Resesi Dunia?

0
617
Hendrajit Direktur Eksekutif GFI / F0T0 Medita
OLEH HENDRAJIT, Wartawan SENIOR
Resesi dunia? Rasanya istilah ekonomi itupernah saya dengar sayup-sayup pada 1980-an, saat Pak Harto masih berjaya di tahta kekuasaan. Memang bikin kelimpungan berbagai kalangan, terutama pelaku bisnis.
Semua teknokrat ekonomi pimpinann Wijodjo Nitisastro dan Ali Wardhana Cs sibuk dibuatnya, begitu juga beberapa pengamat ekonomi mulai dari Kwik Kian Gie, Christianto Wibisono, sampai Dawam Rahardjo dan sosiolog Arif Budiman tiada hari tanpa ngomong ekonomi dan resesi dunia.
Tapi di lapis masyarakat ekonomi lemah, apalagi rakyat miskin, kehidupan jalan terus karena hidup memang susah ada atau tidak adanya resesi. Makanya pas denger ada istilah itu, mereka jadi bingung resesi itu apa sih.
Ketika resesi lebih merupakan konsumsi yang meresahkan bagi kalangan pelaku bisnis dan ekonomi mapan, maka resesi jadi isu yang elitis. Dan sulit untuk jadi isu yang menyetrum pusat urat syaraf rakyat di tanah air. Apalagi sebagai motivasi untuk bertindak. Yang ada rakyat malah semakin disibukkan untuk mengatasi kebutuhan dasarnya sendiri.
Bagaimana saat in sedang krisis cara pandang para pemimpin maupun berbagai tokoh masyarakat dalam menanggulangi krisis, merupakan masalah kebudayaan dan kemanusiaan yang jauh lebih sensitif dan mengena buat rakyat untuk disoal.
Karena larinya akan ke soal yang namanya kewibawaan yang lekat dengan jabatan dan kepangkatan. Apakah seseorang memang benar-benar lurah luar dan dalamnya, apakah seseorang bupati luar dan dalamnya, apakah presiden luar dan dalamnya. Cocok antara ukuran baju dan tubuh yang menyandangnya.
Manakala rakyat sampai pada kesadaran bahwa bangsa sedang dilanda krisis kewibawaan, sejarah membuktikan bukan saja sebuah rejim tumbang, bahkan juga sistem yang menopangnya. Bukan saja rajanya yang tumbang, bahkan kerajaannya. Bukan saja raja dan ratu berikut bidak-bidak caturnya yang tumbang. Bahkan juga papan caturnya.
Revolusi-revolusi besar dunia, baik itu dimotori oleh haluan keagamaan maupun marxisme seperti di Iran atau Rusia, misalnya, berhasil bukan karena jargon2 ekonomi seperti resesi dunia atau depresi ekonomi. Tapi oleh bahasa-bahasa kebudayaan yang menyengat lubuk hati masyarakat.***