NGOPI PAGI : PUISI, RADIO DAN KORUPSI

0
2226

#CATATANJAKARTSATU 

Tadi malam (Senin, 17 Agustus 2020) saya menyaksikan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri membaca puisi pada acara Malam Apresiasi Puisi dengan tema Indonesia Merdeka Virus Covid dan KorupsiFirli membacakan puisi berjudul “Membangun Martabat Bangsa”. Puisi ini merupakan pesan kebangsaan yang kuat dan sarat dengan peringatan agar masyarakat menjauh dari perilaku buruk bernama korupsi.

Malam itu selain Firli, Direktur Utama LPP RRI M Rohanudin juga membaca puisinya bersama penari kontemporer Lena Guslina Ada juga Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid, penyair Acep Zamzam Noor, Sutardji Calzoum, D Zawawi Imron, pembaca puisi Peri Sandi, penampilan pantomime Septian Dwicahyo, dan musik dari Dwiki Dharmawan, Ita Purnama Sari, dan Gamelan Sunda RRI.

Saya mengahadiri acara itu sebagai yang diundang resmi atas  acara ini digelar oleh Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) di Auditorium Abdurahman Saleh Kantor Pusat Auditorium RRI, Jalan Merdeka Barat, Jakarta.

Yang menarik malam itu penari Lena pun diakhir geraknya membaca puisi. Ia tampil dengan dua topeng yang olah dengan gaya khas topeng Cirebonan. Bersama M Rohanudin membaca puisi berjudul, “Kemerdekaan, Corona, dan Korupsi” penari kontemporer Lena yang memainkan peran dan ekspresi topeng-topeng di tengah keganasan budaya korupsi dan keganasan Covid-19. Visual yang dijadikan latar membawa sajian ini mendukung kekuatan.
Pada ulang tahun 75 tahun Indonesia ini, RRI dan KPK mengajak masyarakat untuk mencintai Indonesia dengan melawan korupsi. Acara ini juga menampilkan sejumlah tokoh dan testimonial dari para cucu dan anak, seperti kisah Agus Salim, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Jendral Hoegeng, Bung Hatta, Panglima Besar Jenderal Soedirman dan sejumlah tokoh lainya.
Malam apresiasi puisi RRI ini  juga  sekaligus meluncurkan buku Sehimpuan Puisi berjudul “BICARA YANG BAIK-BAIK” M Rohanudin sang Dirut dengan penerbit Buku Obor.
Apresisasi puisi RRI patut menjadi perhatian sebab ada ruang besar baru dalam dunia sastra.  Penyair Acep Zamzam Noor menulis dalam epilog bukunya “Puisi-puisi M Rohanudin yang terkumpul dalam Bicaralah Yang Baik-baik. Mengakui bahwa hadirnya nilai kesederhanaan dan kejujuran dalam antologi puisi ini telah menyentuh perasaan saya sebagai pembaca,” jelas Acep di epilognya.
Sementara Firli Bahuri salam kata pengantar Puisi itu menulis bahwa, ada beberapa puisi M Rohanudin yang didikasikan untuk pemberantakas korupsi bagi Indonesia yang lebih bermanrtabat. Dalam puisi berjudul “Kemerdekaan, Corona dan Korupsi” penilis menyampaikan keprihtainnya lewat peran penari yang memainkan topeng-topeng, ingin menaburkan beras bagi mereka yang berada di rongga kemiskinanan kareana darah sucip dihisap para koruptor,” tulisnya

Akhirnya malam apresisai puisi dari Medan Merdeka Barat itu bisa dikatakan sebagai ruang sastra baru yang tak menutup kemungknan RRI akan jadi leader dalam dunia kesusastraan kedepan. Bahkan para penyair bisa membuka cakrawala puisinya di udara lewat dimana RRI dalam dunia penyiaran yang sudah tak diragukan lagi….Ngopi pagi dulu deh, eh yang ngomong-ngomng soal baca puisi, jujur loh ketua KPK itu bagusa juga baca puisinya.***

#KEBAGUSAN234

@AENDRA MEDITA