana para pekerja itu mengais pendapatan untuk menyambung hidup.
Jangan kau mengira, ketika dirimu bisa membikin rakyat tertawa atau menangis, maka otomatis bisa menggerakan rakyat untuk maju atau mundur. Tidak bisa, jikalau dirimu tidak menyelami jiwa rakyat.
Di Inggris abad ke-19, ada aliran sosialisme yang namanya Sosialisme Fabian. Inilah cikal bakal kaum sosialis demokrat yang kemudian berkembang di eropa, maupun di Asia, termasuk Indonesia. Pikiran dan pengetahuannya sosialis, namun jiwanya tak mau bergaul dan membaur dengan elemen2 sosial tulang punggung sosialisme, yaitu buruh pabrik.
Mereka menyatukan diri dengan kaum buruh, ketika ada krisis politik. Dalam keadaan normal, mereka nafsi-nafsi. Mereka ini sejatinya elitis, dan tidak mengakar ke bawah. Dan tidak punya jaringan terorganisir yang merupakan hasil rajutan berbagai elemen bangsa atas dasar basis sosial maupun basis budaya.
Watak beberapa kalangan pemimpin kita, yang hanya mau bergaul dan membaur dengan umat Muslim di saat krisis, selalu dengan seenaknya meninggalkan umat yang dia klaim awalnya sebagai barisan, maka itu khas mentalitas kaum sosialis fabian, cikal bakal kaum sosialis demokrat.
Mindset sosialis fabian dan sosialis demokrat inilah, yang kemudian semakin kisruh ketika ikut memotori terbentuknya partai komunis di Indonesia. Tampilan dan gayanya komunis, namun cara pandang dan pola pikirnya adalah sosialis demokrasi ala Sosialis Fabian Inggris. Seolah-olah sosialis.
Tidak seirima antara pikiran dan gaya hidup. Tidak seirama antara pengetahuan dan cita rasa. Tidak seirama antara tujuan dan maksud.
HENDRAJIT, Pengamat politik Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments