KAMI Hadir, MENGAPA Kalian PANİK?

0
820
K.H. Athian Ali

Oleh K.H. Athian Ali

Ibarat sholat berjamaah maka demi tercapainya kesempurnaan sholat, setiap makmum baik pria maupun wanita harus siap mengingatkan jika imam melakukan kekhilafan atau kesalahan dalam bacaan maupun gerakan sholat.
Di sisi lain, imam harus siap pula diingatkan jika yang bersangkutan melakukan kesalahan yang masih mungkin untuk diperbaiki. Bahkan harus bersedia untuk digantikan jika ternyata batal syarat sah untuk melanjutkan sholat karena buang angin misalnya.

Seharusnya seorang imam bersyukur jika makmum mengingatkan kekhilafannya, sebab bila tidak yang bersangkutan akan hanyut dalam kesalahan yang berakibat merusak sholatnya dan sholat para jamaah yang diimaminya.

Sholat berjamaah bak miniatur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Terlebih lagi bagi negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi. Dimana setiap warga negara bukan hanya berhak bahkan berkewajiban memberikan masukan dan mengingatkan kepada pihak yang memperoleh amanah memegang kekuasaan, jika yang bersangkutan melakukan kebijakan dan keputusan yang dinilai kurang tepat atau tidak benar.

Seharusnya setiap pemimpin terbuka dan berlapang dada dalam menerima masukan dan kritikan. Selama kritikan tersebut memiliki argumen yang kuat dan dimaksudkan semata-mata demi kemaslahatan dan keselamatan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setiap pemimpin khususnya yang muslim, selayaknya meniru sikap Abu Bakar Ash Shiddiq ra dimana ketika baru saja beliau resmi dilantik sebagai khalifah menggantikan kepemimpinan Rasululloh SAW, dimana beliau pun langsung berdiri dan menyampaikan pidato perdananya dengan di antaranya menyatakan : “Wahai saudara-saudaraku, kini aku diangkat untuk memimpin kalian, tapi itu tidak berarti saya lebih baik dari kalian. Karenanya, jika nanti saya bersikap dan bertindak baik dan benar maka dukunglah saya. Sebaliknya jika saya menyalahi amanah ini maka tegur dan ingatkan saya.

Tatkala pidato dengan isi dan makna yang sama disampaikan oleh penggantinya Umar bin Khottob ra tiba-tiba saja berdiri sekelompok pemuda yang seraya menghunus dan mengacungkan pedang mereka menyatakan : “Wahai Umar, camkan dan ingatlah, jika dalam kepemimpinanmu nanti engkau melakukan kesalahan, niscaya kami akan mengingatkan anda dengan pedang-pedang ini”.
Menyaksikan dan mendengar sikap para pemuda tersebut, Umar ra pun lalu berujar : “Alhamdulillah telah ada sekelompok pemuda yang siap mengingatkan Umar jika ia melakukan kesalahan..”

Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) hadir sebagai gerakan moral untuk ikut berperan aktif memberikan masukan, ide dan pemikiran demi untuk berperan serta dalam menyelamatkan negeri yang memang sedang kurang sehat dari berbagai aspek, khususnya ekonomi dan sosial. Semestinya semua pihak terutama pemerintah bersyukur dan menyambut kehadiran KAMI.

Sayangnya yang kita saksikan sementara ini, kehadiran KAMI malah dicurigai, dihalang-halangi, bahkan dalam acara deklarasi KAMI, berulang-kali dihadirkan sekelompok orang yang salah seorang diantaranya sempat mengaku sebagai mahasiswa yang dibayar seratus ribu rupiah untuk mengacaukan deklarasi KAMI di Bandung.

Yang lebih patut disayangkan lagi peristiwa yang terjadi di JATlM, di mana tidak seperti diberbagai daerah Iainnya, banyak pihak menilai, aparat kepolisian terkesan tidak profesional dan tidak berkeadilan ketika menyikapi pihak KAMI yang sedang bersilaturrahim di gedung, dengan gerombolan yang sedang berdemo di luar gedung.

Pertanyaan yang wajar untuk segera muncul kemudian adalah, bukankah KAMI telah berkali-kali menegaskan, bahwasanya KAMI hadir sebagai gerakan moral. Karenanya, silakan nanti diuji benar dan tidaknya tekad KAMI tersebut.
Lalu mengapa baru deklarasi saja ada pihak yang harus gelisah dan panik? Kegelisahan dan kepanikan yang didemonstrasikan oleh sementara orang tersebut, tentu saja tidak akan membuat pihak KAMI surut sedikit pun dari tekadnya untuk tetap ikut andil dalam menyelamatkan negeri ini.***