#NgopiPagi: Kenapa Begitu!

0
781
Ngopi pagi

Ada yang gelisah dimasa Pandemi, ada yang meraup untung di masa pandemi. Maksudnya apa kang? Awalnya saya males bahas ini. Tapi kawan baik saya bilang ini Edan. Kenapa kata saya?

Iya, kayanya pembagian proyek untuk fulus ke para kawan kita nggak merata. Tapi sejak ada yang ngeluh bagi kawan kawan kreatif yang dananya hanya berupa BLT menyakitkan Bukan?

Semoga saja kebuka. Kasihan memang pelaku kreatif dimanfaatkan ngaregel curuk, (gigit jari). Loh itu ada temuan ICW ada yang dapat  sekian M?

Kawan saya tak jawab malah ia sampaikan. Ini pekerja Kreatif dikotanya saat pandemi banyak yang tak bisa bikin konsep. Padahal ada fasilitasi bidang Kebudayaan dari Ditjen Kebudayaan tak satupun di gelombang pertama tak ada yang lolos, hanya kelompok dan salah satu paguron pencak silat itu juga tidak begitu dikenal (mereka cuma minta alat kesenian). Bayangkan ada kota di Kabupaten sana 4 komunitas, kota KBB 4 komunitas yang lolos. Kota B cuma satu (pencak silat), Kota C satu juga (kelompok Bmooi).
“Sedih saya seniman banyak yang tak mandiri, mengantungkeun ka orang lain jadi aja dimanfaatkan,” kata kawan lama ini penuh prihatin.

Kawan saya menginfokan bahwa saat pandemi ini harus lebih kreatif. Ya iya kalau tak kreatif mana bisa berjalan proses kesenian kebudayaan. Tapi kenapa begitu ya ada yang kebagian banyak dan banyak banget ada yang tidak dapat sama sekali. Kenapa begitu? Nah ngopi dulu saja biar tambah kreatif. Tapi yang jangan begitu-begitu amatlah…!!! #gituaja.

#CATATANJAKARTASATU

AM