“KEKUATAN BAYANGAN” DIBALIK SKENARIO INDO CHINA RAYA

0
2399
Tarmidzi Yusuf Pegiat Dakwah dan Sosial/ist

by Tarmidzi Yusuf
Pegiat Dakwah dan Sosial

Sepertinya ada kekuatan bayangan yang mengendalikan negara. Kekuatan bayangan yang menguasai lembaga negara, partai politik, institusi sipil dan militer.

Hanya gara-gara berteriak “Bersama HRS” seorang prajurit di sanksi dan diborgol. Salahnya dimana? Apakah tidak boleh seorang prajurit muslim menunjukkan kecintaannya pada Habib Rizieq Shihab?

Rezim panik dengan kembalinya HRS ke Indonesia. Disambut gegap gempita oleh rakyat. Pertanda “Revolusi Akhlaq” sudah di depan mata.

Karena panik ngomong “Bersama HRS” dianggap pelanggaran disiplin. ‘Perlakuan’ yang tidak tepat bisa memunculkan simpati sesama prajurit. Prajurit ‘bergerak’ bisa membahayakan keamanan nasional. Apalagi preseden Ciracas belum lama terjadi.

Orang-orang kafir dan munafiq makin menunjukkan permusuhannya dengan tanpa henti menyerang tokoh-tokoh Islam seperti Habib Rizieq Shihab, Anies Baswedan, Amien Rais, Din Syamsudin dan Gatot Nurmantyo.

Jakarta dibilang amburadul. Sudah diluar nalar sehat. Kebencian pada sosok Anies Baswedan dan Habib Rizieq Shihab membuat mereka tidak mempergunakan otaknya sebagaimana mestinya.

Hanya orang yang tidak punya otak menganggap Indonesia serba normal dan seperti tidak terjadi apa-apa. Malah mengkambinghitamkan Anies Baswedan dengan menyebut Jakarta amburadul. Padahal saat berkuasa, uang rakyat dirampok ratusan triliun melalui BLBI.

Negara “tergadai”. Menunggu waktu diambil alih China komunis. Jurus ngutang berkedok proyek strategis dan negara “dilumpuhkan”.

Negara telah menjadi tempat transmigran oleh China komunis. Saya sebut transmigran karena betapa mudahnya orang asing hidup dan bekerja di rezim ini. Apalagi RUU Omnibus law Cilaka telah diloloskan DPR.

Skenario jeratan utang telah menjerat beberapa negara di belahan Afrika dan Asia. Politik dikuasai. Demokrasi dikebiri. Aktivis ditangkap dan dipenjara. Kebebasan berserikat dan berkumpul dibatasi, pembungkaman kebebasan berbicara melalui UU ITE. Negara dalam bayang-bayang China komunis.

Media bungkam seperti juru bicara rezim. Kontra demo membakar halte. Serikat buruh, mahasiswa dan aktivis “disusupi”. Konspirasi untuk membungkam. Bagi yang tidak mau “kerjasama” diintimidasi, diancam bahkan dikriminalisasi oleh sebuah konspirasi jahat. Diperlakukan bagaikan seorang penjahat, pakai rompi orange dan diborgol. Dikejar sampai ke akar-akarnya agar tidak berkembang dan membesar. KAMI buktinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. Ali Imran: 54)

Bandung, 26 Rabiul Awwal 1442/12 November 2020