Mengenang Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020) AJIP ROSIDI DALAM LINGKARAN ‘SENIMAN SENEN’ YANG SEMULA KELEWAT DIREMEHKAN

0
694
OLEH P HASUNDUNGAN SIRAIT

(Penggal ke-2)

Tak sekali saja Ilen Surianegara, Ramadhan Kartahadimadja, dan Ajip Rosidi menjambangi Gubernur DKI Mayjen KKO Ali Sadikin. Untuk mengkonkritkan rencana menerbitkan majalah kebudayaan yang bakal hadir sekali sebulan, beberapa kali mereka bermuka-muka.

Suatu waktu mereka menghadap lagi dengan membawa serta kertas yang digulung. Yang tertera di sana? Bagan yang dibuat oleh pelukis Oesman Effendi sebagai terjemahan dari kehendak hati sesama seniman yang bermukim di Ibukota.
Di awal perbincangan itu Bang Ali menanya ke mana gerangan perginya para seniman yang dulu suka nongkrong di Pasar Senen. Ketiga tamunya lantas bercerita. Ajip Rosidi memang bagian dari kalangan yang bersebutan ‘Seniman Senen’.
Ramadhan KH juga dekat dengan mereka. Sekembali ke Tanah Air seusai bekerja di Sticusa (Belanda) dan belajar bahasa Spanyol di negeri matador pada 1952-1953, penerjemah karya Federico Garcia Lorca, ‘Romacero Gitano’ menjadi ‘Romansa Kaum Gitana’ (Pustaka Jaya—1973), kerap bertandang ke sana.
MACAM GELANDANGAN
Di sebuah pojokan Pasar Senen—tepatnya di antara ujung barat Jl. Kramat Bunder dan belakang bioskop Grand—terdapat warung makan-minum yang jauh dari permanen. Juga sebuah toko buku loak. Di penghujung 1930-an, ke sanalah sejumlah anak muda terdidik yang merupakan anasir jaringan gerakan bawah tanah acap merapat.
Membeli atau menggadaikan bahan bacaan, tujuannya. Tapi lama-lama ikut nongkrong juga mereka. Abdul Kapau Gani dan Chaerul Saleh, di antaranya. Kelak AK Gani menjadi dokter dan Wakil Perdana Menteri di kabinet Amir Sjarifuddin Harahap. Sedangkan Chaerul Saleh menjadi Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan kita yang pertama.
Di masa Jepang (1942-1945) tempat di belakang bioskop Grand itu menjadi pangkalan angkatan muda yang jiwanya sedang dirasuk seni. Magnit yang menarik mereka ke sana tiada lain dari anak Medan berdarah Minang yang menjadi idola, penyair Chairil Anwar. Keponanakan Sutan Sjahrir ini memang lekat ke kaum pergerakan.
Chairil Anwar yang bersama dua Minang lainnya, Asrul Sani dan Rivai Apin, mendirikan Gelanggang Seniman Merdeka pada 1946, sungguh seorang pembaharu. Tak hanya merevolusi sastra kita (terutama puisi) dengan pengungkapan yang sangat baru menggunakan bahasa Indonesia yang ternyata bisa dahsyat daya ungkapnya, dia. Peletak dasar gaya hidup (‘trend setter’) pula ia.
Sebagai si binatang jalang tulen yang dari kumpulannya terbuang, di masa itu (dan sampai sekarang sebenarnya) ia pengilham bagi angkatan muda Indonesia yang sedang dirasuk seni atau tertarik dengan alam kreatif. Gara-gara dia juga akhirnya seketika kebohemianan menjadi semacam isyarat keotentikan kesenimanan seseorang. Tak hanya di lingkungan Pasar Senen demikian, tapi di mana-mana.
Tampaknya terpengaruh oleh Chairil Anwar yang kala itu sudah almarhum (ia lahir pada 26 Juli 1922 dan berpulang pada 28 April 1949), ke Pasar Senen-lah mengalir anak muda asal Sumatra tak lama setelah penyerahan kedaulatan (dari Belanda ke Indonesia) tahun 1949. Anak Minang dan Batak yang berhadiran mulai tahun 1950—setelah ibukota Republik yang sebelumnya di Yogyakarta kembali ke Jakarta—ada yang berdarah seni tapi ada pula yang menyaru sebagai seniman.
