Waktu Tak Mengubah Apapun

0
642

Oleh: Taufan S. Chandrangara, praktisi seni

Ketika kaum filosofis menemukan bentuk komunikasi sosial, dunia bagai baru terbangun dari tidur, mengalirlah peranan kehidupan mencapai tujuan dari ambisi makhluk-hingga manusia. Mazhab berkembang dalam kumparan pertanyaan sebagaimana jawaban, ataupun sebaliknya.

Matahari sejak mazhab alam purba tetap bersinar seperti biasa, kalau ozon bolong, konon, karena ulah modern kultural dari kehidupan bernama manusia, akibat dari berbagai pola laku kimiawi atom sintetis hingga peradaban industri-polusi.

Apakah realitas itu, akan menghindari kehidupan kebudayaan atau sebaliknya, barangkali tidak untuk kedua-nya dari transcultural tengah terus bergulir, mencapai berbagai istilah temuan inteligensi manusia, dari sistem barter hingga tunai menuju dunia ke-maya-an, kini, tengah musim, marak digemari, praktis kata-nya, namum dampak analog sistematika sel-sel otak semakin bekerja lambat, akibat hanya mengurusi bidang, melihat, merekam, lantas menemukan jawaban, dalam
suatu sistem tabulasi tersedia-instan, terbuka bebas merdeka menentukan pilihan dari segudang jawaban, tanpa pola keringat merembes kepermukaan kulit di perlukan oleh metabolisme tubuh, berikut pergerakan unsur komponen organ dalam, sebagai pemicu keadaban kesehatan natural-awal mula sehat sebagaimana manusia telah dilahirkan.

Menyalalah kehendak akan, menguasai alam atas perintah manusia-merasa telah superior-immortal, seolah-olah abadi, meski sesungguhnya hanya sekadar bagaikan bara api terterpa gerimis hujan langsung mati, berkembang industrialisasi strategis, dengan berbagai fasilitas istilah, dari kita untuk dunia ataupun sebaliknya, dalam slogan aksioma peradaban ekomomi dunia perdagangan antar kehidupan nun jauh di belahan benua tak terlihat, mampu saling menyapa lewat kotak layar-14 inci,
dalam istilah social technology global culture, sebab anggapan bahwa hidup telah menyeluruh sama rasa sewarna sehati setara pendapatan perkapita, meskipun secara global, sama sekali tidak.

Karena iklim berbeda, tolok ukur kesepahaman pun berbeda-beda pula.
Menanak gandum berbeda dengan mananak nasi, meskipun kedua jenis tetumbuhan itu terlihat serupa pada kebutuhan pangan individual, kelompok atau pun organisasi pangan dunia, namun sesungguhnya tetap berbeda, tak mungkin bisa disamakan, meski ujung-ujungnya akibat ketentuan pola kebutuhan pangan tubuh, ataupun pangan rohani antar kepentingan, maka kesamaan-dari perbedaan, bisa saja disamakan, dilakukan, oleh sistem tertentu secara semena-mena, akibat tabulasi janji kekuasaan kepada sejumlah niskala kepentingan.

Eskalasi egomania dunia di ranah global, setiap detik di siklus waktu berlari, terus menerus saling tarik menarik ataupun tarik-ulur, sebagaimana pola laku modernisme kultural habitat hidup manusia, filosofi pada ranah itu telah dianggap kuna tak taktis strategis-mengejar kecepatan kedip kebutuhan hidup-manusia, sekaligus akibat ketakutan pada ketertinggalan tak mencapai etape lebih
awal, mungkin, akibat anggapan modernisme-masih mencurigai kekunaan naturalisme, apabila tetap berpegang pada prinsip hidup natural, tradisi-memetik buah dari kebun sendiri, ataupun bertani-alami bersubak-subak air bercucuran dari ketinggian keluhuran budi.

Dunia ekosistem, natural memberi pernyataan terbuka, sibaklah mata air maka suburlah tatakelola kehidupan, tak perlu metabolisme sintetis penyubur tanah sebab dunia di pijak telah lengkap berbagai kebutuhan vitamin-mineral, ada, sebagaimana telah tercipta sejak awal-Nya. Hanya memerlukan revolusi kejujuran, tanpa alibi kepentingan strategis, akibat ketakutan pada perut sendiri.

Salam damai Indonesiaku menyongsong 2021, anak-anak elang terbang tinggi, belajar kesabaran dari induknya, tapi, jangan rebut kedaulatan hidup negeriku, di sini tanah lahir beta, tanah prosa para leluhur, tanah ‘Soempah Pemuda 1928’, takkan surut langkah ‘Merah Putih’, sedetikpun, demi menjagamu, negeriku.

Jakarta Indonesia, Januari 6, 2021