EMPAT PLUS SATU WAJAH JOKOWI

0
991
M Rizal Fadillah/FOTO OLAHAN JAKSAT

by M Rizal Fadillah

Jokowi itu Presiden dan semestinya memiliki satu wajah, apakah ganteng atau setengah ganteng itulah wajahnya. Kegantengan dimaksud adalah wajah kebijakan dan kualitas pengelolaan negara. Presiden dalam sistem kabinet presidensial sangat menentukan dalam membentuk wajah Pemerintahan. Sejalan dengan pesannya bahwa tidak ada visi dan misi Menteri, yang ada adalah visi misi Presiden.

Hasil Riset kepuasan masyarakat yang dilakukan oleh lembaga riset SMRC milik Saiful Mujani mencapai angka spektakuler 74 % tingkat kepuasan. Sebagian publik yang terbaca dari komentar di medsos meragukan akurasi dan obyektivitas riset. Kesan pesanan pun muncul. Sayang kita tidak memiliki alat atau lembaga kontrol yang dapat memberi sanksi kepada kerja riset yang bersifat tipu-tipu.

Wajah Jokowi tentu terlihat pada kinerja para Menteri. Tercatat empat Menteri terbaca oleh publik yang menggiring pada konklusi bahwa Pemerintahan Jokowi itu memang berwajah buruk. Disadari mestinya satu persatu wajah dinilai, akan tetapi empat Menteri ini yang mudah dan langsung terbaca publik.

Pertama, Menteri Keuangan yang nampak kalang kabut karena hutang luar negeri mencapai 6000 Trilyun. Bunga tahun ini yang harus dibayar berjumlah 300 Trilyun dan tahun 2021 dianggarkan 373,3 Trilyun. Sementara investasi jeblok dan pertumbuhan ekonomi kuartal III tahun 2020 minus 3,49 %.

Kedua, Menteri “segala urusan” Luhut Binsar Panjaitan. Menko Marinvest ini menjadi garda terdepan kerjasama dengan Republik Rakyat China. Program OBOR menjadi andalannya. Rakyat masih pesimis bahwa kerjasama dengan RRC adalah solusi. Konflik tenaga kerja Cina dengan pribumi menjadi sinyal dari instabilitas ke depan.

Ketiga, Menteri Agama yang dianggap selalu memojokan umat Islam. Rozi terus kampanye soal radikalisme, intoleransi, dan ekstrimisme yang arahnya adalah umat Islam. Yaqut pengganti Rozi ribut untuk mengafirmasi Ahmadiyah dan Syi’ah yang dianggap sebagai ajaran sesat. Terakhir soal tekad untuk memerangi populisme Islam yang juga menyinggung perasaan umat Islam.

Keempat, Mahfud MD Menkopolhukam. Cendekiawan dan Guru Besar yang awalnya banyak didengar karena “bijak” dan moralis. Setelah menjadi Menko maka ucapannya mencla-menclo. Lebih berposisi sebagai politisi ketimbang cendekiawan.Terakhir arogan, otoriter, dan menginjak-injak hukum dengan membubarkan dan melarang FPI.

Di samping empat wajah itu ada lagi wajah seram Hendropriyono yang jago main ancam. Mengancam yang menjadi pelindung anggota FPI, mengancam organisasi lain “tunggu giliran”. Jangan-jangan otak pembubaran dan pelarangan FPI ini sang Guru Besar intelijen. Republik Indonesia ini seperti mau dibawa menjadi negara fasis atau Nazi. Seenaknya main ancam dan menakut-nakuti rakyat.

Pak Hendro bukan Mussolini atau Hitler yang bermodal kekuasaan dan senjata bisa berbuat apa saja. Kemal Attaturk atau Ariel Sharon tak berdaya dan “ampun-ampunan” menghadapi sakaratul maut.

Jabatan dan kekuasaan bukan untuk gagah-gagahan, tetapi amanah yang harus ditunaikan dengan adil. jika tidak, maka akibatnya adalah penyesalan.

Mantan Menkopolkam Sudomo saat diperiksa Komnas HAM menyatakan bahwa peristiwa pembantaian di Pesantren Talang Sari Lampung itu yang bertanggungjawab adalah Danrem Garuda Hitam 043 dan Danrem itu bernama Hendropriyono.

Kini semakin nampak empat plus satu wajah Jokowi.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 1 Januari 2020