Di Pasar Senen ada dari mereka yang kemudian beririsan dengan komunitas lain termasuk para bajingan (Buaya Senen) dan tukang catut alias calo. Penguasa di sana kala itu adalah Cobra, organisasi yang bergerak di bidang pengamanan. Pimpinannya Imam Syafei (Bang Pi’ie), mantan pejuang revolusi kemerdekaaan yang buta huruf dan kelak (Februari-Maret 1966) menjadi Menteri Keamanan di masa Presiden Soekarno.
Memang strategis Pasar Senen. Dari sana ke Gedung Kesenian di Pasar Baru yang merupakan ajang utama pementasan sandiwara (teater), kaum belia itu bisa jalan kaki; pun ke studio film yang baru segelintir. Kalau mau ke mana-mana tersedia puspa angkutan, termasuk trem. Jadi selain efek Chairil Anwar, kestrategisan pasar yang bersebelahan dengan Kwitang dan Kramat Raya itu juga memengaruhi.
Salah satu unsur kesamaan kaum muda yang sedang mencari jati diri itu adalah keurakan gaya hidup. Kejalangan yang digarisbawahi Chairil Anwar sangat mereka pentingkan. Prinsip yang jamak di antara mereka?
Agar bisa menghasilkan karya gemilang maka kebebasan berekspresi menjadi syarat mutlak. Manusia bebas itu tak terikat apa-apa kecuali oleh seni. Pikiran komersil merupakan penghianatan terhadap idealisme. Cari makan dengan bekerja di luar lapangan seni adalah cerminan jiwa lemah.
Sebagai insan merdekalah angkatan muda itu berhimpun di warung-warung di dekat bioskop Grand saban malam. Hingga subuh mereka bisa berdiskusi seru meski cuma bertemankan rokok lusuh, kopi kecil, dan ketela atau putu yang dibayar kawan yang kebetulan ber-uang.
Gagasan-gagasan besar yang mereka percakapkan meski perut terus bergolak akibat kantong kempes. Terobsesi menjadi aktor (sandiwara atau film) atau penulis skenario, atau pengarang, atau pelukis hebat, mereka.
Kebohemianannya sungguh nyata. Sebagian mereka berpenampilan serupa kaum gelandangan. Tak saja karena pakaian kumal, tubuh dekil, dan rambut-jenggot panjang tak terurus tapi juga wajah pucat dan bola mata seperti hendak copot karena diri yang kelewat sering begadang.
Omongannya serba besar tapi hasilnya nol. Dalam bertindak di lapangan kesenian mereka bisa sangat spekualatif atau kelewat nekad. Akibat segala keganjilan itu sebutan ‘Seniman Senen’ pun dilekatkan orang ke diri mereka. Maknanya tentu miring. Perendahan!
Adapun komunitas yang berkegiatan di kitaran bioskop Grand, mereka menyebut diri ‘Anak Senen’. Nanti, seiring perjalanan waktu unsurnya meluas melampaui lingkaran Minang-Batak. Meski dua etnik itu masih tetap dominan.
Lagak-laku ‘Seniman Senen’ memang sangat seru. Dua eksponen pentingnya, Syahmardan (SM Ardan) dan Misbach Yusa Biran, menggambarkannya lewat tulisan yang menarik.
Khusus tentang lelaku mereka, terutama yang gadungan, Misbach Yusa Biran menulis cerita bersambung di majalah Aneka edisi 1957-1959. Di tahun tahun 1971 karya ini ini dibukukan penerbit Pustaka Jaya yang dipimpin temannya, Ajip Rosidi. Berjudul ‘Keajaiban di Pasar Senen’, kisah karikatural ini jenaka dan sangat memikat.
Cerita berjudul ‘Nanggap Seniman’, umpamanya. Tokoh Biran dan Donggo diundang datang ke sebuah acara para mahasiswa anak gedongan. Sebagai tontonan yang eksotik yang bisa dipermainkan, mereka dimaksud. Ternyata yang terjadi justru skak balik.
Donggo yang semula serba salah tingkah akibat berada di habitat yang sangat berkelimpahan dan diperolok-olok pula, seketika kembali menjadi aktor panggung. Dengan gaya teatrikalnya ia mencela pemuda-pemudi manja yang senang dansa-dansi dan berbahasa Belanda tersebut karena masih saja menjadi parasit bagi orangtua mereka.
Biran tentu saja adalah Misbach Yusa Biran. Sedangkan Donggo adalah Abdul Dja’far Donggo, anak Sumbawa, Bima. Kelak ia menikah dengan sesama sastrawan, Poppy Hutagalung. Dua anak mereka adalah kawan lamaku sebagai sesama wartawan: Lewa Pardomuan dan Reko Alum.
