Ketika Tahu dan Tempe Hilang di Pasaran, Pedagang Sayur dan Emak-emak Merindukannya

0
1224

JAKARTASATU.COM – Harga Kedelai Selangit, dari pantauan Jakartasatu di pasar Lenteng Agung dan para pedagang di kawasan Pasar Minggu, Jagakarsa sampai Ciganjur semua mengeluh atas hilangnya/tak ada tempe tahu dalam dua hari ini.

“Awal tahun yang aneh tahu tempe hilang di pasar,” kata emak-emak yang enggan disebutkan namanya di pasar Lenteng Agung Jakarta Selatan, Ahad, 3 Januari 2021.

Ini terjadi dari tingginya harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe yang sangat mahal di pasaran, akhirnya mulai menuai imbasnya. Dari pantauan Redaksi di beberapa pasar tradisional seperti yang disebutkan diatas pada hari ini Minggu (03/01/2021) makanan khas rakyat dan bangsa Indonesia, yaitu Tempe dan Tahu, MENGHILANG alias tidak ada dan dijual di pasaran sampai para pedagang sayur gerobak.

Sebelumnya memang Musodik Sekjen Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI) dan juga Fajri Sa’fii kuasa hukum SPTI dalam Konferensi Pers pada hari Sabtu (02/01/2021) kemarin menyampaikan keterangannya kepada berbagai awak media, Musodik bersama Fajri dan juga puluhan pengrajin Tahu dan Tempe se- Jabodetabek serta perwakilan Pekalongan, Jawa Tengah, mengeluhkan mahalnya harga kedelai untuk bahan baku dasar pembuatan Tahu dan Tempe. Para pengrajin Tahu dan Tempe yang tergabung dalam Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI) menuding mahalnya harga kedelai disembabkan permainan KARTEL dan MONOPOLI para investor nakal investor kacang kedelai.

SPTI menuding Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 24/M-DAG/PER/5/2013 tentang ketentuan import Kedelai dalam rangka stabilitas harga Kedelai dianggap telah menghambat tumbuhnya importir-importir baru. Hal tersebut menyebabkan para importir lama SEMAUNYA menentukan harga, dan melakukan kesepakatan harga atau kesepakatan pembagian wilayah pemasaran. Hal tersebut menurut SPTI sangat bertentangan dengan UU No.5 Tahun 1999 tentang praktek Monopoli dan Persaingan usaha yang tidak sehat.

Menanggapi menghilangnya Tahu dan Tempe sebagai makanan lauk pokok masyarakat Indonesia tersebut, berbagai ibu-ibu rumah tangga sangat mengeluhkannya. Ditemui di pasar bilangan Haji Mursid Kebagusan pedagang sayur merasa kewalahan banyak yang bertanya para emak-emak katanya kebingungan setelah berkeliling ke semua sudut tidak mendapati satu pun penjual Tahu dan Tempe yang menjual makanan lauk murah-meriah masyarakat Indonesia tersebut.

“Aduuuh, pada kemana seh pedagang Tempe-Tahu ? Kok satu pun gak ada yang jualan?,” keluh Emak-emak tersebut.

Saat ditanyakan mengapa tidak mencari alternatif lain membeli makanan lauk lainnya, ibu tiga orang anak tersebut menyatakan tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan lainnya seperti telur apalagi daging Ayam dan Ikan.

Sementara itu, di tempat berbeda, pedagang sayur jalan Jagakarsa mengatakan Tempe tak ada sudah dua hari. “Pelanggan warung saya pada nanya ada tempe tahu dan kenyataannya tak ada itu barang, katanya paad demo kedele mahal,” ujarnya.

Para pedagang memang mengeluh sejak kemarin udah mulai susah pak beli tahu sama tempe di Pasar sulit bahkan para pedagang ada yang mengatakan tak ke pasar tak ada tahu tempe. Bahkan beberapa warung sayur memlih tak jualan.

 

“Iya banyak emak-emak kecewa dan ngomel gara-gara tak ada tahu sama tempe. Mereka kecewa tak ada tahu tempe,” kata pedagang sayur gerobak. Sampai kapan Tahu tempe akan hadir lagi. Jika ini dibiarkan maka kerinduan akan tahu dan tempe ini akan makin tinggi. Jadi bagaimana ini? (ATA/JAKSAT)