TANGKAP DAN ADILI PETINGGI POLRI YANG MEMBANTAI LASKAR FPI

0
900

by Tarmidzi Yusuf
Pengamat Politik dan Sosial

Aksi pembunuhan ala PKI, sangat kejam dan sadis dilakukan terhadap enam Laskar FPI, pengawal HRS. Pembunuhan warga sipil tanpa melalui proses peradilan, extra-judicial killing.

Polda Metro Jaya membangun narasi telah terjadi drama tembak menembak antara polisi dan anggota Laskar FPI seperti diungkap Kapolda Metro Jaya. Harus diusut tuntas siapa polisi dan petinggi polisi yang terlibat. Termasuk kemungkinan keterlibatan pihak istana.

DPR, Komnas HAM, Ormas Islam dan LSM harus bergerak mendorong dibentuknya Pansus di DPR dan Tim independen pencari fakta, untuk membongkar apa yang sesungguhnya terjadi. Serta kemungkinan keterlibatan petinggi polisi dan istana dalam pembantaian dan pembunuhan enam anggota Laskar FPI yang dilakukan pihak kepolisian.

Beberapa blunder pun dilakukan oleh Polda Metro Jaya. Mulai dari narasi tembak menembak, barang bukti hingga pembunuhan berencana secara tak sengaja terbuka ke publik. Publik pun meragukan kebenaran narasi yang dibangun polisi.

يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” [QS.Al-Baqarah: 9]

Peristiwa ini mengingatkan kita pada kisah Buya Hamka rahimahullah. Dalam buku Tasawuf Modern halaman XIV – XV, Buya Hamka rahimahullah bercerita:

Satu kali pernah dikatakan satu ucapan yang belum pernah saya dengar selama hidup.

“Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia!” Kelam pandangan mendengar ucapan itu. Berat!

….gemetar tubuh saya menahan marah, polisi yang memeriksa dan mengucapkan kata-kata itu saya pandangi, dan pistol ada di pinggangnya.

Memang kemarahan saya itulah rupanya yang sengaja dibangkitkannya. Kalau saya melompat kepadanya dan menerkamnya, tentu sebutir peluru saja sudah dalam merobek dada saya. Dan besoknya tentu sudah dapat disiarkan berita di surat-surat kabar:

“Hamka lari dari tahanan, lalu dikejar, tertembak mati!” Syukur Alhamdulillah kemarahan itu dapat saya tekan dan saya insaf dengan siapa saya berhadapan.

Cerita ini mengingatkan kita tentang framing yang dibangun kepolisian.

“Telah terjadi tembak menembak di tol Cikampek KM 50 antara polisi dengan 6 Laskar FPI”

Padahal, keenam Laskar FPI tidak bersenjata. Matinya pun dibunuh dengan sangat keji dan kejam. Kejam nian kau petinggi polisi!

Bandung, 28 Rabiul Tsani 1442/14 Desember 2020