Dalam karya Misbach Yusa Biran yang lain, ‘Kenangan-kenangan Orang Bandel ‘ (Komunitas Bambu—2008, kata pengantarnya oleh Ajip Rosidi), potret suasana Seniman Senen dalam keseharian di tahun 1950-an kembali hadir. Bentuknya lebih realis tapi tetap saja memikat.
Seperti saling melengkapi, SM Ardan pun berkisah tentang zaman Seniman Senen di kata pengantar ‘Keajaiban di Pasar Senen ‘ [Kepustakaan Populer Gramedia —2008] serta di kitab yang ditulisnya, ‘Jejak Seorang Aktor—Sukarno M. Noor ‘ [Aksara Karunia—2004]. Penulis buku ‘Terang Bulan Terang di Kali’ (1955) ini juga seorang pencerita yang piawai.
AJIP ROSIDI /FOTO ANDI SOPIANDI-JAKSAT
Ajip Rosidi pun pernah mengisahkan tentang ‘Seniman Senen’ di beberapa tulisannya. Namun gambarannya serba selintas saja. Termasuk waktu dia bercerita ihwal kawan lamanya yang kemudian menjadi sastrawan eksil, Sobron Aidit.
Aku sendiri baru di awal 1990-an mengetahui keberadaan komunitas Seniman Senen. Dari seorang senior kami di koran ‘Bisnis Indonesia’ aku beroleh informasi. Zahlul Pasha namanya, ia wartawan angkatan lama yang banyak meliput seni-budaya. Orang Minang yang selalu berpenampilan necis tersebut beberapa kali mengisahkan ke aku ‘kegilaan’ teman-temanya yang menjadi bagian dari ‘Seniman Senen’. Harmoko dan Zulharmans Said, terlebih.
Di tahun 1990-an itu Harmoko yang tadinya karikaturis sudah menjadi Menteri Penerangan dan Zulharmans (Bang Zul) Pemimpin Redaksi harian ‘Neraca’ setelah tidak lagi menjadi Ketua PWI Pusat.
“Kalau mengingat kelakuannya sewaktu di Senen, nggak terbayangkan kalau Pak Harmoko itu kemudian menjadi menteri,” itu antara lain ucapan Pak Zahlul yang masih kuingat sampai sekarang. Perokok berantai itu berujar sembari tergelak.
BERKIBAR
Di antara anak-anak Sumatra yang merapat ke Pasar Senen di awal tahun 1950-an itu terdapat dua sosok yang sedang giat mendalami seni peran (sandiwara dan film): Sukarno M. Noor dan Masito Sitorus. Sukarno M. Noor (ayah Rano Karno) lahir di Jatinegara dan berayahkan Muhammad Noer, seorang jurnalis Minang asal Solok, Sumatra Barat.
Masih berumur 2 tahun Soekarno M. Noor saat menjadi yatim; adiknya, Ismed M. Noor, masih bayi. Sebagai siswa SD. Ia lantas dibawa ibunya ke Bonjol. Di sana mereka bertiga bermukim sebelum pindah kemudian ke Tebing Tinggi. Muhammad Noer pernah merantau ke kota yang terletak di antara Pematang Siantar dan Medan ini.
Saat bersekolah di SMP Sukarno M. Noor diboyong pamannya ke Pematang Siantar. Ismed turut serta. Perkawanan mereka dengan Masito Sitorus bermula di sana.
Setamat dari SMP di Siantar, pada 1950 Sukarno M. Noor kembali ke Jakarta. Sambil mencari penghidupan dan dan memelajari seni peran secara informal, di Pasar Senen-lah ia sering berlabuh bila malam sudah menjelang. Teman bercengkrama-berdiskusinya di sana, seperti dikisahkan SM Ardan, terutama sesama penggelut dunia peran. Selain Masito Sitorus dan Ismed M. Noor, ada Wahyu Sihombing, Matnoor Tindaon, Muni Cader, Tiar Malang, Jeffri Sah, Mardali Syarief, Sjamsul Fuad, Chaidir Rachman, Mas, M. Amien, Wisjnu Moraudhy, Usbanda, Zulharmans Said, dan Wahid Chan.
Aktor yang namanya sudah mulai mencuat, Wahid Chan, yang menjadi kepala suku (sebutannya ‘camat’) mereka. Sebelum tahun 1955 umumnya mereka masin ‘nobody’. Sukarno M. Noor sendiri baru di tahun 1954 mendapatkan peran utama di sebuah film.
