NGOPI PAGI: RESESI

0
948

INDONESIA RESESI? Masa iya? Bukannya karena Pandemi ekonomi kita pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal II yang diumumkan Presiden angkanya minus 5,32 persen.

Tapi Rizal Ramli bilang tanpa Corona ekonomi Indonesia cenderung semakin nyungsep, ngeri kali abang ini kalau kritik, langsung ke jantung.

Sebab, sebelum virus yang dijuluki Covid-19 oleh WHO itu muncul di China, ekonomi Indonesia memang sudah karut-marut akibat defisit neraca perdagangan yang semakin melebar dan utang luar negeri yang semakin besar, serta berbagai faktor lainnya.

“Banyak pejabat yang mengaku virus corona nyaris tidak ada di Indonesia. Tapi, ketika IHSG menurun hingga 5300 dan rupiah anjlok Rp 14.262, para pejabat semua bilang akibat corona. Padahal, tanpa corona pun, ekonomi Indonesia cenderung semakin nyungsep karena salah-kelola. Ilmu pengibulannya benar-benar  sudah tingkat dewa,” kata Rizal manta anggota tim panel ekonomi PBB itu dalam laman indonews.id

Singapura, Korsel, Hong Kong, dan Jerman sudah terjebur jurang resesi. Menkeu Sri Mulyani mengatakan Indonesia lampu kuning. Rizal Ramli mengatakan kita sudah masuk. “Resesi itu definisinya pertumbuhannya negatif. Kuartal ini kita negatif, kuartal depan juga bakal negatif,” kata Menko Perkenomian di Era Presiden Gus Dur ini.
(Definisi resesi ekon adalah 2x triwulan ekon tumbuh negatif-ID)

“Jadi, kita ini sudah resesi. Daya beli nggak ada, pengangguran naik, krisis kesehatan, ya resesilah,” kata ekonom senior ini dalam sebuah diskusi virtual seperti diberitakan Detik.Com 16 juli lalu.

Pemerintah memang telah merevisi pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 dari -3.8 persen menjadi -4,3 persen. (Yang terjadi real adalah -5,3%..! ID)

Faisal Basri, ekonom senior Indef dan UI, juga sependapat dengan Rizal Ramli bahwa kita sudah resesi. “Kalau resesi sudah, deh, sudah hampir pasti. Jadi yang penting recovery-nya, bukan diskusi resesi atau tidak. Bagaimana caranya resesi yang cetek, tidak dalam,” katanya seperti diberitakan CNN 27 Juli lalu.

Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani di depan anggota DPR memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II ini adalah minus 3,5 hingga minus 5,1 persen dengan rentang tengah minus 4,3 persen. Nyatanya justru menjadi minus 5,32 %. Rupanya meroket ke bawah alias nyungsep itu meluncur tak tertahankan. Diprediksi kuartal III dan IV masih terus minus.

Negara mengalami resesi ekonomi bukan semata akibat covid 19, tetapi sebelumnya juga pergerakan ekonomi sudah mengarah pada resesi. Pelambatan ekonomi menyebabkan banyak perusahaan tutup, artinya PHK. Berakibat pada daya beli yang menurun. Investasi yang bermasalah termasuk pasar keuangan karena menurun nilai suatu portofolio atau aset seperti saham.

Faisal Basri menilai sementara kalangan resesi dipandang sebagai hantu gentayangan yang siap menerkam. Ada yang lebih jauh mengaitkan hantu resesi dengan hantu yang menjelma sebagai krisis ekonomi tahun 1998. Lebih dramatis lagi, ada yang melontarkan isu bakal ada penjarahan seperti terjadi tahun 1998. Memang kala itu kita mengalami krisis ekonomi yang amat berat, terparah dalam sejarah perjalanan Bangsa. Sedemikian parahnya karena berbarengan dengan krisis politik dan krisis pemerintahan.

Krisis ekonomi tahun 1998 dipicu oleh krisis keuangan/finansial. Ditandai oleh kejatuhan harga-harga aset, bisnis dan konsumen tak mampu membayar utang, dan lembaga keuangan kekeringan likuiditas karena masyarakat panik sehingga menarik dananya di perbankan, takut nilai uang mereka semakin susut.

