Dadang M. Naser Bupati ‘Beton’ yang Bersahaja dan Anti Syiah

582

Oleh Tarmidzi Yusuf

Pengamat Politik dan Sosial

JABARSATU.COM – Sekitar pertengahan 2019 untuk pertama kali bertemu Bupati Bandung, Dadang M Naser. Pertemuan yang tak sengaja tersebut seusai sama-sama shalat dzuhur berjamaah di Masjid al-Fathu, Komplek Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang.

Warga Bandung menyebutnya Bupati ‘beton’. Di era Dadang M Naser, capaian pembangunan jalan mantap sudah mencapai 85%. Sehingga warga Bandung menggelarinya, ‘Bupati Beton’.

Setahun lebih pasca pertemuan tersebut. kembali bertemu Dadang M Naser yang sangat sederhana dan bersahaja. Ngobras alias ngobrol santai bersama Dadang M Naser, di suatu malam di rumah dinas.

Dari pertemuan tersebut, kami ngobrol tentang politik dan dakwah. Bupati yang sangat kental nuansa Sundanya, baru mengetahui kalau Bupati Bandung dua periode ini, satu barisan dalam masalah aqidah. _”Tidak ada tempat Syiah dan LGBT di Kabupaten Bandung”,_ begitu kira-kira Dadang M Naser mengungkapkan tekadnya.

Flashback sebentar ke belakang. Dalam pertemuan di Masjid al-Fathu, sempat bertanya. Apakah betul sang istri tercinta, Kurnia Agustina yang biasa disapa Teh Nia, disiapkan untuk menjadi Bupati pasca lengsernya Kang DN? Spontan Kang DN, panggilan akrabnya, menuturkan bahwa tidak ada rencana mencalonkan istrinya untuk Bupati periode selanjutnya. Ingin menikmati hari tua dengan mengurus Masjid al-Karomah. Masjid yang tepat berada depan rumahnya, begitu ungkapan Kang DN.

Saat pertama kali ke rumah pribadi Kang DN di Ciparay, tak jauh dari Masjid al-Karomah miliknya. Saya bergumam dalam hati, sederhana amat, rumah dan kendaraan yang dimiliki, sangat bersahaja. Mulai jam tangan, baju hingga sepatu. Sangat jauh dari kesan glamour.

Dalam 3 tahun terakhir. Sejak 2017 hingga 2019, Pemerintah Kabupaten Bandung menorehkan prestasi dalam laporan keuangan. BPK memberikan predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), tiga tahun berturut-turut.

Sangat beralasan bila warga Kabupaten Bandung mengharapkan Teh Nia, sang istri tercinta, membawa ide dan gagasan besar. Melanjutkan estafeta kepemimpinan menuju Kabupaten Bandung yang lebih baik.

Bandung, 22 Rabiul Tsani 1442/8 Desember 2020