Mereka inilah, ditambah dengan beberapa orang yang sepantaran termasuk AD Donggo dan yang menyaru sebagai seniman, mahluk malam yang selalu gentayangan di belakang bioskop Grand.
Tapi mahluk siangnya juga ada. Mereka siswa Taman Madya (SMA), Taman Siswa. Setelah tamat pun mereka masih mangkal di sana.
SM Ardan, Misbach Yusa Biran, Sjuman Djaja, Soekanto SA, Sobron Aidit, dan junior yang dua kelas di bawah mereka, Ajip Rosidi, anak sekolahan itu.
Nanti, di tahun 1956, Ajip Rosidi, SM Ardan, dan Sobron Aidit menerbitkan karya bersama, sebuah buku kumpulan puisi berjudul ‘Ketemu di Jalan’.
Kenyataannya, penghidupan di Jakarta di masa itu maha berat. Dunia kesenian-kebudayaan baru saja mulai menggeliat setelah vakum sejak Jepang menjajah Indonesia. Kalaupun ada kegiatan kreatif di zaman Jepang, itu sebatas melayani kepentingan penguasa yang merasa sebagai saudara tua orang Asia itu saja.
Setelah Dai Nippon hengkang, Belanda datang lagi untuk meneruskan kolonialisme. Di masa agresi militer itu penghidupan rakyat kembali tak menentu. Para insan kreatif umumnya kembali kapiran.
Sebelum tahun 1950, perusahaan film di negeri kita hanya milik asing (kulit putih) dan Tionghoa saja. Mereka, seperti kata Gayus Siagian dalam kitab ‘Sejarah Film Indonesia—Masa Kelahiran dan Pertumbuhan ‘ (FFTV-IKJ—2010), berproduksi sekadar cari uang saja dengan mengeksploitasi selera rendah masyarakat. Mereka memperlakukan kaum pribumi yang menjadi anak buahnya, termasuk aktor, tak lebih dari pekerja bengkel berpenghasilan cekak.
Kelahiran Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini, dipimpin Usmar Ismail) pada 30 Maret 1950 serta Perseroan Artis Indonesia (Persari, dikomandani Djamaluddin Malik) pada 23 April 1951 merupakan awal pembaikan keadaan. Selain produksi lebih banyak, mutu film buatan dalam negeri pun meningkat. Kegairahan anak muda, terutama Seniman Senen, untuk menjadi aktor meninggi dengan sendirinya.
Terlebih lagi setelah kursus akting yang diadakan Perfini mulai tahun 1955 untuk kalangan sendiri kemudian dikembangkan menjadi Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang terbuka untuk umum. Usmar Ismail dan Asrul Sani yang menjadi penggagasnya. Kakak-beradik Sukarno M. Noor dan Ismed Noor mahasiswa awalnya.
Sebagai aktor sandiwara, pemain film, dan penulis naskahlah para Seniman Senen awalnya mencuat. Menjadi sutradara belakangan saja yakni sesudah nama komunitas itu kian harum. Wahyu Sihombing, Misbach Yusa Biran, Sjuman Djaja, dan Tiar Malang di antaranya. Wim Umboh yang merapat kemudian, perlu juga disebut.
Seiring kecerlangan nama sejumlah pegiatnya, perlahan tempat di belakang bioskop Grand pun menjadi kantong kebudayaan penting yang sering dijambangi orang luar termasuk yang sudah bernama besar. Para senior seperti HB Jassin, Djamaluddin Malik, dan Soerjosoemanto rajin melongoknya.
Pengarang seperti Rijono Pratikno, DS Moeljanto, dan Ramadhan KH pun menjadi bagian dari komunitas ini.
Sejumlah seniman terkemuka daerah merasa wajib singgah ke belakang bioskop Grand manakala berkesempatan ke Jakarta. WS Rendra (Surakarta), NH Dini (Semarang), Luftie Rachman (Surabaya), serta Bokor Hutasuhut dan Partahi H. Sirait (Medan), termasuk. Bokor adalah ayahanda Budi Hutasuhut, sastrawan-wartawan yang kini bermukim di Padang Sidimpuan, Sumatra Utara. Kalau datang, para pemuncak daerah itu biasanya akan dipandu Ajip Rosidi dan kawan-kawannya.
Seniman Senen yang tadinya kelewat diremehkan orang luar, terutama kalangan mapan, ternyata kemudian sangat diperhitungkan oleh siapa pun? Lantas, seperti pertanyaan Gubernur Ali Sadikin, di mana mereka kemudian berhimpun? (Bersambung)