Pasar saham “nyungsep” atau mengalami crash. Nilai tukar rupiah melorot karena masyarakat tidak percaya dengan mata uangnya sendiri dan dunia usaha berburu dollar untuk membayar utang yang banyak dalam valuta asing. Orang-orang kaya, koruptor, dan konglomerat melarikan uangnya ke luar negeri.

Semua itu membuat perekonomian lumpuh. Perekonomian mengalami kontraksi lebih dari 13 persen. Akibatnya pengangguran melonjak dan puluhan juta orang jatuh miskin.

“Dampak pandemik coronavirus COVID-19 terhadap perekonomian berbeda-beda. Vietnam diperkirakan tak sampai mengalami resesi. Pertumbuhan ekonomi Vietnam tahun ini diproyeksikan masih positif. Untuk Indonesia, ADB dan IMF memperkirakan pertumbuhan negatif atau bakal mengalami resesi. Sementara itu, Bank Dunia keluar dengan prediksi stagnan alias ekonomi Indonesia tidak mengalami pertumbuhan tetapi tidak pula merosot. Namun, seandainya pun Indonesia mengalami resesi, kontraksinya jauh lebih ringan ketimbang Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand,”kata Faisal.

Nah tertunduk lesu pak Jokowi yang awalnya pernah hingar bingar mengkampanyekan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan segera “meroket”. Pengumuman saat rapat terbatas Kabinet Indonesia Maju tersebut dinilai sebagai kegagalan dan frustrasi Pemerintah, begitu tulisan Rizal Fadillah.

“Rilis BPS soal pertumbuhan ekonomi tentu memukul Presiden dan jajaran kabinet terutama penanggungjawab bidang ekonomi. Jika Presiden Jokowi marah-marah lagi maka itu tak lain adalah ia yang sedang memarahi dirinya sendiri. Rakyat juga sedang menanti waktu untuk memarahi Presiden yang tak becus ini,” tulis Rizal juga.

Kurs dollar tidak akan stabil dan tentu berpengaruh pada ekspor impor. Tingkat suku bunga tinggi yang dapat meningkatkan inflasi. Sebagaimana kekhawatiran para pengamat ekonomi, bahwa pertumbuhan yang terus menurun dapat berujung pada depresi ekonomi. Kepercayaan masyarakat terhadap masa depan menjadi hilang.

Tertunduk lesunya bapak Jokowi saat sidang terbatas akibat pertumbuhan ekonomi kuartal II yang minus lima koma tiga puluh dua persen ini jangan-jangan tanda-tanda depresi. Publik masih akan menunggu pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2020 besok. Siap-siap menilai “pertanggungjawaban” kenegaraan atas kondisi politik, ekonomi, hukum, dan lainnya. Resesi membuat depresi kah ?

Jika rakyat telah melihat negara ini masuk fase depresi, maka tak ada harapan untuk masa depan. Pilihanpun hanya tinggal dua bagi para penyelenggara negara yaitu mundur atau dimundurkan. Rakyat dan bangsa Indonesia tidak boleh tertekan dan putus asa, tetapi harus terus hidup dan bergerak. Artinya absolut berganti dengan suasana baru, lanjut Kang Rizal Fadillah ini.

Nah jadi bagaimana kita menjalaninya? Jalani pola hidup kita dan bangun ruang usaha yang kreatif dalam situasi ekonomi saat ini. Agar kita secara kekuatan bisa bangun perlahan dan bangkit. Semoga saja jalan terbuka soal Resesi ini memang harus terbuka. Tak bisa di sembunyikan. Bukankah negara di dunia secara transparan mengakui ada resesi. Nah tapi kita masih malu-malu saja. Jadi bagusnya jujur saja kita jangan menyebut ambang atau lampu kuning resesi, kan ini jadi abu-abu. Jadi jika jujur maka rasanya jelas seperti kopi itu hitam dan rasanya pahit tapi jika di hikmati minumnya akan lebih syahdu dan sehat. Selamat Ngopi pagi bro….!!!

#KEBAGUSAN234, CATATAN JAKARTASATU

@AENDRAMEDITA